
"Zen," ucap Nissa pelan sambil menghampiri anaknya. Nissa tidak ingin Zen mengungkapkan semuanya di depan Yusuf.
"Maksud kamu apa Dek?" tanya Reina. Wajahnya terlihat syok setelah mendengar ucapan Zen barusan.
"Zen," Yusuf juga sudah ingin mengetahui dengan jelas, masalah apa yang sedang terjadi saat ini.
Zen menatap Nissa yang sedang menggenggam tangan Zen. Nissa masih berharap agar semuanya tidak Zen ceritakan. Namun, mana mungkin semuanya bisa di cegah karena masalah sudah seperti ini. Nissa hanya tidak ingin, ada perpecahan keluarga karena hal ini.
Sedangkan Hendri menahan Vian yang hendak pergi dari sana.
"Perlu Kakak dan Mas tahu, anak ini secara terang-terangan meminta Zen untuk memberikan Ruby padanya," tunjuk Zen pada Vian.
"Apa!" pekik Hendri dan Reina terkejut.
Bukan hanya mereka berdua yang terkejut. Tapi semua orang yang baru mengetahui masalah yang terjadi.
"Benar yang di katakan Om Zen, Vian?" tanya Hendri menyentak. Vian bungkam tidak memberikan jawaban.
"Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaan Papa kamu, Vian," ucap Zen.
Vian mengedarkan pandangannya, melihat wajah semua orang yang ada di sana.
"Sejak pertama kali Vian bertemu Maira, Vian jatuh cinta dengan dia," ucapnya pelan.
"Zen nggak marah kalau dia jatuh hati sama istri Zen, karena memang perasaannya tumbuh saat Ruby belum menjadi istri Zen. Tapi, anak Kakak ini seharusnya bisa berpikir dewasa dan logis. Bocah seperti gak di kasih ilmu agama, nggak di kasih pendidikan. Bisa-bisanya dia meminta istri Zen secara langsung. Memangnya Ruby apa?"
"Astagfirullah Viaaannn," Reina sungguh tidak menyangka anaknya sampai berlaku demikian.
"Zen nggak terima dengan perlakuan anak Kakak ini ke istri Zen. Bisa-bisanya dia menahan Ruby di dalam lift dan memaksa Ruby menerima cicin pemberiannya. Meminta Ruby menyembunyikan cincin pemberiannya dari Zen," dada Zen kembang kempis saat mengatakan semuanya, karena terlalu emosi.
Tangan Reina yang sejak tadi menahan tubuh Vian seketika terlepas, seolah lemas tak bertenaga.
"Kamu benar-benar melakukan hal gila seperti itu, Vian?" tanya Reina pelan.
__ADS_1
"Aku nggak tahu dia dapat pikiran dari mana sampai menuduh ku menggunakan uang perusahaan secara pribadi, untuk membeli saham di universitas x dan membangun rumah sakit."
"Asal kamu tahu Alvian. Aku sejak kecil sudah menabung sebagian uang jajan ku. Aku bekerja part time tanpa Ayah dan Nda ketahui untuk menambah tabungan ku, saat kuliah di luar negeri. Aku ambil job pemotretan dari Kak Re agar aku punya uang pribadi. Apa kamu pikir Ayah dan Nda ku memanjakan aku dengan uang seperti beliau memanjakan mu? Seperti Kak Re dan Mas Hen memanjakan mu dengan apapun yang kamu minta? Aku nggak di perlakukan seperti itu, tapi aku sama sekali nggak iri ataupun protes."
"Apapun yang kamu minta pada ku, semuanya murni menggunakan uang hasil tabungan ku sendiri. Apa kamu pikir aku menggunakan uang perusahaan sesuka hati?"
"Aku membeli saham pakai uang ku, aku bangun rumah sakit juga patungan dengan ke dua sahabat ku. Apa perlu aku menyebutkan hal seperti ini segara gamblang?"
"Sudah Zen," ucap Nissa pelan sampai hampir tak terdengar.
"Biarkan saja Nda. Biar Kak Re sama Mas Hen tahu kelakuan anaknya," ucap Zen.
