Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 91 PACARAN SETELAH MENIKAH


__ADS_3

"Maaf ya Kak. By nggak tahu kalau Kak tinggal disini sebelumnya," Ruby jadi tidak enak hati karen tadi sempat mengira, kalau Tiara akan mengajaknya ke rumah orang tuanya.


"Nggak apa-apa By, orang yang mengurus kami di sini adalah orang tua bagi kami semua By."


Ruby tertegun menatap senyum tulus Tiara. Ternyata di balik raut wajah bahagia Tiara yang terpancar setiap hari, ada kisah seorang anak yang tidak tahu siapa orang tua kandungnya.


Ruby harus banyak bersyukur karena hadir ke dunia ini di dalam sebuah keluarga yang utuh dan sangat harmonis.


"By harap, sekarang Kakak bahagia dengan hidup Kakak."


"Tentu By, Kakak pasti bahagia. Mas Amran adalah sumber kebahagiaan Kakak saat ini."


"Semoga program hamilnya cepat berhasil ya Kak."


"Aamiin. By sama Pak Zen ingin langsung punya anak atau menunda dulu?" Tiara menggandeng tangan Ruby, melangkah mendekati rumah panti. Sedangkan Nina, perempuan itu tidak ikut keluar mobil karena sedang mengerjakan sesuatu.


"Eh itu, By juga nggak tahu Kak."


"Meskipun pernikahan By sudan hitungan bulan, tapi kan By baru merasakan indahnya pernikahan sesungguhnya. Jadi nikmati saja dulu waktu kalian berdua. Pacaran setelah menikah kan enak By. Mau ngapain aja dan di mana aja, nggak akan jadi masalah."


"Bener juga sih Kak," gumam Ruby.


"Kak Tiara," teriak beberapa anak kecil yang berlarian menuju ke arah Ruby dan Tiara.


.


.

__ADS_1


.


"Saya ingatkan sekali lagi, informasikan berita yang sesuai dengan kejadian sebenarnya. Tanpa ada yang di kurangi apalagi sampai di lebih-lebih agar terkesan dramatis. Jangan pernah menyampaikan berita hoax, karena dampaknya akan sangat besar untuk masyarakat di luar sana. Jadi sebelum sampai lulus tayang, pastika apa yang akan kita sampaikan sudah benar-benar jelas faktanya."


"Baik Pak."


"Nama baik DS Group ada di tangan kita semua. Jadi saya percaya dengan kinerja semua orang yang sudah mengabdikan diri di perusahaan ini."


"Ganteng banget ya Allah," puji salah satu karyawan saat Zen dan Alan keluar dari ruang meeting.


"Gen kegantengan Pak Yusuf benar-benar di turunkan ke Pak Zen."


"Andai aku punya kesempatan menjadi istri Pak Zen, mantu Pak Yusuf dan Bu Nissa. Ohhh lengkaplah kebahagiaan ku. Nggak perlu kerja keras, tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah."


"Mimpi mu terlalu urakan bestie."


"Memang nggak ada salahnya. Tapi perlu di ingat, kalau ingin jadi istri pak Zen, kamu harus bisa menjaga seperti Bu Ruby."


Perempuan yang sejak tadi menghalu, kini menunduk melihat penampilannya sendiri. "Ya Allah penampilan ku urakan," keluhnya. "Ayo kerja yok."


Zen mendaratkan tubuhnya di kursi kerja, baru saja Zen mengambil ponselnya untuk melihat apakah Ruby memberikan kabar. Ponsel Zen mendapatkan panggilan video dari orang yang jauh di sana.


"Alvian," gumam Zen, sambil menggeser icon berwarna hijau. "Assalamualaikum Vian."


"Waalaikumsalam. Lagi sibuk Om?"


"Nggak juga. Kenapa?"

__ADS_1


"Vian mau minta pendapat Om. Dari kedua bentuk cincin ini, mana yang lebih bagus?"


Dalam banyak hal, Vian memang lebih banyak bertanya pada Zen. Menurut Vian apapun yang di pilih Zen adalah pilihan yang paling tepat dan yang pasti paling cocok.


"Kamu mau memberikan cincin pada pacar mu?"


"Bukan pacar Om. Vian akan memberikan cincin ini pada perempuan yang Vian suka, saat nanti pulang ke Indonesia."


Zen mengangguk. "Seperti apa ciri-ciri gadis yang kamu suka?"


"Cantik, mungil, pintar, solehah, sederhana. Sekalipun dia anak orang berada, tapi dia tetap bekerja keras."


Zen terkekeh. "Pintar kamu cari perempuan yang pekerja keras. Masalahnya perempuan tangguh seperti itu apa mau sama keponakan Om yang manjanya astagfirullah," ujar Zen fakta.


Alvian Reindri Ann Wijaya. Anak lelaki satu-satunya di keluarga Hendri dan Reina, tentu sangat di sayangi. Anak hasil kebobolan, yang awalnya tidak di inginkan kehadirannya oleh Reina.


"Makannya nanti kalau Vian sudah pulang ke Indonesia, angkat Vian jadi anak buah Om."


"Om harus berpikir ulang untuk menerima kamu bekerja di sini."


"Om nggak akan nyesel punya pegawai seperti Vian, Om. Apalagi Vian lulusan luar negeri."


Zen hanya menggelengkan kepalanya. "Jadi ini mau meminta lapangan pekerjaan atau meminta pendapat perihal cincin?"


"Cincin Om. Jadi yang mana bagusnya?" Vian kembali mengarahkan ponselnya menjadi kamera belakang, agar Zen bisa melihat dengan jelas bentuk dua cincin yang ada di sana.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2