
Untuk beberapa detik, Ruby menatap tidak percaya. Tangan siapa yang sedang ia pelintir saat ini.
"Mas!" pekik Ruby terkejut sambil melepaskan cengkraman tangannya.
Sebenarnya perbuatan Ruby tidak begitu sakit bagi Zen. Hanya saja, Zen harus berpura-pura kalau ia sangat kesakitan. Agar tidak ada yang berani macam-macam dengan istrinya. Terutama beberapa pemuda yang sejak tadi memperhatikan Ruby.
"Sakit sayang," sengaja sekali Zen memanggil Ruby dengan sebutan sayang, dengan suara yang lebih lantang. Agar semua orang tahu kalau Ruby miliknya. Terutama pada para bujangan di sana. Zen tidak rela jika ada seorang lelaki muda yang menaruh hati pada istrinya. Pokoknya Zen tidak akan rela.
Alan hanya cekikikan melihat Zen yang sedang akting. "Sejak dulu sampai sekarang, bos ku ini memang paling top ngedrama," gumam Alan yang sudah tidak heran dengan kelakuan Zen.
"Suruh siapa asal rangkul-rangkul Ruby. Jadi jangan salahin By kalau tangan Mas, By pelintir."
Zen bangga, itu artinya Ruby selalu sigap jika merasa dirinya terancam.
Ruby menatap penampilan Zen saat ini. Lelaki yang tadi pagi mengantarnya kuliah itu mengenakan pakaian formal lengkap seperti biasanya. Dan memamerkan jidat yang paripurna.
Tapi apa sekarang? rambut Zen sudah di tata seperti artis Korea, membuat wajah Zen terlihat lebih muda. Dan jangan lupakan kaca mata yang Zen pakai.
"Mas ngapain di sini?"
"Fashion show."
Ruby melihat sekeliling. Banyak para gadis yang sedang memperhatikan Zen dan juga Alan.
"Sumpah Mas caper ya datang kesini?" tutur Ruby. Karena merasa kesal, Ruby berjinjit mengacak-acak rambut Zen. Rambut yang semakin acak-acakan bukannya membuat Zen terlihat jelek, malah semakin membuat wajah Zen menggemaskan. Membuat para gadis yang ada disana mulai saling berbisik.
"Apa dia mahasiswa pindahan?"
"Sepertinya begitu."
"Tapi wajahnya kok kaya pernah lihat ya? Tapi di mana?"
"Tau ah lupa. Yang penting kita nikmati dulu pemandangan indah di depan mata."
Bisikan yang terdengar jelas di telinga Ruby, membuat perempuan itu semakin kesal. Sudah jelas Zen memanggilnya sayang, bisa-bisanya para gadis di sana tidak melihat keberadaan Ruby.
"Sayang ..." Zen mengejar Ruby yang berlalu.
__ADS_1
"Loh Bos. Kok aku di tinggal," pekik Alan berlarian kecil mengejar Zen dan Ruby. Alan sampai tidak berpamitan dengan para gadis yang sedang mengajaknya berbincang.
"Jangan marah sayang," Zen menarik pinggang Ruby.
"Mas ngapain ke sini?"
"Pedekate sama dosen, biar istri ku cepet di lulusin."
"Yang bener Mas."
"Seorang pemilik saham di sini ada yang ingin menjualnya. Kalau cocok, nanti akan ku beli. Lumayan sayang, buat investasi masa tua kita nanti."
"Bu bos, traktir ke kantin yuk. Laper banget aku," keluh Alan sambil menepuk perutnya.
"Heh sembarangan minta traktir istri orang."
"Mau minta traktir istri sendiri kan aku belum nikah."
"Makannya Al nikah sono nikah."
"Pengennya juga begitu,"
"Nikah memang harus di segerakan, tapi inget di mana-mana waktu subuh itu nggak ada yang sama," tutur Alan.
Ruby mengangguk. "Sepertinya subuhnya Ruby kecepatan."
Mendengar ucapan Ruby membuat Zen mendelik. Membuat Ruby dan Alan cekikikan melihat ekspresi wajah Zen saat ini.
.
.
.
Karena sudah beberapa hari bermalam di rumah Yusuf, Malam ini Ruby sengaja mengajak Zen pulang ke apartemen. Menghabiskan waktu berdua saja. Karena kalau di apartemen, mereka akan bebas melakukan apa saja dan di mana saja.
Entah berapa kali Ruby menghela nafasnya. Meyakinkan diri untuk memulai aksinya.
__ADS_1
"Belum apa-apa saja tubuh aku sudah gemetaran," Ruby melihat penampilannya sekali lagi di depan kaca.
"Ok By.Kamu harus lebih nakal sekarang," Ruby terdiam menjeda ucapannya. "Huaaa ... bisa tercoreng kebaikan Ruby selama ini," rengek Ruby menangisi diri sendiri.
"Tapi kamu harus buat suami kamu bucin sama kamu By. Ayo semangat Ruby Al Humaira," ucapnya yakin.
Ruby keluar dari kamar mandi. Melangkah pelan mendekati sang suami yang sedang fokus dengan iPad nya.
"Sedang sibuk Mas?" tanya Ruby dan langsung duduk di samping Zen.
"Nggak juga kok, ini hanya ..." ucapan Zen terhenti saat melirik Ruby dengan penampilannya yang super waw. Membuat Zen menghentikan aktivitas jarinya di layar iPad, lalu meletakkan benda elektronik itu di atas meja.
"Sayaaanggg ... kenapa pake baju seperti ini?"
"Kata Mas kemarin, By disuruh pakai baju seperti ini kalau di apartemen atau lagi berduaan di dalam kamar. Apa By ganti saja?"
Zen langsung menarik tangan Ruby hingga tubuh istrinya itu mendarat di pangkuan Zen. "Jangan ganti, aku suka lihat kamu kaya gini sayang. Semakin cantik dan se*ksi," tangan Zen sudah agresif menjelajah.
"Mas selesaikan pekerjaan Mas dulu," ucap Ruby sambil menghentikan pergerakan tangan Zen.
"Anggap saja sudah selesai."
Mana mungkin Zen melanjutkan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Lebih baik di tinggalkan dan menikmati umpan yang sudah terhidang di depan mata.
Tanpa mengulur waktu semakin lama, Zen menarik tengkuk Ruby. Menyatukan kembali bibir kenyal milik mereka berdua.
Bersambung ...
Ok bayangin sendiri apa yang mau di lakuin Ruby. Aku yang mode solehah tidak ingin menodai kalian semua 🤣 Bismillah crazy up doain aku kuat nulis 😂
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
Mas gantengnya Ruby mau lewat dulu 🤭 eh aku terserah kalian mau haluin siapa karakter Zen ini. Kalau aku jujur memang dari awal karakter Zen terinspirasi dari visual kesayangan aku ini 🤗🤗🤭❤️🥰
__ADS_1
Ruby ini memang rada susah nyari picture yang pake jilbab 😌🤭