
Ruby keluar dari kamar mandi setelah di rasa tubuhnya sudah bersih. Gadis itu telah berhasil membuat seluruh tubuhnya sendiri memerah, karena begitu kuat Ruby menggosok tubuhnya. Ruby sampai bergidik ngeri, berfikir negatif kalau tubuhnya di jamah makhluk halus.
"Yang benar saja? Aku kan selalu membaca doa sebelum tidur," gumam Ruby sambil menelisik setiap sudut ruang kamarnya. "Atau jangan-jangan kamar ini angker!" Ruby mengenyahkan Pikirannya yang mulai kemana-mana. Berusaha untuk tetap positif thinking.
"Akhirnya keluar juga," ucap Zen saat melihat Ruby keluar dari kamar sudah dengan balutan dress dan jilbab yang sudah nampak cantik dan anggun. "Cantik dan mungil, menggemaskan sekali kamu By. Bagiamana nanti kalau ada yang terpesona lihat dia dan dekati dia?" batin Zen galau.
Ruby menatap heran lelaki yang sudah rapih. Siap untuk berangkat ke kantor. "Om ngapian lihat aku kaya gitu?"
"Eh. Nggak apa-apa. Ayo kita sarapan dulu," Zen menggeret tangan Ruby menuju ruang makan.
"Om beli makanan ini semua?" tanya Ruby sambil menelisik menu sarapan pagi ini.
Zen langsung menarik kursi lalu membawa tubuh Ruby agar duduk di sana. "Ini semua aku yang masak," ucap Zen setelah mendapatkan tubuhnya di kursi.
"Om bisa masak?" tanya Ruby belum percaya.
"Bisa dong," bangga Zen. "Selain bisa masak, aku juga ahli bela diri, ganteng mempesona, dan yang pasti kaya raya. Karena Ayah mertua mu sangat kaya," ucap Zen lawak. Tapi tangan Zen sambil mengambilkan makanan untuk Ruby.
"Halah. Aku juga bisa bela diri, cantik juga kata Bunda, Ayah aku juga kaya Om," timpal Ruby tidak ingin kalah.
"Nah kan itu perpaduan yang pas By."
"Maksudnya?" tanya Ruby sambil menikmati makanan pagi ini.
"Kalau kita bersatu jadi satu, bisa bayangkan bagaimana anak kita? Sudah good looking double power, jago bela diri, dan yang pasti kekayaan unlimited dari Opa dan Omanya," tutur Zen hanya berniat menggoda Ruby. Bahkan kedua alis Zen bergerak naik turun, bersama dengan senyuman yang menawan.
"Om bahas apa sih pagi-pagi begini?" ucap Ruby dengan wajahnya yang memucat.
"Bahas anak," jawan Zen santai.
"Jangan ngada-ngada ya Om."
__ADS_1
"Siapa yang ngada-ngada? Bukankah wajar kalau orang yang sudah menikah, menginginkan seorang anak?"
"Lalu kalau di antara kita ada yang mandul bagaimana?" tanpa sadar, Ruby terpancing dengan omongan Zen.
"Ya kita harus mencoba dulu, buat buktikan semuanya."
"Mencoba?"
Zen mengangguk. "Mau mencoba hubungan suami istri yang sesungguhnya nanti malam? Atau sekarang juga aku nggak masalah. Siap sedia dalam dua puluh empat jam."
"Isss, apaan sih Om." Ruby sampai salah tingkah dengan wajah yang memerah.
"Makan dulu By, nanti saja main ponselnya."
"Aku lagi pesan grab Om,"
"Grab? Buat apa?"
"Berangkat kuliah lah, buat apa lagi."
"Terus aku berangkat dan pulang kuliahnya bagaimana Om?"
"Aku yang akan antar jemput kamu. Ayo kita selesaikan sarapan kita dulu."
Ruby ingin sekali protes. Tapi saat melihat raut wajah Zen yang nampak tidak seramah tadi, membuat Ruby tidak berani komplain.
Mobil yang di kemudikan Zen sudah berada di parkiran universitas. Pada akhirnya, Ruby bisa melanjutkan kuliah di kampus ini karena Zen menggunakan jalan pintas. Hanya itu yang bisa Zen lakukan, karena pendaftaran penerimaan mahasiswa baru sudah jelas tutup.
"Mau kemana kamu By?" Zen mencekal tangan Ruby yang hendak membuka pintu mobil.
"Tidur Om. Ya jelas kuliah lah, apalagi coba?" Kesal Ruby yang sudah terburu-buru.
__ADS_1
"Kita belum pelukan By." Zen langsung memeluk Ruby yang pasrah saja.
"Haduh, bisa telat masuk kelas kalau begini caranya," batin Ruby, ia terus melirik jam tangannya.
"Om bisa di sambung nanti saja nggak pelukannya, aku takut telat ini."
Zen langsung merenggangkan pelukannya. Hal itu membuat Ruby merasa lega.
Cup
Zen mendaratkan kecupan di bibir Ruby. "Lunas pelukan pagi ini."
"Ooommm ..." Ruby menarik nafas mencoba sabar menghadapi Zen. "Aku komplain nanti saja," Ruby bergegas keluar dari dalam mobil. "Om Zen ini kenapa selalu bikin kau senam jantung," gerutu Ruby.
Sedangkan Zen, hanya tersenyum melihat langkah lari Ruby yang terburu-buru. "Aku harus bergerak sat set was wus dapetin kamu By."
Ruby bergegas menuju ruang kelasnya. Ruby bernafas lega saat memasuki ruang kelasnya, belum ada dosen di sana.
Ruby bergegas menuju kursi yang nampak kosong setelah mengedarkan pandangannya.
"Maaf, apa ada orangnya disini? tanya Ruby pada perempuan dengan rambut panjangnya.
"Nggak ada. Duduk saja di sini." Ruby langsung mendaratkan tubuhnya di kursi. "Aku Tiara."
Dengan senang hati dan senyum ramah, Ruby langsung menjabat tangan perempuan yang akan menjadi teman sekelasnya. "Ruby."
"Sudah menikah?" tanya tanya basa basi saat melihat cincin di jari manis Ruby.
Ruby mengangguk. "Sudah."
Tiara bernafas lega. "Aku juga sudah menikah," ucapnya senang sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️