Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 44 PURA-PURA TIDUR


__ADS_3

"Aaa ..." Teriak Zen saat melihat wajah Arjuno. Sangking refleknya, Zen sampai melempar hape mahalnya hingga terbanting di lantai. Lelaki yang sangat sadar dirinya harus siaga, dengan cepat Zen beranjak dan melarikan diri.


"ZEEENNN ..." Teriak Arjuno sambil mengejar mantunya.


Zantisya malah terkekeh melihat mantu dan suaminya, yang selalu saja tidak akur dalam hal tertentu.


"Heh ngapain hape kamu lempar asal-asalan?"


"Reflek Ayah," jawab Zen.


"Reflek kamu bilang? Itu hape Zen, bukan bola. Belinya pake uang," tanpa sadar, Arjuno malah menasehati Zen sambil mengejar.


"Santai Ayah, uang Zen banyak. Warisan melimpah," tutur Zen asal.


"Ooohhh bocah tengik. Berhenti kamu Zen," perintah Arjuno yang ingin mengucel-ucel bocah yang ternyata sudah berani mencium anaknya, saat masih berusia dua tahun.


"Nggak mau, Ayah pasti mau siksa Zen."


Entah sudah berapa kali Zen dan Arjuno mengitari kolam renang. Membuat tiga bocah yang ada di sana, hanya bisa melongo menyaksikan.


"Berhenti Zen. Ayah mau buat perhitungan sama kamu. Bisa-bisanya kamu mencium anak bayi ku."


"Itu nggak sengaja Ayah." Zen lari menuju halaman depan.


"Awww ..." ringis Arjuno.


Zen yang mendengar suara Arjuno yang kesakitan, tentu saja lelaki itu menghentikan langkah larinya. "Ayaaahhh ..." Zen bergegas menghampiri Arjuno karena sangking khawatirnya. "Ayah kenapa? Mana yang sakit?"


Arjuno menatap wajah Zen dengan senyum kemenangan. Zen yang merasa sudah menyerahkan diri secara suka rela, lelaki itu langsung duduk di atas rerumputan begitu saja.


"Ayah licik, selalu nipu Zen," ucapnya pasrah. Bahkan kedua kaki Zen mencak-mencak seperti anak kecil.

__ADS_1


"Suruh siapa kamu mudah ketipu." Tangan Arjuno sudah menjewer telinga Zen sangking gemesnya. "Sekarang jelaskan, ngapain kamu cium cium anak gadis ku yang masih bayi hem? Mending kalau di pipi ini di bibir Zen."


"Namanya juga DP ayah,"


"Zeeennn."


"Aw aw aw. Ayah sakit," keluh Zen sok dramatis. Aslinya sakit banget juga enggak.


"Jelasin sekarang Zen."


"Itu tuh nggak sengaja Ayah. Zen mau cium pipi Ruby, eh Ruby malah nyodorin diri. Ya udahlah di nikmati."


"Astagfirullah Zeeennn ..." Pusing sendiri Arjuno menghadapi sikap tengilnya Zen.


.


.


.


Sedangkan Zen, lelaki itu beranjak lebih dulu dari ruang keluarga. Karena harus mengurus beberapa pekerjaan yang baru saja Alan kirim ke email milik Zen.


"Apa Om Om itu beneran mau tidur di kamar aku?" gumam Ruby. Entah sudah berapa kali, Ruby mondar mandir merasakan resah sendiri.


"Dasar Ruby bodoh, seharusnya kamu cepat pura-pura tidur. Biar kamu nggak perlu pelukan sama Om Om. Ngapain kamu malah nungguin."


Dengan gerak cepat, Ruby bergegas mendaratkan tubuhnya di atas ranjang. Menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam selimut.


Ruby semakin mengeratkan pejaman matanya saat mendengar suara pintu terbuka. "Ah apes banget sih, dia datang saat aku belum tidur," batin Ruby ngedumel.


Tubuh Ruby rasanya semakin menegang saat merasakan Zen yang merangkak naik keatas ranjang.

__ADS_1


"Kamu sudah tidur by?" tanya Zen sambil membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Ruby. "Ah sudah tidur ternyata," Zen tersenyum, tentu saja ia sangat tahu kalau Ruby masih terjaga.


"Aman kamu malam ini By," batin Ruby senang.


"Sesuai perjanjian, aku akan minta sebuah pelukan sebelum tidur sekalipun kamu sudah tidur duluan."


Zen langsung membawa tubuh Ruby yang pura-pura tidur ke dalam dekapan Zen. Memeluk erat Ruby sampai tubuh mereka menempel. Membuat Zen bisa merasakan detak jantung Ruby


Tubuh Ruby rasanya semakin menegang saat merasakan dekapan hangat Zen. Belum lagi aroma tubuh Zen yang seolah sedang menghipnotis Ruby.


"Apa ada orang tidur dengan detak jantung yang sangat cepat By?" bisik Zen tepat di telinga Ruby.


"Aaa ... Om cari kesempatan kan?" protes Ruby sambil memberontak, ingin melepaskan diri.


"Diamlah, Kalau kamu mencoba lepas dari pelukan ku, aku akan semakin lama memeluk mu."


Zen langsung membawa Ruby ke atas tubuhnya. Membuat tubuh Ruby semakin bergetar.


"Kenapa pelukannya jadi seperti ini sih?" protes Ruby sambil mengangkat wajahnya, menatap Zen. Sedangkan kedua tangan Zen membelit tubuh Ruby erat.


"No komplain By," Zen langsung membawa kepala Ruby, menyusup ke lehernya.


Zen jelas bisa merasakan tubuh Ruby yang bergetar, bersamaan dengan kinerja jantung yang semakin cepat.


Tangan Ruby semakin erat saat merasakan usapan tangan Zen, dari kepala sampai punggung.


Zen menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Mencoba menahan diri agar tidak lepas kendali.


"Apa aku salah menilainya?" batin Ruby saat merasakan detak jantung Zen yang jelas tidak kalah cepat dengan jantungnya.


Zen langsung memiringkan tubuhnya, untuk menurunkan Ruby dari atas tubuhnya. "Tidurlah. Good night," ucap Zen setelah mengusap wajah Ruby.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2