Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 49 KEGALAUAN ZEN


__ADS_3

Tiga jam kemudian, Zen sudah kembali di kota metropolitan. Kota yang menjadi ibu kota negara Indonesia. Kota yang menjadi pusat berbagai macam perusahaan. Kota yang tidak pernah sepi dengan lalu lalang kendaraan. Kota yang di jadikan banyak orang untuk mengadu nasib.


Begitu pesawat mendarat di bandara Soekarno Hatta, Zen tidak langsung pulang ke rumah. Karena yang menjadi tujuan Zen saat ini adalah kantor pusat DS Group.


Zen hanya bisa menghela nafasnya. Mengingat kesibukannya yang selalu padat dengan urusan berbagai macam bisnis yang sejak dulu di pimpin Ayahnya. Dan kini sudah berada di bawah kendalinya.


"Pantas saja Om Adam nggak mau gantiin Ayah, dan memilih mengurus yang ada di Malang. Ternyata ini yang di hindari Om Adam. Kesibukan yang menumpuk," gumam Zen yang hanyut dengan pikirannya sendiri. Padahal Meeting sudah berjalan sejak lima belas menit yang lalu.


"Ooohhh ... pantas saja sekarang Ayah sama Nda begitu terlihat romantis di manapun mereka berada, padahal usia sudah tidak lagi muda. Mungkin saat Ayah masih memimpin perusahaan, quality time mereka sangat kurang," batin Zen semakin banyak menduga-duga.


"Terus aku gimana dong?" batin Zen sambil menusuk-nusukan pulpen pada keningnya. "Nggak enak banget kalau nantinya aku kekurangan waktu buat isi daya sama Ruby," batin Zen semakin meresahkan nasibnya, jika nanti Ruby sudah ia bawa ke Jakarta.


"Mana rasanya ciu*man itu enak banget," batin Zen sambil mengusap-usap bibirnya sendiri. "Gimana dengan rasa yang lainnya?" Zen semakin kalut dengan batinnya sendiri, sampai membuat keningnya mengerut karen takut nantinya waktunya bersama Ruby sangat kurang.


"Nggak bisa di biarkan ini," ucap Zen tanpa sadar. Alan yang sejak tadi memimpin jalannya meeting dan menyadari kalau Zen sedang hanyut dengan pikirannya sendiri hanya bisa menepuk jidatnya.


"Dasar pengantin baru bernasib LDR," batin Alan.


"Jadi pak Zen tidak setuju dengan acara yang sudah di ajukan dan siap tayang?" tanya salah satu petinggi perusahaan.

__ADS_1


"Eh!" Zen langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh orang yang ada di ruangan, orang yang nampak fokus menatapnya. "Ehm, maksud saya ini tidak bisa di biarkan kalau tidak segera di tayangkan. Bukankah trailer yang kita tayangkan kemarin mendapatkan respon yang sangat positif. Lagi pula acara ini sangat mendidik dan cocok di tontonan untuk semua kalangan usia. Jangan pikirkan rating, yang harus kita pikirkan adalah manfaatnya bagi masyarakat yang ada di luar sana," ucap Zen tenang.


Seketika Alan merasa lega dan juga kagum. Sekalipun sedang galau dengan hatinya sendiri, ternyata Zen masih bisa merekam semuanya dengan sangat baik.


Setelah Zen menandatangani semua hasil keputusan bersama, satu persatu orang mulai meninggalkan ruangan meeting.


.


.


.


Seharian di sekolah, sebisa mungkin Ruby tetap fokus menerima pelajaran hari ini. Detak jantung Ruby jelas masih bertalu-talu saat mengingat kejadian tadi pagi.


"Assalamualaikum ..." salam Ruby dan Safir bersamaan.


"Waalaikumsalam ..." jawab Zantisya yang sedang duduk di teras rumah bersama Arjuno.


Setelah Al bersalaman dengan Zantisya dan Arjuno, mereka. Bergegas masuk menuju kamar mereka.

__ADS_1


Setelah selesai mandi dan berganti baju, Ruby bergegas turun. Jalan kesana kemari, bukan untuk menyapa. Tapi hanya untuk mengetahui, apakah Zen sudah pulang bekerja.


"Belum pulang mungkin ya?" gumam Ruby lesu. Ruby langsung menuju ke kamarnya lagi, lebih baik menunggu lelaki yang setiap hari menjahilinya, di dalam kamar. Toh nanti suami Ruby itu langsung memasuki kamar, karena semua pakaian Zen memang sudah berada di satu lemari dengan Ruby.


Hingga tiba waktunya makan malam. Orang yang Ruby tunggu-tunggu kepulangannya, tidak juga menampakkan batang hidungnya. Padahal detak jantung Ruby masih belum aman jika harus bertemu Zen lagi. Bahkan gadis itu sudah mempersiapkan diri saat bertatap muka dengan Zen agar tetap biasa saja.


Di ruang makan, semua orang sudah mulai menikmati menu yang terhidang yang begitu nampak lezat. Hanya ada pembicaraan kecil di sela-sela makan malam mereka. Sesekali gadis berjilbab itu melirik kursi di sampingnya yang nampak kosong.


"Kok belum pulang juga," batin Ruby sambil menikmati makan malam.


"Kok tumben Om Zen belum pulang ke rumah Bun?" tanya Ruby setelah meneguk air minum. Rasanya sudah sangat penasaran dengan keberadaan lelaki yang biasanya usil menambahkan menu makanan di piringnya.


"Om nya Ruby kan sudah pulang ke Jakarta, setelah antar kalian sekolah tadi." Zantisya mantap heran anak perempuannya.


"Hah!" Ruby jelas terkejut mendengar jawaban dari Bundanya. Tangan yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulut seketika jatuh begitu saja.


"Bukannya suami By sudah pamitan tadi?"


Bersambung ...

__ADS_1


Sepertinya Zen harus berguru dengan Ayah Yusuf. Mengenai tutorial quality time dengan istri meskipun sibuk bekerja 🤣


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2