
"Ma-maksudnya berbagi ranjang apa Om?' tanya Ruby terbata. Pikiran Ruby sudah melayang kemana-mana, mengingat adegan yang hampir saja terjadi malam itu.
"Aku ingin tidur di kamar mu, bukan di kamar tamu. Lebih tepatnya, kita tidur satu ranjang di kamar mu."
"Mana boleh be ..."
"Sssttt ..." Zen meletakkan jari telunjuknya di bibir Ruby. "No komplain By. Itu sudah kesepakatan kita di awal tadi."
"Om ngerjain aku ya?" tuntut Ruby tidak terima dan menatap penuh kecurigaan.
"Siapa yang ngerjain kamu sih By. Sudah jelas aku tadi nantang kamu dan kamu menerima tantangan aku."
"Pokoknya aku nggak mau."
Zen dengan cepat menarik tangan Ruby, karena gadis itu hendak meninggalkannya
Bruk
"Ooommm ..." Pekik Ruby saat tubuhnya mendarat di pangkuan Zen.
Zen mengekang kuat tubuh Ruby saat gadis berbulu mata lentik itu berusaha turun dari pangkuannya.
"Turunin aku Om," pinta Ruby sambil menatap serius wajah Zen.
"Aku nggak akan turunkan kamu, sebelum kamu mendengar semua permintaan aku, dan kamu mengabulkan semuanya tanpa komplain, sesuai perjanjian."
"Tapi permintaan Om nggak kaya gitu juga," Ruby tentu tidak terima.
"Ingat janji kamu tadi By. Kamu akan menuruti tanpa melakukan komplain."
"Om licik," sungut Ruby.
Zen tersenyum mendengar cibiran Ruby. "Jadi kamu berniat ingkar dari kesepakatan kita tadi?"
Tubuh Ruby rasanya semakin menegang saat tangan Zen merengkuh pinggangnya dengan posesif. Membuat Ruby menahan dada Zen, agar tidak terlalu menempel dengan.
"Kalau permintaan Om nggak nyeleneh, aku mana mungkin komplain."
__ADS_1
"Nyeleneh dari mananya By?" Ruby menatap lekat ke dua mata Zen dengan serius. Tatapan lelaki yang Ruby yakini adalah penyuka sesama, kini tatapan itu mulai mengusik hati Ruby. "Gak ada yang salah suami dan istri tidur satu ranjang. Justru yang salah kalau suami dan istri pisah ranjang."
Sekalipun Ruby masih remaja, tentu gadis itu paham tentang hubungan suami dan istri, selayaknya di dalam sebuah bahtera pernikahan.
Tentu saja Ruby sudah mempunyai gambaran untuk kebahagiaannya nanti. Berharap bisa seperti Ayah dan Bundanya, selalu nampak romantis dan harmonis.
Zen langsung mengusap wajah Ruby, lalu mengapit dagu Ruby, saat gadis itu menunduk. Agar Ruby itu kembali menatap Zen.
Seketika Zen tersenyum tengil seolah mengejek nyali Ruby yang mulai menciut.
"Apa sekarang kamu merasa tidak aman dengan lelaki yang kamu anggap g*ay ini? Atau ..."
"Atau apa?"
"Kamu takut jatuh cinta sama aku, By?" Zen mengedipkan satu matanya menggoda Ruby.
Ruby terkekeh, menyembunyikan perasaannya yang tiba-tiba tidak menentu. "Om terlalu percaya diri. Lalu apa permintaan ke dua dan ke tiga?"
"Permintaan ke dua, aku mau kita berpelukan selama lima menit sebelum tidur malam."
Zen langsung menyentuh bibir Ruby saat gadis cantik itu siap akan melayangkan sebuah komplain.
"Berapa lama Om? Nggak mungkin kan seumur hidup aku melakukan hal kaya gitu?"
"Jika aku kembali ke Jakarta, artinya tiga permintaan ini selesai."
"Om mau kembali ke Jakarta?" pertanyaan Ruby tiba-tiba saja terdengar sendu. Entah kenapa hati Ruby tidak ingin Zen pergi dari sini.
"Tentu saja, Aku nggak mungkin berlama-lama meninggalkan perusahaan di sana, By. Banyak yang harus aku kerjakan. Aku akan kembali lagi ke sini saat kamu sudah lulus sekolah."
"Kenapa harus nunggu lulus sekolah?"
"Kalau kamu belum lulus, mana bisa aku membawa mu ke Jakarta."
"Jadi Om mau bawa aku ke Jakarta?"
"Zen, By."
__ADS_1
Belum sempat Zen menjawab, Zantisya datang memanggil keduanya. Spontan saja Ruby langsung loncat dari pengakuan Zen.
"Iya Bun," jawab Zen dan Ruby bersamaan.
"Astagfirullah, kenapa wajah kalian jadi cemong begitu?" Pekik Zantisya saat melihat wajah anak dan menantunya bertabur bedak.
.
.
.
Sore harinya, Zen duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari kolam renang. Lelaki itu nampak fokus dengan iPad yang berlogo buah apel. Sekalipun ayahnya yang menghandle pekerjaan di sana, tentu saja masih banyak laporan yang masuk ke email untuk ia periksa.
Sesekali Zen melihat ke arah kolam renang, ada Safir dan Arfan yang sedang berenang. Sedangkan Ruby duduk di tepi kolam sambil merendam kakinya. Gadis mungil itu nampak sedang melamun.
Setelah selesai memeriksa laporan. Zen langsung meletakkan iPad nya di atas meja lalu berganti mengambil ponselnya.
"Om satu itu lagi chat sama siapa sih? Kok senyam senyum sendiri?" batin Ruby memperhatikan Zen.
Zen yang menyadari bahwa dirinya sedang di tatap tajam oleh Ruby, lelaki itu langsung membalas tatapan Ruby. Memberikan senyuman yang menggoda lalu mengedipkan satu matanya.
Kedua mata Ruby langsung membulat. Spontan gadis itu langsung memalingkan wajahnya. "Dasar Om Om berkepribadian ganda," ngedumel Ruby sambil menentramkan detak jantungnya. "Oh jantung, kenapa kamu berdetak cepat begitu saja?"
"Foto siapa itu?" tanya Zantisya yang entah sejak kapan ada di belakang Zen.
"Foto Zen sama Ruby," jawab Zen santai. Lelaki itu masih hanyut dengan foto yang sejak tadi ia pandang.
"Berciuman? Kapan?"
Zen baru sadar foto apa yang kini ketahuan oleh Bundanya. Dengan ragu Zen menoleh ke belakang. Seketika kedua mata Zen membulat, karena ternyata bukan hanya Zantisya yang ada di belakangnya. Tapi juga ada Arjuno.
"Aaa ...."
Bersambung ...
sebenarnya kalian nunggu part apa sih dari Zen dan Ruby 🧐😂
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️