Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 103 KUMPUL KELUARGA


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Berbagai macam menu makanan sudah terhidang di atas meja makan.


Nampak jelas terlihat di wajah Yusuf dan Nissa, binar bahagia mereka berdua karena anak dan cucunya berkumpul semua dan bisa makan malam bersama. Hal yang sudah sangat jarang terjadi.


Yusuf memimpin baca doa sebelum menikmati hidangan yang sudah Nissa siapkan dari tadi pagi.


"Apalah jomblo seperti kita ini," sindir Divya saat melihat Nissa melayani Yusuf, Reina melayani Hendri, dan yang berbeda adalah Zen melayani Ruby. "Om bucin akut."


Zen terkekeh geli, sedangkan Ruby jadi malu-malu karena di goda.


"Makannya cepet nikah biar di bucinin suami kamu Vy."


"Iya sih yang udah nikah, sekarang giliran Vya yang di gojlokin suruh cepet nikah," keluh Divya menyindir Reina dan Hendri.


"Ora penak to, di omongin suruh cepet nikah?" tanya Zen. "Begitulah yang Om rasain dulu."


"Ya kalau adek dulu bilang kalau yang di tungguin masih bocil, sudah pasti kami ini nggak akan tanyain kamu kapan nikah dek," ucap Reina.


"Sudah ayo makan dulu, nanti di lanjut lagi obrolannya," ucap Nissa memperingati.


"Apa maksud Mama bicara seperti itu?" batin Vian.


Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Vian saat ini. Karena Vian memilih memendam perasaanya sendiri. Rasa yang hadir begitu saja saat pertama kali ia bertemu dengan Ruby. Walau jarang sekali saling menyapa, entah kenapa perasaan Vian berkembang biak dengan sendirinya.


Semua orang sudah mulai menikmati menu makan malam. Sedikit pembicaraan diantara semua orang. Karena mereka lebih fokus menikmati dan memuji bagaimana nikmatnya makan malam bersama keluarga tercinta, seperti saat ini.


"Apa semudah itu kamu menerima Om ku? Aku mengungkapkan perasaan ku lebih dulu, tapi kenapa kamu mudah sekali menerima Om ku yang baru saja kamu kenal," batin Vian.

__ADS_1


Vian memang tidak tahu, alasan Zen dan Ruby menikah cepat itu karena apa. Semua keluarga sepakat, hanya mereka saja yang tahu perihal kejadian salah kamar itu.


Bukankah sebaiknya tidak usah dibicarakan lagi perihal malam itu, walau sebenarnya diantara Zen dan Ruby tidak terjadi sejauh itu.


Sesekali kedua mata Vian melirik kearah Zen dan Ruby. Pasangan suami istri yang sesekali saling bergantian mengambil makanan di piring mereka.


Setelah selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang keluarga.


"Isss Mama manja banget sih sama Oma," ucap Queen karena Reina tidur di pangkuan Nissa.


"Yang rindu Oma bukan Mama aja loh," tambah Divya.


"Biarin."


Sekalipun sudah berumur, sepertinya sikap manja Reina pada Nissa tidak surut di telan waktu.


Di Meja terhidang berbagai macam kue dan camilan lainnya yang sudah Nissa siapkan.


"Mau nggak Mas?" tawar Ruby setelah memotong kue red velvet.


"Boleh," Zen melepaskan peci yang ia gunakan di kepala Ruby, karena mereka makan malam sepulang dari masjid. Zen menerima piring kecil yang terdapat kue.


"Banyak cogan nggak sih Mai kuliah di sini?"


Mendengar pertanyaan keponakannya, membuat Zen mendelik menatap Queen. Namun, Zen penasaran dengan jawaban Ruby.


Queen mengedipkan matanya, memberi kode pada Ruby untuk bersandiwara.

__ADS_1


"Banyak banget Queen, makanya kamu pindah kuliah saja disini. Biar kita bisa lihat co ... eggg Mas jangan nyekik By dong," ucapnya. Zen membelit leher Ruby menggunakan lengan tangan.


Kepala Ruby sampai menengadah dan bersandar pada perut Zen. Bukannya saling menatap kini wajah Ruby tertutup peci berwarna hitam itu.


Zen mengambil peci dan menggunakannya lagi. "Bisa-bisanya istri ku ini melihat cogan di kampus. Kamu itu sudah punya suami yang super ganteng, baik, pengertian, kurang apa lagi coba?" tanya Zen dengan sikap pede over dosisnya.


Zen tahu kalau Ruby dan Queen sedang mengerjainya. Jadi Zen harus pura-pura terpancing oleh drama yang ada.


"Ck ck ck. Ternyata adek ku ini masih saja pintar drama," gumam Reina.


"Lah bukannya Kakak sama Adek memang jago drama?" tambah Nissa.


Sedangkan yang lainnya justru terkekeh geli dengan tingkah Zen saat ini.


Ruby memukul tangan Zen. "Lepas Mas. By hanya bercanda."


"Bercandaan mu akan ku balas nanti malam," bisik Zen yang membuat Ruby mendelik.


"Dasar Om mesum," gerutu Ruby dalam hati, setelah Zen melepaskannya. Sekarang Ruby menyesal karena menanggapi Queen. Sahabatnya yang kini cekikikan melihat wajah kesal Ruby.


Sadarkah Zen dan Ruby. Kemesraan mereka berdua membuat salah satu hati lelaki merasa sakit. Sesak menyiksa dada.


Vian rasanya ingin beranjak dari sana. Namun, mana mungkin hal itu ia lakukan.


"Ihhh jadi pengen di bucinin juga," ucap Queen. "Tapi Queen nggak punya ayang."


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2