
Ruby langsung bergegas keluar dari mobil setelah mereka sampai di depan rumahnya. Ruby sudah tidak tahu lagi bagaimana keadaan orang tuanya sekarang, setelah mendengar cerita dari Queen perihal kejadian tadi malam.
"Assalamualaikum, Ayah... Bunda... Ruby pulang," Ruby lari memasuki rumah.
"Waalaikumsalam ...," gumam Arjuno dan Zantisya bersamaan. Yakin yang mengucap salam itu adalah suara anak gadis mereka, tentu saja Arjuno dan Zantisya langsung bergegas ke depan.
"Bunda, Ayah." Ruby langsung menghambur ke pelukan Zantisya.
Keduanya sama-sama menangis. Jika Ruby menangis karena takut di marahi kedua orang tuanya, karena sudah tidur dengan lelaki yang tidak dia kenal. Berbeda dengan Zantisya yang menangis karena sangat bersyukur anaknya telah pulang ke rumah.
Rasa khawatir, lelah, panik, dan rasa yang bercampur di dalam diri Arjuno, kini mulai sedikit pudar setelah melihat anaknya pulang ke rumah. Tapi tidak dapat di pungkiri kalau perasaan Arjuno masih was-was, takut terjadi hal yang tidak di inginkan. Apa lagi sekarang Ruby menangis dalam dekapan sang istri.
Zantisya merenggangkan dekapannya, mengusap wajah Ruby yang sudah sembab. "Ruby kemana semalam nak? Semua orang cari Ruby. Ayah semalam nggak pulang cariin By, Bunda juga semalaman tunggu By di rumah? Tapi By nggak pulang-pulang, Bunda khawatir sayang."
Ruby tidak bisa menjawab, bagaimana mungkin dia akan bicara, kalau ia tertidur dan salah masuk kamar.
Arjuno langsung mendekap anaknya saat melihat sorot mata Ruby yang takut. "Sudah. Ceritakan nanti saat By merasa tenang dan siap." Arjuno langsung menoleh saat Queen dan Divya masuk ke dalam rumah.
***
"Ayo dek keluar," ajak Reina.
__ADS_1
Zen masih tetap diam tidak menanggapi ajakan Reina. Yang ada di otak Zen saat ini adalah Ruby dan perasaannya sendiri. Apakah semua akan hancur begitu saja hanya karena kejadian satu malam yang tidak terjadi apa-apa.
"Nanti akan kakak bantu bicara, ayo." Reina kembali memasukkan sebagian tubuhnya untuk menarik Zen, agar cepat keluar dari dalam mobil.
Zen menurut pasrah dengan wajah yang di tekuk dalam. Mengikuti langkah kaki Reina dan Hendri tanpa memperhatikan sekitar. Zen seolah sedang menghitung langkah kakinya yang terasa berat.
"Selamat pagi pak, maaf pagi-pagi kami sudah datang kesini ramai-ramai." Ucap Hendri yang masuk lebih dulu.
"Tidak apa-apa pak Hendri, justru saya berterimakasih pada bapak dan keluarga karena telah membantu dan menemukan anak kami. Mari silahkan duduk," ucap Arjuno.
Hendri bergegas menuju sofa karena semua orang sudah berada di sana. Arjuno kembali menoleh saat mendengar langkah kaki memasuki rumah.
"Kenapa bocah tengil itu ikut kesini?" batin Arjuno saat melihat Reina menarik tangan Zen yang menunduk pasrah.
Kini semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Arjuno duduk satu sofa bersama Arfan yang sedang memeluk Ruby dan juga Zantisya. Safir duduk seorang diri, Queen bersama dengan Divya. Sedangkan Zen duduk di antara Reina dan Hendri.
"Kedatangan kami kesini berniat untuk mengantarkan Maira pulang, sekaligus menjelaskan sesuatu yang sangat penting kepada keluarga pak Arjuno."
Mendengar Hendri menyebut nama Arjuno, spontan saja Zen langsung mengangkat wajahnya. Zen di buat tidak percaya jika ternyata dirinya sedang berada di dalam rumah Arjuno.
Zen dengan cepat mengedarkan pandangannya, melihat Zantisya yang sedang memeluk Maira dan bocah kecil yang memeluk Maira. Zen menatap Safir, lelaki muda yang sangat mirip dengan Maira.
__ADS_1
Deg ...
"Jangan-jangan Maira itu ..." batin Zen.
Tatapan Zen sudah terpaku pada gadis cantik yang semalam menjadi bantal gulingnya. Jantung Zen sudah bertalu-talu seolah ingin lari cepat sambil meneriakkan nama Ruby, gadis yang niatnya akan ia temui secepat mungkin. Senyum Zen sedikit tertarik dari sudut bibirnya. Ke dua mata Zen sampai tidak berkedip menatap gadis yang sudah sangat yakin, itu adalah Ruby. Nafas Zen sudah tercekat di dada karena tidak menyangka jika saat ini, ia sudah melihat Ruby. Gadis kecil yang membuatnya terpaku tidak bisa menatap perempuan lain di luar sana.
"Ruby ku ..." Teriak Zen di dalam hati.
"Jadi bagaimana pak Hendri?" Arjuno melirik Zen yang sedang menatap anaknya. Oh ... rasanya Arjuno sudah ingin menculek ke dua mata Zen yang tidak berkedip menatap Ruby. Tapi situasi tidak mendukung.
"Maira ternyata tidak Hilang pak Arjuno. Dia tenyata tidur di salah satu kamar kosong yang ada di rumah kami."
"Alhamdulillah ..." ucap Arjuno dan Zantisya. Kelegaan tiba-tiba menjalar begitu saja. Itu artinya anak mereka dalam ke adaan aman.
"Tapi ..."
Arjuno langsung menatap Hendri serius. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak saja.
Bersambung ...
Yes, Tom and Jerry come back 🤣🤣🤣
__ADS_1
Lanjut nanti malem kalo keburu nulis lagi🤭🙏 Yang punya apk F**zo mampir kesana ya🤭 judul (KETIKA HATI TELAH TERBAGI)
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️