Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 48 FIRST KISS


__ADS_3

"Belajar yang pintar ya Fan," teriak Zen saat Arfan turun dari mobil dan langsung memasuki gerbang sekolah.


"Siap Mas. Jangan lupa tepati janji ya?" tuntut Arfan sambil berteriak.


"Ok bos ku."


Berulang kali di pikirkan pun, Zen memang sangat mudah mendekati ke dua adiknya, terutama Safir. Semua keluarganya saja sangat menyayangi Zen. Bahkan Arjuno dan Zantisya nampak seperti orang yang sudah lama kenal, kalau sudah berbincang dengan Zen. Nampak sangat akrab dan santai.


"Kamu masih belum mau turun, By?" tanya Zen, mengejutkan Ruby.


"Eh, sudah sampai?" tanya Ruby sambil celingukan. Ruby melihat ke kursi belakang, ternyata Safir sudah tidak ada.


"Sudah sejak sepuluh menit yang lalu, istri ku," jawab Zen lembut sambil melepas safety belt yang ia gunakan, lalu melepas safety belt Ruby. "Aku masih di sini saja kamu sudah banyak melamun, bagaimana kalau aku tinggal pulang ke Jakarta?"


"Kalau Om pulang ke Jakarta, hidup Ruby lebih tenang. Nggak akan ada lagi yang ngusik Ruby, yang jahilin Ruby," cerocos Ruby sambil membenarkan jilbabnya tanpa menggunakan kaca.


Zen tersenyum. Rasanya begitu sangat gemas melihat bibir Ruby yang terus mengoceh jika sedang ia goda.


"Hadap sini, sepertinya ada rambut kamu yang keluar."


"Ah masak sih Om, Ruby selalu ikat rambut Ruby kok. Pake ciput juga?" tanya Ruby. Padahal di dalam mobil ada kaca yang bisa di gunakan Ruby untuk melihat wajahnya. Tapi dengan lugunya, gadis itu menyodorkan wajahnya mengikuti perintah Zen.


Tentu saja tangan Zen berpura-pura menyusupkan anak rambut ke dalam jilbab Ruby. Sedangkan sepasang netra mereka yang saling menatap dalam dengan jarak yang dekat, mampu membuat kinerja jantung keduanya berdetak semakin cepat.


Tanpa pikir panjang lagi, Zen langsung mendapatkan satu kecupan di bi*bir Ruby. Bi*bir yang setiap hari selalu membuat Zen salah fokus. Bi*bir yang selalu melambai minta di hampiri.

__ADS_1


Seketika ke dua mata Ruby membulat, saat merasakan bibirnya mendapat sentuhan dari bibir Zen yang bentuknya saja hampir menyerupai lambang hati. Bibir yang warnanya memerah membuat perempuan manapun iri melihatnya.


"O-om," Ruby sampai tergagap pelan, karena tidak menyangka mendapatkan sebuah kecupan seperti di drama korea yang sering ia tonton.


Zen sudah sangat kesulitan menahan dirinya kali ini. Lelaki itu langsung mendaratkan kembali bi*birnya pada bi*bir Ruby yang selalu kebanyakan ngomel.


Ruby yang awalnya masih tidak menyangka, telah mendapatkan satu kecupan, gadis cantik itu langsung memejamkan matanya begitu saja saat merasakan bib*irnya kembali tersentuh. Mungkinkah karena terbuai suasana. Entahlah.


Zen mengintip mata Ruby yang udah terpejam. Tentu saja Zen tersenyum di sela-sela kecupannya. Itu artinya Ruby mengizinkannya kali ini.


Zen langsung menyesap bi*bir Ruby dengan sangat lembut. Berharap Ruby paham dengan perasaannya. Berharap Ruby tahu bahwa dia lelaki normal yang sangat tertarik dengan Ruby.


Ke dua tangan Ruby mencengkram erat baju kemeja yang di gunakan Zen. Meskipun sangat kaku karena ini yang pertama bagi Ruby, gadis itu ikut menyesap bi*bir Zen mengikuti nalurinya sendiri.


Cengkraman kedua tangan Ruby semakin kuat Saat pertempuran bi*bir mereka semakin dalam.


Rasanya Zen tidak ingin berhenti di sini. Rasanya Zen ingin lebih dari ini, tapi lelaki itu sangat sadar bahwa Ruby harus sekolah.


Dengan terpaksa Zen melepaskan bi*bir Ruby. Mengakhiri ciu*man yang Zen dapatkan di saat Ruby sadar seratus persen.


"Ruby bodoh. Kenapa kamu memejamkan mata dan terbawa suasana? Sekarang bagaimana kamu mau menghadapi lelaki di depan mu," batin Ruby memarahi diri sendiri. Bahkan kedua tangan Ruby masih betah mencengkram kuat baju Zen.


Zen tersenyum melihat wajah Ruby yang nampak ragu-ragu, ingin membuka kedua matanya. Masih dapat Zen rasakan nafas Ruby yang masih sangat cepat.


"Sudah waktunya sekolah," ucap Zen pelan sambil mengusap bi*bir Ruby yang nampak semakin memerah.

__ADS_1


Ruby langsung membuka kedua matanya sambil mendorong tubuh Zen agar lebih berjarak.


"Om kenapa curi first kiss nya aku?" tanya Ruby menyalahkan Zen. Sekalipun ia sadar menikmati pertemuan benda kenyal mereka, tapi Ruby harus mencari titik aman untuk menenangkan dirinya.


Zen tersenyum melihat wajah Ruby yang memerah. "Nanti saja kamu cerewet perihal ci*uman kita."


Ruby langsung menjauhkan kepalanya saat tubuh Zen condong ke arah Ruby.


"Sekarang waktunya kamu sekolah istri," ucap Zen sambil membuka pintu mobil.


Ruby bergegas keluar dari mobil setelah mencium punggung tangan Zen.


Melangkah pelan karena kakinya terasa lemas


"Bekerjalah dengan normal wahai jantung," gumam Ruby sambil menepuk dadanya pelan.


Zen terus melihat punggung Ruby sampai menjauh bahkan hilang karna belok arah. "Setelah ini, aku harap kamu sadar dengan perasaan kamu dan tentang perasaan ku, By."


Zen langsung melajukan mobilnya setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Lelaki itu harus segera menuju bandara saat ini juga.


Bersambung ...


Aman besti 🤣🤣🤣 lanjut besok pagi kalau bab ini lolos malam ini 😘 selamat istirahat ya semua 🌺


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2