"Mumpung semua keluarga ada disini, siapa yang mau mengambil alih perusahaan dibawah kepemimpinannya selain Alvian? Jika ada yang siap dan bisa memimpin perusahaan lebih baik dari aku, aku Zayn Dzuhairi Sucipto dengan suka rela memberikan hak kepemimpinan itu. Semua orang yang ada disini jadi saksi ucapan Zen barusan."
"Ya Allah," ucap Reina pelan sambil menyentuh kepalanya. Sungguh tidak di sangka kalau Vian bertingkah seperti ini.
"Apa di pikir Zen nggak senang kalau ada yang mau memimpin perusahaan keluarga kita?"
"Dan satu hal lagi ..."
"Jangan nak," pinta Nissa pelan.
Zen mengusap air matanya sendiri. Anak lelaki mana yang bisa terima kalau ibunya di buat menangis oleh cucu yang sangat di sayangi.
"Zen nggak terima dengan perlakuan anak ini, yang menuduh Nda pilih kasih."
Sekarang yang terkejut bukanlah para perempuan Yanga ada di sana. Yang terkejut adalah para lelaki dewasa. Terutama Yusuf dan Hendri.
"Apa maksud kamu, Zen?" tanya Yusuf yang butuh kejelasan.
"Cucu kesayangan yang Ayah banggakan itu, Menuduh Nda pilih kasih antara Kak Re dan Zen."
Betapa terkejutnya Yusuf saat ini. Ia langsung mengingat kenapa tadi istrinya menangis dan menanyakan hal seperti itu.
__ADS_1
"Nda," ucap Yusuf.
"Vian hanya salah sangka sama aku, Ayy. Aku nggak apa-apa karena dia hanya salah menilai."
"Asal kamu tahu Alvian, yang seharusnya mengatakan hal seperti itu adalah aku atau Kak Re, Kalau memang Nda pilih kasih. Semua orang disini juga tahu, tanya Mama dan Papa mu. Oma ini lebih sayang aku atau Mama mu?" ucap Zen semakin meluapkan arah.
"Aku tidak pernah protes hal seperti itu karena bagi ku kasih sayang yang aku dapatkan sudah sesuai kebutuhan ku. Aku tidak pernah kepikiran hal seperti itu karena banyak yang menyayangi aku. Terutama Kak Re dan Mas Hen."
"Ya Allah Viaaannn," pekik Hendri benar-benar kesal. Ia menghempaskan tubuh Vian hingga kembali tersungkur.
"Kamu benar-benar buat orang tua kamu tidak punya muka, Vian."
Nissa langsung menghampiri Vian dan membantunya berdiri.
"Awas," ucap Vian sambil mendorong Nissa agar menjauh.
"VIAN!" bentak Yusuf yang tidak terima saat istrinya di perlukan seperti itu.
Tentu saja semua orang terkejut dengan suara Yusuf yang kuat dan lantang.
Plak ...
Reina sudah tidak tahu kenapa anaknya jadi seperti ini.
"Setan apa yang merasuki kamu sampai membuat mu jadi seperti ini Vian? Sepertinya Mama dan Papa sudah memberikan ilmu sedemikian rupa, tapi nyatanya semua sia-sia. Apa hanya karena cinta membuat kamu tidak berpikir logis, hingga kamu bertindak menyaksikan hati banyak orang. Sepertinya kamu perlu tahu banyak hal tentang Oma yang sangat berarti di dalam hidup Mama."
Reina menghela nafas kasar. "Oma yang menolong Mama saat mantan Mama mau menodai Mama," Reina jadi mengais sendiri saat mengingat hal dulu. Tentu tidak dapat di banyangkan bagaimana nasibnya jika Nissa tidak datang menolong.
"Oma harus kehilangan janin yang di kandung karena menolong Mama. Walau Oma bukan perempuan yang melahirkan Mama ke dunia ini, tapi Oma yang membuat Mama bisa menikah sama Papa kamu. Banyak hal yang tidak bisa di ceritakan, karena begitu banyak jasa Oma untuk Mama."
"Kamu benar-benar buat Mama malu, Vian. Kamu, Kakak mu, dan adik mu, yang menjaga kalian saat kecil itu Oma. Yang menemani kalian bermain itu Om Zen. Bisa-bisanya kamu kurang ajar sama Oma dan Om kamu sendiri."
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️