
"Ihhh jadi pengen di bucinin juga," ucap Queen. "Tapi Queen nggak punya ayang."
"Jangan ayang-ayangan, lelaki jaman sekarang jarang ada yang baik dan bisa di percaya. Apalagi modelan kaya Om begini, limited edition karena Om cuma punya Ruby."
"Hoek ..." Divya dan Queen pura-pura mau muntah saat mendengar ucapan Zen barusan. Sedangkan Ruby hanya bisa menutupi wajahnya yang memerah, karena malu.
"Gimana nggak limited edition, cuma Om di dunia ini yang super pede kelewat over dosis," ucap Queen.
"Jadi pengen museumin Om sendiri," celetuk Divya.
"Jangan dong kak," ucap Ruby spontan.
"Loh kan, kalian berdua itu emang pasangan bucin akut, tahu nggak," ucap Reina.
"Kuliah Divya lancar?" tanya Yusuf.
"Alhamdulillah lancar semua Opa. Kuliah, kerjaan lancar."
"Yang nggak lancar itu jodoh Opa," celetuk Queen.
"Adek ih."
"Lah emang bener kan. Tuh Mama sama Papa udah ngebet pengen punya cucu."
"Kenapa jadi Mama sama Papa yang di bawa-bawa?" ucap Reina.
"Waktu itu Queen ikut Mama arisan, cuma Mama yang ajak Queen. Sedangkan yang lainnya pada bawa cucu."
"Lagian kamu gabut banget ikut Kak Re arisan," ucap Ruby.
__ADS_1
"Ya siapa yang nggak tertarik coba kalau Mama iming-imingin aku uang jajan tiga kali lipat saat itu juga."
Divya terkekeh. "Ya Allah Dek. Harga diri mu sebatas uang jajan."
"Ini juga gara-gara Kakak. Bisa-bisanya pelit sama Adek sendiri," ucap Queen kesal.
"Kamu sudah nggak ambil job pemotretan?" tanya Ruby menebak. Membuat Queen cengar-cengir.
"Semenjak lulus dia sudah gak ambil job Mai. Katanya malas nggak ada Maira."
"Tante yang baik hati, punya suami banyak uang. Maukah kau menjadi ATM berjalan ku? Aku rela jadi beban hidup mu," ucap Queen sambil bergelayut manja di lengan Ruby.
"Maaf, aku tidak butuh beban hidup seperti mu."
Mereka terus saja saling bercanda. Hal ini membuat Nissa dan Yusuf bahagia. Benar-benar menciptakan rasa hangat di tengah suasana malam ini.
"Vian sendiri bagaimana?" tanya Yusuf sambil menepuk punggung Vian.
"Mau kuliah di sini atau di Malang?"
Sekilas Vian melihat Ruby yang sedang fokus menikmati red velvet bersama Divya dan Queen.
"Masih bingung Opa."
"Bagaimana kalau kuliah disini saja? Sekalian latihan kerja, biar Om kamu sesuaikan pekerjaan apa yang Pas buat Vian," usul Yusuf.
Lagi-lagi Vian melirik kearah Ruby. Rasanya sangat menggemaskan melihat sekilas tingkat Ruby dan Queen yang sedang perang sendok karena rebutan kue yang tinggal sedikit.
"Vian pikir juga sepertinya Vian ingin kuliah di sini."
__ADS_1
Zen meletakkan piring kecil karena kue sudah habis ia santap. Lelaki itu menarik tissue untuk membersihkan mulutnya.
"Nikmati dulu waktu senggang mu. Nanti kalau sudah siap, Om akan masukkan kamu ke perusahaan."
"Iya Om."
"Mai, tuh di pipi Om Zen ada belepotan krimnya," bisik Queen.
Wajah Ruby menengadah menatap Zen. "Mas," Ruby menyentuh pipinya, bermaksud memberikan kode ke Zen agar membersihkan pipinya yang terdapat krim kue. Mumpung tangan Zen sedang memegang tissue.
"Sekarang?" tanya Zen serius.
"Iya."
Tanpa pikir panjang lagi, dengan rasa penuh percaya diri. Zen mendaratkan ciuman di pipi Ruby. Hal itu berhasil membuat Ruby terkejut.
"Kenapa malah cium By sih Mas?" pekik Ruby terkejut dan menahan rasa malu. Apalagi semua pasang mata tertuju kearah mereka.
"Lah tadi minta di cium," ucap Zen santai.
"Siapa yang minta di cium?" tangan Ruby menarik tissu lalu mengusap pipi Zen yang belepotan krim kue. "Nih ada krim kuenya Mas," dengan rasa kesal karena menahan malu, Ruby menunjukkan bekas tissu yang terdapat krim kue.
Semua orang disana tentu saja tertawa terbahak-bahak menyaksikan tingkah Zen dan Ruby. Sedangkan Vian hanya tertawa sekedarnya. Jujur saja, Vian iri dengan kemesraan yang ia lihat saat ini.
"Andai saja ..." Batin Vian.
Zen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Orang By tadi nunjuk pipi, ya aku pikir kamu minta cium, yang." Ucapnya dengan wajah yang nampak jujur.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️