
Setelah selesai pemotretan dengan beberapa baju muslim bagian Ruby, akhirnya semuanya selesai juga. Ruby sangat menyukai pekerjaannya yang ia lakukan semenjak satu tahun lalu.
Selain bisa menghasilkan sendiri, hal ini juga membuat Ruby mendapatkan baju muslim secara gratis. Meskipun ke dua orang tua Ruby berkecukupan jika hanya untuk membeli apa yang Ruby mau. Tapi Ruby lebih senang jika ia bisa memiliki apapun karena usahanya sendiri.
Sekalipun Ruby sudah punya uang sendiri, tentu saja Arjuno tetap memberikan uang jajan sesuai dengan jatah ketiga anak Arjuno dan Zantisya.
"Aku ganti baju dulu," ucap Ruby setelah masuk ke ruangan di mana Queen menunggunya.
"Mau aku bantu?" tawar Queen. Kedua matanya masih fokus dengan layar ponsel.
"Terserah kamu lah," Ruby yang sudah merasa lelah, langsung bergegas masuk ke ruang ganti.
Ruby langsung keluar setelah selesai ganti dan membersihkan wajahnya. Ia langsung duduk di kursi rias untuk membersihkan wajahnya lagi, lalu menggunakan krim wajah.
"Kamu nggak bosen nunggu aku dari tadi?"
"Bosen lah. Tapi karena sambil nonton jadi nggak bosen," jawab Queen. Ia langsung beranjak dan mendekati Ruby. "Wah cincin baru nih," ucap Queen sambil menyentuh tangan Ruby.
Deg
Ruby terkejut saat melihat jarinya sendiri. Ia baru sadar sekarang bahwa semalam ia tertidur setelah mencoba cincin yang nampak indah tersemat di jari manisnya.
Ruby membasahi bibirnya menggunakan lidahnya. Gugup untuk menjawab, apa lagi saat ini, detak jantung Ruby bekerja sangat cepat.
"I-iya cincin baru, baru di kasih sama ayah."
"Sweet banget sih ayah kamu Mai."
Ruby hanya tersenyum. Kedua matanya masih menatap lekat cincin yang nampak indah itu.
__ADS_1
Queen segera mengambil ponselnya karena ia mendengar suara dering tanda ada yang menelponnya.
"Hai Om," Sapa Queen setelah menggeser tombol berwarna hijau tanda menerima panggilan video call dari om nya, Zen.
"Assalamualaikum sayang."
Queen malah cengengesan. "Waalaikumsalam, Om lagi ngapain?"
"Lagi kangen sama Queen."
Queen langsung mengerucutkan bibirnya. "Kalau kangen om pulang ke Malang dong. Masak kita terus yang ke Jakarta," pinta Queen manja.
"Nanti Om pulang saat syukuran saja ya."
"Janji ya om," todong Queen.
"Janji sayang, ini Queen lagi dimana?" tanya Zen karena merasa Queen tidak sedang di rumah.
"Mai siapa?"
"Sahabat Queen lah om." Queen mengarahkan kamera ponselnya tepat ke wajah Ruby agar Zen melihat teman dekatnya itu.
Hal itu membuat Zen yang ada di seberang sana terdiam karena melihat gadis yang nampak sedang melamun. Kamera ponsel yang begitu sangat dekat dengan wajah Ruby, membuat Zen melihat dengan jelas betapa lentiknya bulu mata Ruby, alis yang tebal, hidung kecil nampak mungil. Tidak mancung namun tidak juga terlihat pesek. Dan yang terakhir bibir mungil yang nampak menarik.
"Astagfirullah..." Batin Zen di seberang sana. Ia menggeleng kepalanya cepat. "Ingat Ruby Zen, Ruby." batin Zen lagi. Untuk pertama kalinya di dalam hidup Zen, terpesona dengan perempuan yang baru ia lihat. Dan parahnya ini hanya melihat melalui ponsel. "Kamu cuma tertarik sama Ruby, Zen," batinnya lagi.
"Yeee ... malah melamun lihatin cincin. Jangan-jangan itu cincin bukan dari ayah kamu tapi dari seseorang ya Mai?" tebak Queen mencurigai Ruby. Tangan Queen masih tetap mengarahkan layar ponselnya pada Ruby.
"Enggak kok, ini tu dari ayah." Elak Ruby agar Queen tidak curiga.
__ADS_1
"Suara ini?" batin Zen di seberang sana. Detak jantung Zen semakin berdebar setelah mendengar suara Ruby. "Kenapa suaranya terdengar mirip," batinnya lagi.
"Tuh om aku, ganteng kan?"
Ruby langsung sedikit menjauhkan wajahnya saat melihat layar ponsel Queen yang terlalu dekat dengan wajahnya. Sekarang Ruby bisa melihat lelaki yang beberapa kali ia lihat di layar televisi. Untuk beberapa detik tatapan Ruby dan Zen bertemu.
Ruby tersenyum ramah dan sedikit menganggukkan kepalanya. "Om," sapanya.
Zen juga tersenyum bersama detak jantung yang sudah tidak karuan setelah di berikan sebuah senyuman. "Hai, Mai." Sapanya. "Queen."
"Iya om." Queen mengarahkan kembali layar ponsel ke wajahnya.
"Sudah dulu ya, Om mau istirahat."
"Ok om. Queen tunggu kedatangan om ya."
"Siap sayang."
Bersambung ...
Promosi novel
Judul : Ketika Hati Telah Terbagi
Blur
Pernikahan antara Zayn Wilson dan Arandita Hutama sudah berusia 7 tahun lamanya. Namun, pernikahan yang sudah berjalan cukup lama itu, belum juga menghadirkan buah hati dalam rumah tangga mereka. Bukan karena mereka berdua mandul, tetapi karena Arandita belum siap untuk hamil. Alasan Arandita karena tidak ingin bentuk tubuhnya rusak.
Demi memenuhi keinginan sang suami yang menginginkan buah hati, Arandita mencari seseorang yang mau menikah kontrak dengan suaminya. Dia adalah Mega Wulandari. Zayn Wilson yang begitu mencintai sang istri tentu saja menolak saran Arandita, tetapi pada akhirnya Zayn mengikuti saran yang diberikan sang istri agar mereka tidak bertengkar terus menerus.
__ADS_1
Setelah empat bulan menikahi Mega, akhirnya Zayn mencari alamat rumah yang ditinggali Mega setelah sah menjadi istrinya. Zayn sudah memutuskan untuk mencoba menerima Mega sebagai istri keduanya. Lalu bagaimana hubungan Zayn dan Mega kedepannya? Apakah di antara mereka akan tumbuh perasaan cinta dan memiliki seorang anak?
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️