
Tak lama gadis cantik yang nampak nyaman tidur di atas ranjang itu, pelan-pelan gadis berbulu mata lentik itu mulai mengerjapkan kedua matanya. Menggeliatkan tubuhnya agar lebih terasa renggang. Sambil menghirup wangi ruangan yang sangat menenangkan.
Wangi yang sangat menenangkan. Seketika ke dua mata Ruby terbuka lebar dan langsung bangun dari posisi tidurnya yang nyaman.
"Wangi ini kan wanginya kamar Om Zen," gumam Ruby. Mengingat wangi yang sama seperti kejadian malam itu, yang membuatnya menikah secepat ini. Ruby celingukan kesana kemarin, menelisik setiap sudut ruangan.
"Jangan-jangan aku di culik," Ruby yang baru ingat kalau dirinya baru saja terbangun. Gadis itu langsung memeriksa pakaiannya sendiri.
"Alhamdulillah, aku nggak di apa-apain," gumamnya merasa lega. "Eh, tapi kenapa aku harus khawatir. Kan Om Zen g*ay. Mana mungkin dia mau ngapa-ngapain aku," gumam Ruby penuh percaya diri dengan penilaiannya sendiri.
Klek ...
Ruby langsung menoleh mengikuti sumber suara pintu . Tak lama kemudian, nampak sosok Zen dengan tubuh segarnya setelah membersihkan diri.
"Sudah bangun?" tanya Zen sambil mendekati ranjang.
"O-om ngapian kesini?" tanya Ruby gugup sambil memalingkan wajahnya. Entah sengaja atau bagaimana, saat ini Zen hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Memamerkan keindahan tubuhnya yang sangat enak di pandang mata. Astagfirullah ...
"Dekati istri ku yang masih bocil," jawab Zen santai sambil mengusap-usap rambutnya yang masih basah menggunakan handuk. Kemudian duduk di tepi ranjang.
"Ya tapi Om belum pakai baju. Sana awas," usir Ruby sambil mengibaskan tangannya, berharap Zen bergegas beranjak.
Zen mengulas sebuah senyuman kecil. "Artinya kalau aku sudah menggunakan pakaian lengkap, boleh dong aku dekati kamu By."
"Ya nggak begitu juga," ucap Ruby mulai merasa tidak aman. "Tapi kenapa Om bawa aku kemana ini? Om culik aku ya?" todong Ruby tetap memunggungi Zen.
__ADS_1
"Kita di rumah Ayah dan Nda, mertua mu, By. Aku tadi sudah bilang Ayah sama Bunda kalau kamu aku bawa pulang kesini. Walau tanpa izin pun aku berhak melakukan ini."
Ruby langsung menatap Zen. "Mana boleh asal bawa anak gadis orang."
"Jangan lupa anak gadis, kamu istri ku," ungkap Zen menatap dalam ke dua mata Ruby. Tak lama, Zen memberikan senyuman pada Ruby. "Mandilah, sebentar lagi magrib. Aku mau ke masjid dengan Ayah." Zen langsung beranjak menuju lemari.
"Terus aku mau ganti pakai apa Om?"
"Nggak usah ganti."
"Jadi maksudnya, aku di suruh pake baju seragam?"
"Nggak usah pakai baju saja."
Ke dua mata Ruby langsung melebar, tidak percaya dengan ucapan Zen barusan. "Om mesuuummm ..."
Ruby mengangguk, kemudian ia kembali memalingkan wajah. Baru sadar kalau sejak tadi ia melihat Zen. "Ya sudah cepat ganti om, lalu ke masjid."
Zen menahan tawanya. Suara gugup Ruby, menunjukkan kalau ia sedang malu. Zen bergegas menggunakan pakaian lengkap, agar segera ke masjid. Zen yakin Ayahnya pasti sudah menunggunya di bawah.
***
"Aku harus apa di rumah mertua?" gumam Ruby.
Setelah membersihkan diri dan menjalankan kewajibannya, Ruby ingin sekali keluar dari kamar Zen. Rasanya sangat aneh, saat Ruby berada di dalam ruangan pribadi Zen seperti ini. Meskipun sudah jelas, Ruby adalah istri Zen.
__ADS_1
Tidak ingin kalut dengan kebimbangannya sendiri, akhirnya Ruby keluar kamar. Melangkah yakin untuk segera turun dari lantai atas.
Sesampainya di lantai bawah, Ruby masih tetap celingukan mencari penghuni rumah ini.
"By ..."
"Oma. Eh maksudnya Nda ..." Ruby sampai tergagap sendiri, bagaimana caranya memanggil Nissa.
Nissa tersenyum melihat anak mantunya yang gugup. "Ayo sini, baru juga Nda mau panggil By di atas," Ruby langsung menyalami Nissa, mencium punggung tangan mertuanya yang masih jelas nampak cantik. Nissa langsung mendaratkan ciuman di pipi Ruby, dengan rasa sayang.
"Rasanya seperti di cium Bunda," Batin Ruby.
"Ayo kita tunggu di ruang makan, sebentar lagi suami sama ayah By pasti pulang," Nissa langsung menggandeng Ruby. "Duduk, By."
"Walah ini tah istrinya Mas Zen. Cantik ya Bu," puji Bibi, Art sekaligus yang menjaga rumah ini, selama Yusuf dan Nissa tinggal di Jakarta.
Ruby tersenyum ramah lalu menyambut uluran tangan Bibi, untuk bersalaman.
"Zen memang pintar pilih istri kan Bi."
"Setuju Bu."
"Hah! Pilih istri dari mana? Nikah juga karena nggak sengaja tidur bersama," batin Ruby ingin mengungkap sebuah fakta.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️