Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 82 MAS BUCIN


__ADS_3

Sudah tidak ada lagi yang ingin Ruby permasalahkan tentang kabar berita di luar sana. Ruby membulatkan tekatnya menerima Zen sebagai suaminya, di saat Ruby menyerahkan diri pada lelaki yang sangat mencintai. Tanpa ada keraguan sedikitpun, Ruby ingin semuanya di mulai dari awal.


Seperti yang pernah di katakan Bunda dan juga Nda nya. Hubungan suami istri harus ada saling terbuka dan juga saling percaya. Tanpa menutupi apapun dari dari pasangan hidup. Maka Ruby memilih percaya dengan suaminya.


"Kamu nggak salah paham kan sayang? Mengenai gosip yang dulu, malam itu ada aku dan juga Alan. Kami bertiga bertemu. Tidak hanya aku dan Nab ... Byyy ...," tangan Zen menekan kepala Ruby, saat istri kecil Zen itu menghentikan ucapan Zen, karena dengan beraninya Ruby menyesap leher Zen. Menimbulkan rasa glenyeran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh.


"Mau lagi," rengek Zen sambil menyodorkan lehernya, agar Ruby kembali mendaratkan bibirnya pada leher Zen. Setelah Ruby merenggangkan pelukan mereka.


"Mesum."


"Ya suruh siapa memancing kemesuman suami," Zen mengusap bibir bawah Ruby menggunakan ibu jari. "Kamu nggak ingin dengar penjelasan ku?"


Ruby menggelengkan kepalanya pelan. "By percaya sama Mas bucin satu ini," Ruby menarik hidung mancung Zen.


"Seharian ini aku kepikiran kamu terus." Mereka berdua kembali saling berpelukan. "Kamu tadi kesini di ajak Nina atau ide kamu sendiri?"


"Jelas ide By sendiri lah Mas. Kan By kesini naik taksi online."

__ADS_1


"Apa? Taksi online?" ulang Zen tidak percaya sambil merenggangkan pelukan mereka.


Ruby hanya mengangguk dan cengar-cengir memarkan deretan giginya, seolah tidak memiliki salah sedikit pun.


"Astagfirullah Rubyyy ... kalau jadwal kuliah mu lebih awal selesainya hubungi Nina kalau aku nggak bisa jemput. Aku mencarikan supir untuk kamu biar ada yang menggantikan aku, saat aku tidak bisa menjemput kamu."


"Lagian kalau menunggu Mbak Nina kelamaan Mas. By pikir naik taksi online agar lebih cepat sampai saja."


Zen menghela nafasnya pasrah. " Ruby ku sayang. Ayah saja tidak pernah perbolehkan kamu menaiki taksi online seorang diri. Lalu bagaimana aku bisa membiarkan kamu menaiki taksi online. Bahaya By, tolong jangan di ulangi lagi. Kalau ayah tahu, bisa di gorok aku."


Maraknya kasus pencabulan yang tengah tranding topik saat ini, tentu membuat siapapun, harus ekstra waspada dalam menggunakan angkutan online dan juga umum. Terlebih lagi Zen.


"Kamu sudah makan siang?"


"Sudah tadi waktu di kampus, sama kak Tiara. Turunin Ruby Mas."


Bukannya menurunkan Ruby, Zen semakin mempererat belitan tangannya. "Aku mau sesuatu," Zen langsung berdiri, melangkah menuju kamar yang ada di sana.

__ADS_1


"Mas mau apa?" Ruby mulai was was saat Zen mendaratkan tubuhnya di atas ranjang. "Lagian ngapain disini pake ada ranjang segala sih?" batin Ruby sudah berfikir kemana-mana. Apalagi saat ini, Zen merangkak naik ke atas tubuh Ruby. "Ma-mas nggak lupa kan kalau Ruby masih palang merah?"


"Ingat kok." .


"Terus sekarang Mas mau apa?"


"Cosplay jadi bayi. Boleh kan?"


"Kyaaa ... Mas mesuuummm ..."


Satu jam kemudian, Zen merenggangkan pelukannya setelah Ruby terlihat nyenyak. Zen menarik selimut, menutupi tubuh bagian atas Ruby yang sudah tak berbenang akibat ulahnya.


Zen mengusap kepala Ruby sambil tersenyum senang. Sekalipun melakukan komplain ini dan itu, namun nyatanya Ruby pasrah saja menerima perlakuan Zen.


Zen keluar dari kamar dengan wajah yang sudah lebih baik dari pada tadi. "Sudah mendapatkan amunisi, ayo kita fokus kerja lagi."


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2