
Acara pernikahan memang di langsungkan dengan sangat sederhana. Setelah Ruby di bawa turun, tentu saja satu persatu keluarga Yusuf mendekati Zen dan Ruby untuk memberikan ucapan selamat.
Sampai waktu sudah semakin larut, setelah seluruh keluarga Yusuf sudah pulang. Semua orang yang ada di rumah Arjuno pun sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.
Tentu saja pengantin baru itu tidak tidur satu kamar. Karena kini Zen, tidur di kamar tamu.
"Indahnya pengantin baru," gumam Zen sambil memeluk guling. "Meskipun nggak begituan, setidaknya tidur sambil pelukan kan enak," Zen menghela nafasnya. "Ini mah nggak dapet semuanya. Apes-apes," Zen kembali hanyut dengan pikirannya sendiri, bagaimana caranya ia akan mendapatkan hati Ruby.
Sedangkan Ruby, sejak tadi yang di lakukan gadis cantik itu, hanyalah menggenggam ponselnya. Mencari tahu segala informasi tentang Zayn Dzuhairi Sucipto, suaminya.
"Apa Om itu orang yang seperti ini?" tanya Ruby menggumam. "Yang benar saja dia lelaki seperti itu?" Ruby masih belum percaya saat menemukan banyak artikel mengenai Zen. Begitu banyak gosip yang beredar luas dan menyebutkan bahwa, Zen ada seorang g*ay. Dan gosip lainnya menyebutkan bahwa Zen adalah seorang casanova, karena seringnya tertangkap basah keluar masuk sebuah klub malam.
"Apa Ayah dan Bunda tahu tentang hal ini?" gumam Ruby. Gadis cantik itu masih terus membaca tentang hal negatif yang terkait dengan Zen.
"Apa ini bisa di gunakan untuk memintanya menceraikan aku?" Ruby mulai berpikir kemana-mana. "Kalau dia seorang g*ay, sudah pasti malam itu dia nggak ngapa-ngapain aku kan? Mana mungkin dia tertarik dengan ku?" gumam Ruby lagi, karena terlalu banyak membaca artikel mengenai Zen seorang g*ay.
Entah sampai jam berapa Ruby mencari informasi tentang Zen. Hingga tanpa terasa, Ruby tertidur dengan sendirinya.
.
.
.
"Morning Bun," sapa Zen yang baru saja memasuki dapur. Di sana ada Art dan juga Zantisya yang sedang menyiapkan menu untuk sarapan.
"Morning ..."
"Zen bisa bantu apa Bun?" tanyanya sambil celingukan.
__ADS_1
Justru Zantisya terkekeh mendengar pertanyaan Zen. "Sudah sana, istirahat atau olahraga saja. Biar Bunda dan Bibi yang memasak."
"Zen ini multifungsi loh Bun, Perkara memasak, itu hal yang sangat mudah," ungkap Zen membanggakan diri.
"Zen ingin tahu soal apa mengenai Ruby?" tanya Zantisya yang tahu maksud terselubung Zen datang ke dapur. "Sekalian bersihkan kentangnya, kan multifungsi."
Zen cengengesan karena alibinya ketebak dengan sangat mudah. "Bunda tau saja maksud Zen."
Zantisya melanjutkan aktifitasnya agar segera selesai. "Zen nggak perlu bingung menghadapi Ruby. By itu anak yang sangat mudah dekat dengan siapapun, dia mudah akrab dengan orang lain, orang baru sekalipun. Zen hanya perlu mendekatinya sebagai teman. Bunda yakin, Zen akan sangat mudah mendapatkan perhatian Ruby. Mungkin harus sedikit sabar, karena kalian juga menikah dengan cara yang tak terduga."
"Cara tak terduga yang sangat luar biasa karena Zen dapat Ruby lebih awal."
Zantisya langsung menatap Zen serius. "Tapi Zen benar tidak ngapa-ngapain Ruby kan?"
"Ya nggak lah Bun, menyesal rasanya," ucap Zen lesu.
Belum sempat menanggapi Zantisya, Zen melihat kedatangan Arjuno.
"Ngapain kamu di sini?"
"Pedekate Yah," jawab Zen asal.
"Pedekate sama siapa kamu?"
"Sama bunda mertua lah, biar dapet informasi aktual dan akurat. Kalau pedekate sama ayah mertua, yang ada Zen nggak dapat informasi sebenarnya."
"Pedekate kok pake perantara, nggak gentle banget," cibir Arjuno.
"Ayah nantang Zen nih?"
__ADS_1
"Iyalah."
"Ok. Siapa takut! Kira-kira jam segini Ruby masih ngapain ya?" Zen melihat jam dinding yang ada di dapur. "Pasti lagi siap-siap buat berangkat ke sekolah," Zen menatap Arjuno.
Tentu saja Arjuno yang lebih senior bisa menjlaj apa yang ada di pikiran Zen saat ini.
"Heh bocah, mau ke mana kamu?" pekik Arjuno saat Zen beranjak dari dapur.
"Pedekate ke istri lah. Ruby... i'm coming, honey ..." Sengaja Zen meninggikan suaranya agar Arjuno mendengarnya.
"ZEEENNN ..."
Zantisya langsung menahan tangan Arjuno, yang berniat mengejar Zen untuk tidak mengganggu anaknya.
"Biarkan Mas."
"Nanti anak kita di apa-apain, Dek," mode posesif Arjuno begitu kental terhadap anak perempuannya.
"Selama By nggak di siksa, biarkan saja Mas. Ruby istri Zen sekarang."
"Tapi ..."
"Aku yakin Mas, Zen tahu yang terbaik untuk Ruby. Biarkan dia mendekati Ruby dengan caranya sendiri."
Bersambung ...
Sekedar informasi, novel ini bukan novel religi yaπ takutnya aku oleng dan buat kalian salah berekspresi π€π tapi juga nggak berani nakal nakal jari aku, soalnya Ruby masih bocil π£π£ππ€£ dah itu aja informasinya. Doakan aku tetap jadi othor solehah yang tidak akan pernah tersesat lagiπππ
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1