Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 96 TELUR JADI-JADIAN


__ADS_3

"Healing ahhh ... Siapa tahu ketemu cewek cantik nganggur, terus bisa di jadikan istri," gumam Alan sambil berganti pakaian. "Lelah juga setiap hari di suruh nikah terus sama Pak Bos."


Alan menyemprotkan parfum agar tubuhnya tercium wangi. Melihat kembali penampilannya yang sudah terlihat tampan.


Bergegas Alan keluar dari rumah dan langsung mengemudikan mobilnya.


Setengah jam kemudian, mobil Alan sudah sampai di basemen mall terbesar di kota metropolitan. Alan keluar dari mobil dan langsung menuju lift.


Karena Alan belum makan malam. Alan memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Alan celingukan melihat sekitar area restoran, setelah memesan menu. Restoran nampak ramai pengunjung.


"Hyuuuhhh, ngenes juga ternyata makan nggak ada pasangannya," gumam hati Alan mulai galau. "Nggak punya pasangan, minimal temen lah. Biar nggak jones-jones amat."


Begitu menu pesanan Alan sudah datang, Alan segera menikmati makan malamnya. Perut juga harus kenyang untuk menghadapi kenyataan hidupnya yang mengenaskan dalam hal percintaan.


Setelah membayar tagihan, Alan segera meninggalkan restoran. Lelaki itu melangkah santai sambil melihat kesana kemari.


"Apa di gedung mall ini hanya aku sendiri yang jones? Biasanya mah bisa ngajakin Pak Bos," duuuhhhh hati Alan semakin galau sendiri.


Karena bingung ingin melakukan apa. Akhirnya akan memutusakan untuk membeli pakaian saja.


"Dari pada duit nganggur, mending buat shopping aja," Alan mulai memilih baju yang sekiranya sesuai dengan gayanya.


"Al."


Alan menoleh kebelakang saat mendengar suara yang terdengar familiar.


"Eh Bil," Alan terkejut melihat Nabila yang sudah ada di depannya. "Ngapian kamu disini?" tanya Alan heran. Karena ini tempat khusus pakaian laki-laki.


"Nemenin dokter Arif belanja."


Alan melihat arah tunjuk Nabila. Tatapan Alan dan lelaki yang bernama Arif bertemu. Membuat mereka saling mengangguk ramah.


"Pacar?" tanya Alan singkat.


"Ck. Hanya teman kerja. Dia salah satu dokter di rumah sakit kita. Perasaan kita pernah sekali meeting dengan para dokter. Kamu lupa?"


Alan tersenyum canggung. "Terlalu banyak kerjaan jadi aku nggak mudah menghafal nama-nama dokter. Lagi pula itu di bawah tanggung jawab mu. Aku nggak harus mengenal semua dokter kan?"

__ADS_1


Nabila mengangguk. "Iya kamu benar."


"Ya sudah ya, have fun. Aku mau ke kasir dulu."


Alan meninggalkan Nabila begitu saja tanpa menunggu tanggapan. Membawa beberapa pakaian yang Akan ambil secara asal. Entah kenapa tiba-tiba mood Alan jadi rusak.


"Lah itu orang kenapa?" gumam Nabila menatap heran punggung alan yang terus menjauh.


.


.


.


"Memangnya ada pekerjaan kantor yang bisa By lakukan?"


"Tentu saja ada," Zen tersenyum melihat wajah serius Ruby.


"Pekerjaan apa Mas?"


"Nanti kamu juga akan tahu sayang, kalau sudah berada di kantor."


Zen terkekeh geli. "Yang pasti akan buat badan kamu basah."


"Pekerjaan apa yang bikin badan basah Mas?" wajah polos Ruby sepertinya belum bisa membaca gelagat sang suami.


"Sudah. Nanti juga kamu tahu yang," Zen tidak ingin meneruskan pembahasan. Mengingat dirinya merasa masih harus puasa begituan. "Tapi apa kamu punya opsi lain?"


"Jadi model lagi boleh nggak?" Ruby sengaja tidak membuat sebuah pilihan, karena ingin melihat ekspresi wajah Zen saja.


Tangan Zen yang sejak tadi menjalar kemana-mana seketika berhenti. "Apa hanya itu? Tidak ada pilihan lain?"


Ruby menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak masalah sayang. Asal itu buat kamu senang. Tapi ..."


Ruby melihat raut wajah Zen yang sepertinya tidak setuju. "Tapi By lebih suka habisin uang Mas saja. Ngapain juga By harus susah-susah kerja," tutur Ruby memotong ucapan Zen.

__ADS_1


"Aku bukannya nggak dukung apa yang ingin sayang lakukan. Hanya saja, pekerjaan model itu terlalu banyak berinteraksi dengan orang banyak. Mending kalau hanya perempuan saja tapi banyak lelaki juga. Aku nggak suka jika ada yang lihatin istri aku."


Ruby tertawa mendengar ucapan Zen yang begitu posesif. Ruby bangun dan langsung menarik pipi Zen.


"Dasar Bucin," Ruby beranjak lebih dulu.


Malam sudah semakin larut. Zen dan Ruby sudah lelap di buai mimpi.


Kedua mata Ruby langsung terbuka. Perempuan itu melihat suaminya yang masih lelap. Ruby menatap jam, sudah pukul 02.30 WIB. Ruby menyingkirkan tangan Zen dari atas perutnya secara perlahan.


Ruby keluar kamar karena perutnya terasa lapar. Begitu sampai di dapur, Ruby bingung mau makan apa. Karena masakan yang di bawakan Nissa sudah habis mereka makan.


"Makan apa ya?" gumam Ruby sambil mengusap perutnya.


"Oh iya, waktu itu kan Nda bawain mie instan."


Ruby mengambil mie rebus instan. Lalu mengambil panci kecil dan di isi air secukupnya. Setelah itu Ruby menghidupkan kompor.


"Ada telur nggak ya?" gumam Ruby sambil mencari sebutir telur yang bisa ia temukan.


Karena Ruby tidak menemukan apa-apa, akhirnya perempuan itu membuka lemari pendingin. "Nah ini telur, tinggal satu-satunya," gumam Ruby senang saat melihat wujud telur di rak pintu lemari pendingin.


Ruby mengambil sesuatu yang berbentuk telur. "Aaaa ..." Ruby melempar sesuatu yang ia kita tadi telur. Perempuan itu lagi karena sangking takutnya. Apalagi keadaan ruang dapur tidak begitu terang. Karena Ruby hanya menggunakan lampu yang ada di kitchen set saja. Membuat penglihatan Ruby menjadi samar-samar. "Maaasss ..." Ruby menghambur ke gendongan Zen.


Karena terbangun dan merasa kehilangan istri. Akhirnya Zen keluar kamar untuk mencari istrinya. "Kenapa sayang?" tanya Zen terkejut karena Ruby melompat ke gendongannya.


"Itu Mas, ada telur jadi-jadian."


"Telur jadi-jadian?"


"Iya Mas. Telurnya berbulu, By takut."


"Hah!" Zen sudah bingung karena Ruby mengatakan telur jadi-jadian, dan sekarang Ruby mengatakan telurnya berbulu.


Telur seperti apa? Seumur hidup, Zen tidak menemukan telur yang ada bulunya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2