Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 92 BUKAN CIRI-CIRI ISTRI KU KAN?


__ADS_3

"Terimakasih ya By, Mbak Nina, sudah antar aku pulang ke rumah."


"Sama-sama Kak."


Setelah Tiara keluar dari mobil, Ruby juga ikut keluar lalu pindah duduk di kursi samping kemudi.


"Ibu kenapa pindah ke depan?"


Meskipun sudah kebiasaan Ruby, tapi Nina tetap merasa sungkan jika Ruby duduk di samping kemudi.


"Huuufffttt ..." Ruby menghela nafasnya. "Mbak By ini jauh lebih muda dari Mbak loh. Panggil By saja kalau sedang berdua seperti ini. Kita berteman Mbak," tutur Ruby pada perempuan yang usianya sudah lebih dari 30 tahun.


"Jadi Ibu nggak mau di panggil Ibu nih?" tanya Nina sambil kembali melajukan mobilnya.


Ruby mengangguk cepat. "Biar lebih enak kita ngobrolnya Mbak."


"Baiklah kalau begitu mulai sekarang saya panggilnya nggak usah pake awalan Ibu lagi," Nina melihat Ruby sekilas yang kini sedang mengacungkan jempolnya. "Padahal di luar sana ada banyak perempuan yang ingin di panggil Ibu loh. Sekalipun jadi Ibu yang masih muda. Apalagi kalau jadi Ibu Zen. Siapa coba yang bisa menolak."


Mendengar penuturan Nina membuat kedua mata Ruby membulat.


"Jadi mau di panggil nama langsung atau ..."


Ruby segera memotong ucapan Nina. "Panggil Ibu Ruby atau Ibu Zen sepertinya bagus juga Mbak, By suka."


Nina jadi terkekeh geli sendiri melihat wajah kesal Ruby saat ini.


"Nggak ada perempuan di luar sana yang bisa di panggil Ibu Zen, karena itu hanya panggilan untuk Ruby aja," gerutu Ruby. Tentu saja Nina hanya terkekeh geli melihat Ruby yang ngedumel sendiri.


"Ketemu di mana sih Pak Zen sama gadis model Ruby begini? Jadi pengen nyulik, ku jadikan adik," batin Nina.


"Ibu mau pulang ke rumah, ke apartemen, atau ke kantor saja?"


"Terserah Mbak lah mau antar By kemana. By manut."

__ADS_1


"Ahaaa..." ide cemerlang datang tiba-tiba. "Menyenangkan hati Pak Bos saja lah, siap tau dapat tambahan bonus. Lumayan buat nyenengin bocil," gumam Nina dalam hati.


"Tapi ngomong-ngomong nih ya Mbak. Maaf kalau menyinggung, Mbak kan lulusan S2. Memangnya sesusah itu ya Mbak cari pekerjaan, kok Mbak hanya jadi sopir saja sih? Memangnya Mbak nggak sayang sama ilmu yang udah mbak dapat selama kuliah?"


Nina tentu terkekeh melihat wajah polos Ruby saat ini. Nina yang sebenarnya menjadi kepala divisi vidio editing, tentu sangat berpengaruh dan orang yang sangat penting di dalam perusahaan. Karena semua hasil video yang sudah di edit sedemikian rupa agar lebih menarik, harus melewati tanda tangannya agar bisa lulus tayang untuk di saksikan pemirsa di luar sana.


Nina menerima tawaran Zen karena uang yang di dapat sekali menjemput Ruby sangatlah menggiurkan. Zen sendiri memilih Nina karena Nina salah satu orang terpenting di perusahaan yang memang dapat Zen percaya.


"Lumayan susah-susah gampang sih Bu. Tapi saya memilih menjadi sopir karena gajinya bisa membuat siapapun iri."


Ruby mengangguk. "Berarti orang-orang yang bekerja menjadi sopir di luar sana sangat sejahtera ya Mbak."


"Semua akan sejahtera kalau menjadi sopir Ibu Ruby, dan Bos nya pak Zen."


Baru saja Ruby mau mengajukan pertanyaan lagi. Tapi mata Ruby menatap heran area mobil yang ia tumpangi saat ini, berada di basemen.


"Ini kita di mana Mbak?"


Ruby ikut keluar saat Nina keluar dari mobil lebih dulu. "Kantor Mas Zen?"


"Ya iyalah Bu, kantor Pak Zen. Mau kantor siapa lagi?"


"Kenapa Mbak bawa By kesini!" pekik Ruby. Entah kenapa, tiba-tiba saja Ruby merasa serem sendiri.


"Ibu sendiri tadi yang bilang terserah mau di antar kemana. Jadi saya bawa kesini saja."


Ruby mengikuti langkah kaki Nina. "Tapi kenapa harus ke kantor Mbak," protes Ruby karena pikirannya sudah kemana-mana. Belum siap juga bertemu Zen lagi, apalagi mengingat kelakuannya tadi malam.


"Karena saya mau mencari bonus yang lebih besar lagi," jawab Nina sambil terkekeh geli.


"Mbak Nina bener-bener jerumusin Ruby," ucapnya pasrah.


.

__ADS_1


.


.


"Jadi yang mana bagusnya cincinnya Om?" Vian kembali mengarahkan ponselnya menjadi kamera belakang, agar Zen bisa melihat dengan jelas bentuk dua cincin yang ada di sana.


Tok ... tok ... tok ...


"Masuk ..." ucap Zen.


Zen seketika tersenyum saat melihat Ruby lah yang kini masuk kedalam ruang kerjanya.


"Jika gadis itu cantik, mungil, pintar, solehah, sederhana, dan pekerja keras," tatapan Zen lekat kearah Ruby yang semakin mendekat. "Pilihan cincin yang tidak mencolok dengan pernak pernik berlian. Gadis seperti itu sangat menyukai sesuatu yang nampak sederhana namun hal itu sangat berharga."


Zen mengulurkan tangannya saat Ruby mengajak bersalaman. Zen mencium punggung tangan Ruby setelah istrinya itu mencium punggung tangannya.


"Lepas Mas," isyarat Ruby hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara. Karena Zen masih betah menggenggam tangannya.


"Ciri-ciri tadi bukan ciri-ciri istri ku kan?" batin Zen saat menyadari ucapannya yang spontan saja karena melihat Ruby.


"Om benar, gadis seperti itu memang lebih cocok dengan hal yang simpel namun tetap indah. Vian pilih yang sebelah kanan Om. Bagaimana?"


Zen kembali melihat layar ponselnya. "Benar, Om juga sejak awal suka cincin yang itu."


"Terimakasih ya Om."


"Semoga cincin itu di terima oleh gadis pujaan hati mu, Vian."


"Aamiin."


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2