
Di Malang.
Sudah beberapa hari ini Arjuno dan Zantisya terus memperhatikan Ruby. Lebih tepatnya, cincin yang tersemat di jari Ruby. Nampaknya, Ruby tidak pernah melepas cincin sejak pagi itu.
Setelah makan malam, dan setelah selesai belajar bersama Safir dan Arfan, Ruby langsung masuk ke dalam kamar.
Ruby merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap cincin yang masih enggan ia lepaskan. Secara bersamaan Ruby mengingat di mana hari ia menolak ungkap cinta Vian padanya. Ruby memilih cepat meninggalkan Vian begitu saja. Karena Ruby juga tidak bisa menjawab siapa orang yang telah melamarnya.
"Orang seperti apa kamu?" tanya Ruby sambil menatap cincin. Ruby masih bingung dengan dirinya sendiri karena, bisa-bisanya saat Vian menyatakan cinta, yang Ruby ingat adalah cincin di jari manisnya.
Tok ... tok ... tok ...
"Kak ..."
"Iya Bun ..."
Ruby langsung bergegas beranjak dari tempat tidurnya, untuk segera membukakan pintu.
"Bunda, Ayah." Ruby langsung melebarkan pintu kamarnya agar kedua orang tuanya bisa masuk.
"By belum mengantuk?" tanya Arjuno setelan Ruby duduk di antara dirinya dan Zantisya.
"Belum ayah."
Zantisya mengamati ranjang Ruby, tidak nampak ada laptop di sana.
"By nggak lagi nonton drakor Bun." Ucap Ruby yang paham dengan Bundanya.
"Bunda kira tadi By lagi nonton."
"By nggak korupsi waktu buat nonton Bun."
__ADS_1
Ruby sadar, nonton drama Korea membuat ia kalap dan lupa waktu. Jadi, Ruby nonton hanya saat libur saja. Apa lagi ujian kelulusan sebentar lagi, membuat Ruby harus lebih fokus pada sekolahnya dulu.
"Bunda tahu." Zantisya mengusap puncak kepala anaknya.
"Ayah perhatiin sejak beberapa hari yang lalu, Ruby sudah menggunakan cincin itu."
"Eh ..." Ruby menatap kedua orang tuanya bergantian menunggu jawabannya. Kini Ruby sadar tujuan orang tuanya datang ke kamarnya malam ini. "Sebenarnya Ruby hanya ingin mencobanya saja ayah, lalu Ruby lupa untuk melepasnya."
"Lalu?"
Ruby kembali melihat wajah kedua orang tuanya secara bergantian. "Apa orang itu orang yang baik untuk Ruby?" tanyanya pelan.
"Insha Allah dia orang yang baik nak." Jawab Arjuno.
"Apa ayah dan bunda menyukainya."
"Meski pun dia sangat menyebalkan tapi ayah suka dengan tingkahnya." Jawab Arjuno mengingat bagaimana setiap pertemuannya dengan lelaki yang melamar anak gadisnya.
"Ayah." Peringatan Zantisya.
"Dengar bunda sayang." Zantisya terus mengusap kepala anaknya. "Kami memang menyukai lelaki yang datang melamar By, tapi bukan berarti By harus menerimanya. Kami akan menghargai apapun keputusan By."
"Benar nak." Kini Ruby beralih menatap ayahnya."
"Tapi dia tidak mengajak nikah cepat-cepat kan Yah, Bun?"
"Dia akan menunggu sampai By siap," jawab Arjuno.
"Bagaimana?" tanya Zantisya.
"Bismillahirrahmanirrahim ... " Ruby hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah malu-malu.
__ADS_1
"Ruby menerima dia?" tanya Arjuno antusias. Ruby kembali mengangguk lagi.
"Alhamdulillah..." ucap Arjuno dan Zantisya bersama. Sepasang suami istri itu memang sangat menyukai tingkah lelaki yang melamar Ruby. Mereka jelas penasaran. Apa sudah dewasa seperti sekarang, lelaki itu masih bersikap seperti dulu?
"Apa Ruby ingin tahu siapa namanya, atau bertemu orangnya, atau keluarganya?"
Ruby menggelengkan kepalanya. "Ruby ingin fokus dengan sekolah dan kuliah Ruby nanti ayah. Kalau ayah dan bunda setuju, artinya dia memang baik dan dari keluarga yang baik-baik."
"Ruby tidak ingin tahu wajahnya, mungkin saja lelaki itu buruk rupa."
"Ruby tahu, mana mungkin kedua orang tua Ruby menyetujui lelaki yang sudah om om dengan rambut yang sudah beruban kan?"
.
.
.
Di Jakarta
Sudah pukul 19.30 WIB, Zen baru saja pulang dari kantor. Lelaki tampan itu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk menghilangkan rasa pegal.
"Nda sama Ayah dimana?" gumam Zen. Karena biasanya di jam segini, kedua orang tuanya tengah bermesraan di ruang televisi. Oh sungguh orang tua yang selalu harmonis dimana pun berada.
"Bi, Nda sama ayah pergi kemana? biasanya jam segini masih nonton televisi." Tanya Zen pada salah satu ART.
"Bapak sama ibu pulang ke Malang mas. Memangnya mas Zen ndak di pamiti?"
"Apa? pulang ke Malang?" tanya Zen sampai terpekik. Bisa-bisanya kedua orang tuanya tidak memberi tahu lebih dulu. Tegaaa ... "Memangnya ada masalah apa bi, kok tiba-tiba pulang ke Malang tanpa kasih tahu Zen?" setidaknya Zen harus mendapatkan informasi akurat dari orang rumah.
"Wah kalau itu bibi juga tidak tahu, Mas."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️