Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 28 IJAB KABUL


__ADS_3

Sejak menyetujui keputusan sang Ayah tadi pagi hingga menjelang waktu magrib, Ruby lebih banyak diam di dalam kamar. Ruby lebih banyak membaca buku pelajaran, karena memang empat bulan lagi adalah hari kelulusan.


Mata dan mulut Ruby memang terpaku pada buku yang tengah Ruby baca. Namun, semua yang di baca sama sekali tidak ada yang nyangkut di dalam isi kepala Ruby. Pikiran Ruby seharian ini sudah melayang kemana-mana. Harap-harap cemas menunggu lelaki yang melamarnya, menghubunginya.


Ruby langsung terkesiap saat mendengar suara dering ponselnya. Membuat Ruby tersadar dari lamunannya. Ruby langsung menarik nafas dalam-dalam saat melihat nomor baru menghubunginya. Ruby yakin, yang menelponnya saat ini adalah lelaki yang ia tunggu sejak tadi pagi.


"Assalamualaikum," salam Ruby setelah menerima panggilan suara. Suaranya bahkan terdengar sangat lembut, hingga menggetarkan perasaan lelaki di seberang sana. Yang sudah pasti Zayn Dzuhairi Sucipto lah orangnya.


"Waalaikumsalam, Ruby Al Humaira."


Mendengar namanya di sebut secara lengkap oleh lelaki di seberang sana, membuat hati Ruby terasa bergetar. Namun, juga meninggalkan rasa sesak di salam dada.


"Tadi pagi, Om Arjuno menghubungi aku. Memberi tahu bahwa kamu ingin berbicara dengan ku. Ada apa By?"


Pertanyaan lelaki di seberang sana tentu membuat Ruby kesulitan memberikan jawaban. Tapi Ruby juga harus segera menyampaikan apa yang ingin ia katakan.


"Sebelumnya, Ruby ingin meminta maaf dengan Mas, karena Mas pasti menunggu jawaban dari Ruby terlalu lama."


Mendengar Ruby memanggilnya Mas, membuat hati Zen rasanya ingin terbang tinggi, melayang kemana-mana dan bersorak kegirangan. Tapi jika mengingat tadi pagi, Ruby memanggilnya Om membuat khayalan Zen terhempas kuat begitu saja. Karena itu artinya, Ruby pasti memanggilnya Om lagi. Biarlah, bagi Zen saat ini adalah menikahi Ruby secepat kilat melalui jalan tol yang tak terduga.


"Tidak masalah By. Aku akan menunggu dengan sabar untuk dapatkan jawaban dari kamu."

__ADS_1


"By minta maaf, karena tidak bisa menerima lamaran Mas," tutur Ruby to the point.


"Apa sudah ada lelaki yang memiliki hati Ruby?"


Ruby tersenyum. Mana mungkin dalam keadaan seperti ini, Ruby mengatakan kalau lelaki di seberang sanalah yang membuat Ruby jatuh hati karena niat baiknya.


"Tidak ada. Hanya saja, Ruby tidak pantas untuk Mas. Ruby berharap suatu hari nanti Mas akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari By."


"Tidak ada yang lebih baik dari kamu bagi ku By. Apa tidak bisa kamu pikirkan baik-baik lagi keputusan mu ini?"


"Maaf Mas."


"Sepertinya tidak ada celah untuk aku," entah kenapa, di seberang sana Zen juga merasakan sesak di dalam dada. "Apa boleh panggilan suara ini beralih ke panggilan video? Setidaknya, tolong izinkan aku melihat wajah mu yang sekarang By," modus terselubung Zen agar cintanya berbalas secara kilat.


"Tidak perlu By. Sekalipun kamu menolak ku, tapi sejak awal cincin itu memang aku berikan untuk mu. Cincin itu milik mu. Jika kamu tidak mau menggunakan cincin itu, simpan saja sebagai kenang-kenangan dari ku. Jika kamu juga tidak ingin menyimpan cincin itu, terserah mau kamu apakan. Karena cincin itu, sepenuhnya sudah menjadi milik mu."


.


.


.

__ADS_1


Rumah Arjuno sudah di ramaikan dengan kedatangan seluruh keluarga Yusuf, serta beberapa orang tokoh agama sekitar yang akan menjadi saksi pernikahan Zen dan Ruby.


Pernikahan siri yang memang di adakan secara dadakan itu, di laksanakan secara sederhana. Sangat jauh dari kata mewah. Sangat jauh dari angan-angan Zen yang ingin membuatkan sebuah acara pernikahan istimewa bersama Ruby, yang sudah ia tata rapih bagaimana konsepnya nanti.


Semua orang pasti ingin menikah sekali dalam hidupnya. Tentu menginginkan sebuah acara pernikahan seperti mimpinya. Tapi siapa yang bisa menyangka jika takdir membawa Zen dan Ruby, menikah dengan cara seperti ini.


Detak jantung Zen sudah terasa bergemuruh, bekerja sangat cepat. Kedua tangan Zen sudah berkeringat dingin karena terlalu nervous. Apalagi sekarang Zen sudah duduk berhadapan dengan Arjuno. Siap melafalkan ijab qabul.


"Mas Zen, perlu latihan terlebih dulu atau tidak?" tanya penghulu setempat yang memang bekerja di kantor KUA. Yang nantinya akan membantu mengurus berkas-berkas pernikahan Zen dan Ruby agar terdaftar di negara di saat usia Ruby sudah memenuhi syarat.


"Tidak perlu pak," jawab Zen yakin.


Arjuno melihat lelaki yang sebentar lagi akan sah menjadi suami anak perempuan satu-satunya. "Apa dia selama ini sudah latihan, mempersiapkan diri?" tanya Arjuno dalam hati.


"Kalau begitu, kita langsung ijab qabulnya sekarang. Silahkan Pak Arjuno."


Zen langsung menjabat tangan Arjuno.


"Zayn Dzuhairi Sucipto bin Yusuf Dzuhairi Sucipto ..."


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2