Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 67 TANPA BENANG


__ADS_3

"Apa sekarang aku boleh melakukannya?"


Ruby mengangguk, memberikan sebuah senyuman manis yang begitu menawan. "Dari ujung rambut sampai ujung kaki Ruby, mulai malam ini Ruby berserah diri agar Mas menjadikan Ruby istri Mas sesungguhnya."


Dengan wajah yang nampak merona, tangan Ruby menaikkan kaos yang di gunakan Zen. Tentu saja Zen tersenyum dengan tindakan berani Ruby. Zen bangun, untuk melepaskan kaos dan melemparnya secara asal.


Tidak ingin ribet dengan sarung yang masih melekat, Zen juga melepaskan penutup tubuhnya. Membuat Ruby memejamkan matanya, saat tubuh Zen benar-benar tanpa benang


Zen tersenyum melihat Ruby, lelaki itu langsung memposisikan tubuhnya di atas tubuh Ruby.


"Buka mata mu sayang."


Bisikan Zen benar-benar membuat Ruby bergejolak. Hembusan nafas yang menerpa menimbulkan sebuah desiran hangat di dalam raga. Kecupan yang di tinggalkan Zen pada daun telinga Ruby semakin membuat seluruh tubuh Ruby bergetar hebat.


Ruby membuka ke dua matanya. Saling menatap dalam, mencurahkan segala perasaan yang mereka miliki.


Ruby mengusap wajah Zen yang selalu membayangi pikirannya. Sedikit mengangkat kepalanya, untuk mengecup bibir Zen.


Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, hal yang sangat di inginkan Zen selama ini, sudah akan ia rasakan.


Zen tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi. Lelaki itu mengajak istrinya membaca doa terlebih dulu, berharap penyatuan raga mereka menjadikan sebuah ladang kebahagiaan di dalam sebuah rumah tangga.

__ADS_1


Zen mendaratkan bibirnya, menyesap pelan bibir Ruby yang sudah nampak se*ksi. Zen semakin memperdalam pertukaran salivanya, membuat lidah mereka menari indah bersama-sama.


Zen bergerak cepat mengganti posisi. Membawa tubuh kecil Ruby berada di atas tubuh Zen. Zen membiarkan Ruby yang membawa kendali pertemuan bibir mereka.


Kedua tangan Zen menguasap pelan pa*ha Ruby yang ada di antara tubuh Zen. Bergerak naik, mere*mas bo*kong Ruby.


"Euhhh..." Ruby melenguh tertahan merasakan sentuhan tangan Zen.


Tangan Zen semakin bergerak naik, membelai punggung Ruby. Zen merasakan risih karena aktivitas tangannya terganggu oleh lingerie se*ksi yang membuat tubuh Zen panas dingin.


Srek ...


Ruby langsung melepaskan bibir Zen dan menatap penuh tanya. "Kenapa Mas sobek?" protes Ruby saat Zen melempar lingerie itu ke sembarang tempat. "Biar tipis begitu, mahal aku belinya Mas," lanjutnya masih Belum terima. Masih sempat Ruby memikirkan harga lingerie di saat suasana mereka semakin panas.


Zen menarik tali penutup bagian atas, dan melempar benda tipis transparan itu ke sembarang arah.


"Aku mau melihatnya," Zen menarik kedua tangan Ruby yang menutupi dadanya.


"Mas," nafas Ruby semakin cepat, membaut dua benda yang berukuran sedang itu bergerak cepat sesuai dengan ritme nafas Ruby.


"Indah."

__ADS_1


"Aaahhh ..." desah nafas Ruby saat kedua tangan Zen menggenggam kuat secara bersamaan, lalu mere*mas seolah dua benda itu adalah sebuah mainan kenyal yang menggemaskan.


Rasanya tidak cukup hanya menyentuh saja. Zen menarik tubuh Ruby, dan melahap pucuk yang masih berwarna merah muda. Menyesap seolah ada cairan yang keluar dari sana.


"M-mas ah."


Ruby benar-benar tidak menyangka jika de*sah nafasnya terus ia suarakan. Apalagi permainan mulut Zen yang semakin kuat. Sedangkan tangan Zen satunya, terus memelintir ujung mungil dan sesekali mere*masnya. Zen melakukan itu semua secara bergantian membuat tubuh Ruby mulai basah.


Tangan Zen menarik tali penutup terakhir Ruby, kemudian melempar benda pengaman itu ke sembarang arah. Membuat mereka berdua sama-sama tanpa benang.


Zen bergerak cepat mengubah posisinya kembali. "Jangan di tutupi," perintah Zen saat kaki Ruby akan saling menumpuk, menutupi inti tubuh.


Zen mengamati tubuh Ruby dari atas sampai bawah. Kedua mata Zen seolah sedang merekam bagaimana sempurnanya tubuh indah Ruby saat ini.


Setelah puas dengan pemandangan tanpa benang, Zen kembali merangkak naik ke atas tubuh Ruby. Menyatukan kembali benda kenyal yang sudah memerah. Sampai cecapan mereka berdua semakin dalam, semakin menggebu-gebu dan menuntut.


Ruby terus melenguh tertahan saat tangan Zen bermain dengan dua lembah yang sangat pas di tangan Zen.


"Aaahhh ..." desah nafas Ruby tertahan karena dengan sengaja, Zen menggesek-gesekkan inti tubuh mereka yang berada di bawah sana.


Bersambung ...

__ADS_1


Maaf baru sempat nulis dan ini sedikit karena lagi rewang di rumah tetangga 🙏


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2