
Sesuai dengan ajaran Zen, Ruby bergerak amatiran. Perempuan itu hanya mengikuti nalurinya sendiri.
"Oh By," Zen di buat kelimpungan menikmati momen malam ini. Des*ah nafasnya lolos begitu saja akibat dari pergerakan yang Ruby suguhkan.
Ruby tersenyum samar saat Zen mendes*ah dan memanggil namanya. Meskipun lututnya mulai terasa lelah, tapi semangat Ruby semakin berkobar jika seperti ini. Bergerak cepat dan semakin kuat, membuat suara desa*h Ruby dan Zen juga semakin tak terkendali.
Zen tersenyum melihat Ruby yang merem melek. Tangan Zen mere*mas gemas dua daging yang bergerak cepat naik turun. Desa*han Ruby semakin menjadi saat Zen memelintir dua ujung benda mungil itu.
Zen yang gemas melihat dua benda mungil yang tidak mau berhenti bergerak, lelaki itu langsung bangun membuat posisi mereka sekarang duduk.
Ruby terkejut dengan pergerakan cepat Zen, membuat perempuan itu berhenti beraktivitas saat Zen melahap secara rakus dan mere*mas kuat.
Ruby hanya bisa mencondongkan tubuhnya kebelakang dengan kedua tangan menahan tubuh agar tidak terjatuh.
"Gerak By," ucap Zen singkat, kemudian kembali melahap bagian yang satunya. Sedangkan kedua tangan Zen kembali menuntun tubuh Ruby, bagaimana cara bertingkah di posisi ini.
"Ma-mas ..."
Desa*h nafas Ruby kembali terdengar saat tubuhnya bergerak pada posisi saat ini. Ruby benar-benar mendapatkan banyak pengalaman ilmu yang sungguh mengga*irahkan.
Suara Ruby sangat sulit di kendalikan karena merasakan titik sensitifnya di mainkan Zen secara bersamaan.
"Mas, aku nggak kuat lagi," rintih Ruby keenakan.
Zen tahu Ruby sudah akan mencapai batas maksimal lagi. Zen langsung merebahkan tubuh Ruby dan langsung bergerak super aktif setelah mengendalikan Ruby di bawah kuasa Zen.
"Kuat sekali Mas," ungkap Ruby saat merasakan pergerakan Zen yang cepat dan melesak semakin dalam.
__ADS_1
Entah itu sebuah pujian atau sebuah keluhan, Zen tidak tahu. Karena yang di pikirkan Zen saat ini adalah mereka sampai pada puncak secara bersamaan.
"Masss ..."
"Oh Ruby ku ..."
Zen langsung menimpa tubuh Ruby setelah berhasil mengeluarkan sesuatu ke tempat yang benar.
Tubuh Ruby rasanya kembali menegang dan bergetar hebat merasakan puncak dengan cara yang berbeda.
Mereka sangat menikmati penyatuan inti tubuh mereka setelah sampai pada titik kenikm*atan. Merasakan bagaimana enaknya rasa cenat cenut yang di suguhkan.
Nafas Zen dan Ruby masih tersengal-sengal. detak jantung mereka masih berdetak cepat. Tubuh mereka terkapar lemas tak berdaya.
Ruby terus mengusap punggung Zen yang sudah banyak menghasilkan buliran keringat. Padahal tubuh Zen besar, sekalipun terasa berat tapi entah kenapa di timpa dengan cara seperti ini tidaklah membuat beban di tubuh Ruby.
"Kenapa kulit kamu tetap wangi, beraroma manis lagi By, padahal sudah banyak keringat yang kita hasilkan," ucap Zen pelan sambil menghirup kulit tubuh lembab Ruby.
"Mas suka?"
"Suka banget."
"Kalau Mas suka, berarti Mas harus siap membelikan lulur yang aku pakai."
Zen terkekeh geli. Sungguh di luar perkiraan Jawaban Ruby. Padahal Zen tadi mengira, Ruby akan rajin menggunakan lulur karena Zen suka. Ternyata di tuntut untuk membelikan lulur.
"Eh tapi aku tadi belinya pakai kartu ajaibnya Mas deng," ucap Ruby saat mengingat transaksinya.
__ADS_1
"Kamu pakai itu sepuas mu, By," Zen mengangkat wajahnya lalu mendaratkan kecupan di kening Ruby, hidung, dan juga bibir Ruby. "Terimakasih untuk malam yang begitu indah ini."
Kedua tangan Ruby menyentuh pipi Zen. "By minta maaf karena baru sekarang menyerahkan diri Ruby ke suami By yang sudah Om Om ini," Ruby memainkan wajah Zen dengan rasa gemasnya.
"Biar sudah Om Om, yang penting adalah jiwa muda dan Perka*sa," Zen mengedipkan satu matanya menggoda Ruby. "Sampai bikin kamu mende*sah kuat dan terkapar lemas," ucap Zen tanpa filter sambil menarik turunkan kedua alisnya.
"Mas apaan sih," Ruby memukul Zen pelan, sedangkan wajahnya semakin merah merona.
"Mau mencoba lagi?" ucap Zen sambil bergerak memutar pinggangnya. Sengaja menggoda Ruby kembali, apalagi inti tubuh mereka belum terpisahkan.
"Yang benar saja Mas?" tanya Ruby tidak percaya.
Zen menggulingkan tubuhnya ke samping, lalu membawa Ruby ke dalam pelukan Zen. Kaki Zen bergerak meraih selimut, lalu menutupi tubuh tanpa benang mereka berdua.
Sekalipun Zen masih ingin melakukannya lagi, tapi Zen tidak boleh egois saat ini.
Zen menyatukan jari jemarinya dengan jari Ruby. Zen kemudian mengecup tangan Ruby yang tersemat cincin lamarannya.
"Bunda atau Nda yang kasih tau By soal cincin ini?"
"Nda. Itu juga karena By tanya langsung perihal album foto yang Mas simpan."
"Album foto apa? Kamu nemu di mana By?"
"Ya nemu di kamar Mas lah. Album yang ada tulisan my love. Bisa-bisanya Mas cium aku yang masih bayi."
"Hah!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️