
Saat ini Zen dan Ruby sudah berada di ruang makan. Sepasang suami istri itu nampak sangat lahap menikmati sarapan pagi ini. Sepertinya, dua insan itu benar-benar kehabisan energi setelah aktifitas mereka semalam dan tadi pagi.
"Pelan-pelan makannya By," ucap Zen sambil mengusap bibir Ruby. Lalu mengambil satu butir nasi yang ada di sudut bibir Ruby. Kemudian Zen lahap begitu saja.
"Ih Mas, itu kan nasinya By. Kenapa Mas ambil terus di makan sendiri. Harusnya di kasihkan ke By, Mas."
Bukannya tersipu malu dengan wajah merona karena sang suami mengambil nasi yang tertinggal di pipi seperti perempuan pada umumnya. Namun, Ruby malah mengajukan komplain. Karena nasi itu miliknya.
"Suruh siapa nasi di tinggalin. Mata ku yang terlihat tergoda, ya ku ambil saja," tutur Zen enteng. Padahal sebenarnya, Zen justru tergoda dengan bibir Ruby yang sedang mengunyah makanan.
"Padahal enaknya tuh disitu loh. Mas asal ambil nasi punya Ruby," kesal Ruby kemudian melanjutkan makannya.
Tiba-tiba saja otak cerdas Zen mendapatkan sebuah ide brilian. Zen mengambil sebutir nasi dan dengan sengaja Zen letakkan di sudut bibirnya.
"Alhamdulillah kenyang," ucap Zen setelah menghabiskan seporsi makanannya. Kemudian meneguk air minum untuk melicinkan tenggorokan.
"Mas cepet banget habisnya," Ruby menatap wajah Zen yang menatapnya. "Cup cup cup itu ada nasi di ujung bibir Mas, ini buat Ruby."
Zen langsung menghentikan tangan Ruby yang akan mengambil sebutir nasi di sudut bibir Zen. "Ini jatah punya aku By."
"Itu punya By, Mas. Tadi kan Mas sudah ambil jatah By, jadi itu punya By sekarang."
__ADS_1
"Boleh kalau begitu. Nih ambil," Zen menyodorkan wajahnya. Kemudian mengekang tangan Ruby yang satunya karena hendak mengambil nasi di wajahnya.
"Ih terus Ruby gimana ambilnya?" protesnya kesal.
"Langsung ambil pakai mulut kamu."
"Mas pasti mau modusin aku kan?" tuntut Ruby penuh curiga. " lepasin tangan Ruby, Mas. By sudah tidak tertarik dengan nasi itu."
Zen semakin mengeratkan genggaman tangannya, saat Ruby berusaha lepas dari cengkraman. "Aku nggak akan lepasin tangan kamu kalau kamu nggak ambil nasinya sekarang."
"Ya sudah pegang saja sepuas Mas. Memangnya Mas mau nggak ke kantor?"
"Aku bisa menunda semua pekerjaan ku. Bukankah lebih banyak untungnya buat aku kalau aku tidak jadi ke kantor?" Zen benar-benar memanfaatkan dengan baik kepolosan Ruby. Bahkan ke dua alis Zen bergerak naik turun memberikan sebuah isyarat.
"Ya sudah By ambil nih. Tapi Mas nggak boleh modus ya."
"He'em."
Zen kembali mendekatkan wajahnya saat wajah Ruby mendekat. Senyum seringai sudah di tahan Zen, demi mendapatkan sesuatu.
Bibir Ruby sudah berhasil mendarat tepat di sudut bibir Zen, berniat mengambil sisa sebutir nasi. Dengan cepat lelaki dengan sejuta akal cemerlangnya, Zen menggeser sedikit wajahnya, dan seketika itu kedua mata Ruby terbelalak saat bibirnya sudah di sesap Zen.
__ADS_1
Zen bergerak cepat mendekatkan tubuhnya ke arah Ruby, saat Ruby mengeram tertahan bersamaan dengan tangan Ruby yang ingin melawan.
Perlawanan Ruby hanya berlaku sebentar. Karena setelah itu, Ruby pasrah mengikuti maunya Zen. Hal itu justru membuat Zen semakin liar menyesap.
Ruby membuka kedua matanya, saat Zen telah melepaskan bibirnya. Sedangkan jari lelaki itu mengusap lembut bibir Ruby yang memerah.
"Rasanya aku nggak ingin pergi ke kantor. Aku ingin temani kamu disini."
Bukannya tersanjung, pikiran Ruby malah jadi horor kalau Zen tidak ke kantor hari ini. "Mas itu pemimpin, mana boleh males-malesan. Ayo cepat Mas harus segera berangkat. Cari uang yang banyak karena kebutuhan kita banyak," ucap Ruby asal.
Ruby merasa lega setelah Zen keluar dari apartemen. "Akhirnya berangkat juga," gumam Ruby sambil mendaratkan tubuhnya di sofa. "Bisa lain ceritanya kalau Mas Zen sampai nggak pergi ke kantor," lanjutnya.
Ruby menggelengkan kepalanya cepat-cepat mengusir pikirannya yang jadi tidak-tidak. "Kenapa pikiran aku malah omes begini."
Baru saja Ruby hendak menuju kamarnya, langkah Ruby terhenti karena suara bell apartemen. Ruby berusaha jalan cepat menuju pintu utama untuk melihat siapa yang telah menekan bell apartemennya.
"Nda," gumam Ruby saat mengintip siapa yang berada di luar sana. Ruby bergegas membukakan pintu untuk Nissa.
"Ndaaa ..." pekik Ruby manja karena terlalu senang melihat mertuanya datang mengunjunginya.
"Mantu ku," pekik Nissa senang lalu memeluk Ruby.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️