
Zen Kembali melajukan mobilnya untuk segera menuju kantor yang ada di Malang. Perusahaan yang di pimpin oleh Adam.
Zen langsung keluar dari mobilnya, dan langsung memasuki gedung perkantoran. Lelaki yang selalu percaya diri mengatakan dirinya ganteng itu, dengan sengaja tidak melewati lift khusus agar ia cepat sampai di mana lantai, ruang kerja Adam berada. Zen lebih memilih melewati lobby kantor sekaligus melihat sekilas bagaimana kinerja karyawannya.
Lelaki yang menggunakan pakaian kasual itu berjalan santai dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Jangan lupakan kaca mata hitam yang Zen kenakan.
Banyak pasang mata kaum hawa yang terpana melihat kedatangan Zen.
"Selamat pagi pak, anda mau kemana?" tanya salah satu scurity yang menghampiri Zen.
"Mau ketemu pimpinan."
"Apa anda sudah membuat janji dengan pak Adam?"
Zen terkekeh di dalam hati. Sudah berpenampilan super ganteng begini, bisa-bisanya scurity tidak mengenalnya. Pimpinan pusat ini.
"Belum," jawab Zen santai.
"Silahkan mengisi buku tamu terlebih dahulu pak, agar nanti di sampaikan pada sekertaris pak Adam perihal kepentingan Bapak ingin menemui Pak Adam.
"Baiklah. Di mana buku tamunya?"
"Mari ikuti saya Pak." Zen menurut saja kemana scurity membawanya. "Silahkan tulis nama bapak dan keperluan Bapak menemui Pak Adam."
Zen langsung menyambar pulpen dan langsung menuliskan nama lengkapnya serta alasannya ingin menemui Adam.
"Ini Pak," Zen menyodorkan kembali buku tamu pada scurity.
"Jadi nama Bapak Zayn Dzuhairi Sucipto, alasan menemui Pak Adam ingin melamar kerja?"
"Betul."
"Maaf pak, untuk saat ini perusahaan kami belum membuka lowongan pekerjaan."
__ADS_1
"Siapa tadi namanya?" tanya seorang perempuan yang bertugas menjadi resepsionis di sana. Perempuan itu langsung mengambil buku tamu dan membaca nama lelaki yang nampak tampan walau wajahnya masih tertutup kaca mata. "Zayn Dzuhairi Sucipto," Wajah perempuan itu seketika terkejut. "Ja-jadi Bapak ini Pak Zayn Dzuhairi Sucipto. Pimpinan kami?" tanyanya terbata untuk meyakinkan lagi.
"Benarkan aku tadi menulis nama ku Zayn Dzuhairi Sucipto?" tanya Zen sambil membuka kaca mata hitamnya.
Saat itu juga, para karyawan menyadari bahwa yang menarik perhatian mata mereka adalah bos mereka. Semua orang langsung memberikan salam hormat.
"Ma-maafkan saya Pak Zen, karena saya tidak mengenali bapak dengan baik," tutur scurity tak enak hati serta takut di pecat. Bisa-bisanya ia tidak mengenali anak Pak Yusuf.
Zen kembali menggunakan kaca mata hitamnya. "Its ok. Saya suka kerja Bapak. Selamat bekerja semuanya." Zen bergegas menuju lift.
Bisik-bisik para karyawan, terutama kaum hawa pun fi mulai, setelah pintu lift yang di masuki Zen tertutup.
"Gilaaa ... ganteng banget bibitnya pak Yusuf."
"Lebih ganteng di lihat secara langsung."
"Angkat aku jadi istri mu, Mas ganteng."
"Tapi sayang, ganteng-ganteng belok."
"Sssttt ... jangan asal ngomong."
Setidaknya, begitulah bisik-bisik para karyawan perempuan di sana.
***
Setelah pintu lift terbuka, Zen langsung melangkah di maana ruang kerja Adam. Zen langsung membuka pintu setelah mengetuk pintu dan di persilahkan Adam untuk masuk.
"Eh Pak bos, aku pikir tadi siapa," Adam langsung beranjak dari kursi kerjanya, langsung menuju sofa. "Ada keperluan apa pengantin baru?" goda Adam. Lebih tepatnya mengejek.
"Ck. Nggak usah ngeledek ya Om. Zen ada keperluan kesini."
"Ada keperluan apa?"
__ADS_1
"Zen kesini ingin melamar kerja. CV sudah Zen kirim di email Om. Tolong segera di periksa dan terima secepatnya Zen di perusahaan ini."
"Ngelamar kerjo, mekso ki yo kaet iki. Memang kamu nggak cepat-cepat pulang ke Jakarta?"
"Enggak. Makannya Zen butuh uang untuk menafkahi istri Zen."
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk," interuksi Adam.
"Sudah waktunya keruang meeting Pak," ucap sekertaris Adam.
"Ok. Butuh kerja kan?" Zen mengangguk dengan perasaan yang tidak enak. "Saya mau meeting dulu Pak bos, dari pada Bapak menganggur di sini, bukankah lebih baik memeriksa pekerjaan di atas meja saya. Bapak tidak perlu khawatir, kalua semuanya sudah selesai akan saya kasih upah kerja," Adam langsung berlalu meninggalkan Zen yang tengah ngedumel.
***
Saat istirahat pertama, Ruby, Safir, dan Queen menuju perpustakaan. Memang begitu kebiasaan mereka bertiga. Apa lagi ujian kelulusan kurang berapa bulan lagi.
Tiga remaja itu berteman akrab semenjak mereka menjadi siswa baru. Sekalipun mereka bertiga selalu rival memperebutkan posisi juara.
"Habis bergadang pengantin baru?" bisik Queen menggoda Ruby.
Sejak pertama mereka masuk ke perpustakaan, bukannya membaca buku, Ruby mendaratkan kepalanya di atas meja berbantalkan lengan tangannya sendiri.
"Habis berapa ronde tadi malam?" lanjut Queen menggoda Ruby. "Ooohhh sahabat ku, tante ku."
"Aku ngantuk Queen. Mending diam dulu dari pada aku ambil laksban nih," ancam Ruby dengan suaranya yang pelan.
Bukan saatnya untuk Ruby meladeni Queen. Karena tidur lah yang sangat penting bagi Ruby saat ini.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1