
Setelah Zen meninggalkan rumah, disusul Hendri, Reina, dan juga Vian, semua orang kembali memasuki kamar mereka masing-masing.
"Ayy ..." panggil Nissa sambil mengusap dada Yusuf. Suami Nissa itu sejak tadi nampak terdiam dengan pikirannya sendiri.
"Apa kita yang salah telah memanjakan cucu-cucu kita sayang?"
Nissa menghela nafasnya pelan. "Kita menuruti apa yang mereka mau, setelah mereka menerima tantangan yang kita berikan. Selama sekolah, Divya dan Queen selalu mendapatkan juara, kita mengapresiasi usaha mereka dengan memenuhi apa yang mereka inginkan. Apa seperti itu juga kita terlalu memanjakan mereka?"
"Entahlah," Yusuf mengusap wajahnya sendiri. Memikirkan anak dan cucunya yang telah berseteru.
"Aku mengajari ketiga cucu kita untuk tanggung jawab dalam hal apapun. Mengajari mereka memasak, sekalipun dirumah, ada Art. Dan masih banyak hal, agar mereka bisa hidup mandiri saat jauh dari kita."
"Sudah ayo kita tidur," ajak Yusuf sambil memeluk Nissa. Yusuf akan mencoba memejamkan mata sekalipun rasa kantuknya belum menyerang, karena pikiran Yusuf hanya tertuju pada Zen dan Vian. Hingga membuat kepalanya terasa sakit.
***
Baru saja Zen memasuki apartemen. Bersamaan dengan Ruby yang menuruni anak tangga karena mencari keberadaan sang suami.
"Mas dari mana?" Ruby menghampiri Zen karena penasaran. "Kenapa wajah Mas?" tanya Ruby khawatir, saat melihat satu luka lebam di ujung bibir Zen.
"Bosen terlihat ganteng, jadi ya begini hasilnya," Zen mengikuti langkah Ruby menuju dapur.
"Mas yang bener dong," tuntut Ruby karena merasa gemes dengan suaminya. Disaat Ruby bertanya serius, justru Zen menjawab dengan candaan.
Ruby segera mengambil es batu dan kain bersih untuk mengompres wajah Zen.
"Aku sudah menjawab dengan benar," Zen menarik Ruby agar duduk di pangkuan Zen.
Ruby mengompres luka lebam di sudut bibir Zen sambil menatap ke dua mata sang suami.
"Mas pasti habis kelahi sama Kak Vian gara-gara By kan, Mas?" tebak Ruby yang menurutnya paling masuk akal.
"Aku harus memberinya pelajaran agar dia sadar, apa yang dia lakukan ke kamu sama ke Nda itu salah."
"Tapi kenapa harus sampai kelahi sih Mas? Bikin wajah Mas bonyok kaya gini."
__ADS_1
"Nggak apa-apa wajah jadi bonyok begini, yang penting anak itu sadar dengan kesalahannya sendiri," Zen menghela nafasnya. Mengeratkan lilitan tangannya, pada tubuh Ruby. "Jangan pernah menutupi hal apapun lagi. Suami dan istri itu harus saling terbuka dan saling percaya. Mengerti?"
"Mengerti Mas. Mulai sekarang, By pasti akan selalu terbuka dan percaya sama Mas."
"Aku yakin kamu percaya sama aku kan, sayang?"
"Percayalah, Mas kan kelewat bucin sama By," ucapnya percaya diri.
"True. Jadi sekarang aku menuntut kamu untuk selalu terbuka sama aku."
"Iya Mas."
"Buktikan dong sayang."
"Iya nanti kalau ada apa-apa By akan sampaikan semua ke Mas."
"Aku maunya sekarang."
"Hah!" Ruby sepertinya mulai telat menalar jika dirinya sedang di goda Zen.
"Seperti ini," Zen ingin bergerak membuka kancing piyama Ruby. "Awww ..." ringis Zen saat Ruby menekan kompresannya pada lebam di wajah Zen. "Sakit sayang ..." keluhnya.
"Di saat kaya gini, masih sempat-sempatnya Mas ini modusin By."
Semalaman Yusuf tidak bisa tidur. Merasakan kepalanya yang terasa sangat pusing dan dadanya yang terasa nyeri.
Pikiran Yusuf masih melayang kearah Vian. Sekalipun Vian bersama orang tuanya. Tapi Yusuf sangat khawatir kalau Hendri akan menghukum Vian.
Yusuf menghela nafas berat. Dadanya terasa nyeri dan detak jantung yang terasa bergemuruh cepat.
"Sayang," Yusuf membangunkan Nissa saat mendengar adzan subuh.
Nissa menggeliatkan tubuhnya, lalu membuka ke dua matanya.
"Sudah subuh ya Ayy."
__ADS_1
"He'em, Ayo bangun."
Setelah membersihkan diri, Yusuf langsung menatap alat sholat dan menunggu Nissa keluar dari kamar mandi.
"Ayy nggak ke masjid?"
"Enggak. Kepala aku rasanya pusing sekali," keluh Yusuf.
"Ya sudah ayo kita solat dulu. Setelah itu Ayy istirahat." Dengan cepat Nissa menggunakan alat sholatnya.
Yusuf dan Nissa sedang melakukan sholat jamaah berdua. Keduanya nampak khusu' saat menjalankan ibadah.
"Allahu Akbar."
Nissa ikut sujud setelah Yusuf lebih dulu sujud. Sudah 5 menit berlalu. Tidak ada instruksi dari Yusuf untuk melakukan tahiyat akhir.
Pikiran Nissa seketika berkecamuk, bersamaan dengan dada yang tiba-tiba terasa sesak.
"Allahu Akbar," Nissa bangun dari sujud terakhir sambil memejamkan kedua matanya erat untuk melakukan tahiyat akhir, agar Nissa tetap fokus menyelesaikan ibadahnya.
Setelah mengucap salam dan menolehkan wajahnya ke arah kanan dan kiri. Nissa mengusap wajahnya dan langsung membuka ke dua matanya.
"A-ayy ..." panggil Nissa pelan hingga suaranya bergetar. Nissa menepuk punggung Yusuf pelan karena posisinya masih tetap sujud. "A-ayy sholatnya belum selesai, ayo di lanjut dulu."
Brug
Nissa sedikit mendorong tubuh Yusuf, mungkin saja suaminya ketiduran. Tapi mana mungkin.
"Ayy ... Ayy ... bangun ayy ... sholatnya belum selesai."
Menyadari tidak ada pergerakan dari sang suami, Nissa langsung lari keluar kamar.
"Adaaammm ..."
Bersambung ...
__ADS_1
Banjir air mata ku 😭😭😭 Gimana bestie kalian sudah siap 😭😭😭
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️