
Ruby mengedarkan pandangannya, menelisik ruangan kerja sang suami. Ruangan kerja yang di dominasi dengan warna putih, warna yang sangat di sukai Zen.
Ruang itu juga tidak terlihat ramai dengan berbagai pernak pernik, hanya terdapat sofa dan meja, Dispenser, lemari pendingin, meja dan kursi kerja Zen. Terdapat dua kursi di depan meja kerja Zen. Di atas meja kerja terdapat komputer dan beberapa berkas dan perlengkapan lainya. Serta rak buku yang begitu tertata rapih.
Ruby melangkah mendekati jendela kaca. Dari atas sini, tentu Ruby dapat melihat bagaimana ramainya lalu lalang kendaraan di luar sana.
Ruby melihat bingkai foto kecil yang terdapat di atas meja kerja. Bergegas Ruby melihat foto itu.
"Foto ini?" Ruby sangat tidak menyangka jika Zen meletakkan foto masa kecil mereka di atas meja kerjanya. Foto Zen kecil bersama Ruby yang masih berusia dua tahun. Terlihat foto mereka yang tertawa lepas. Membuat Ruby tersenyum sendiri saat ini.
"Apa Mas segitu sukanya sama By?" batin Ruby. Ia masih terus menatap lekat foto itu. "Apa benar yang di katakan Nda, semuanya hanya tentang By? By jadi merasa sangat beruntung."
Ruby mendaratkan tubuhnya di kursi kerja Zen lalu meletakkan bingkai foto di tempatnya. Ruby menundukkan wajahnya, dapat ia lihat sebuah laci yang tidak tertutup rapat.
Ragu-ragu Ruby ingin menarik laci tersebut. Entah kenapa tiba-tiba saja Ruby menjadi penasaran. Demi meloloskan rasa ingin tahunya, Ruby menarik laci dan di dalamnya terdapat sebuah ponsel. Jelas nampak ponsel model lawas.
"Apa ini masih bisa di gunakan?" tanya Ruby sambil mengambil ponsel jadul itu, lalu menekan tombol power.
Jika biasanya Zen selalu meninggalkan ponsel yang selalu ia gunakan di saat meeting. Namun tidak untuk sekarang. Semenjak Zen menikahi Ruby, Zen tidak lagi meninggalkan ponselnya begitu saja, dalam waktu yang lama.
"Hebat sekali, ponsel jadul seperti ini masih bisa di gunakan," tutur Ruby setelah layar ponsel itu menyala. "Pakai password lagi," gumamnya. Ruby berfikir sejenak untuk menimba, kata apa yang menjadi password ponsel jadul di tangannya ini.
Dengan penuh rasa percaya diri, Ruby mengetik empat huruf, tepatnya nama Ruby sendiri. "Ya Allah, password saja pakai nama By!" gumamnya tidak percaya.
Di layar wallpaper saja sudah menampilkan foto Ruby dan Zen kecil, lalu ada foto apa saja di dalam ponsel yang masih bekerja cukup baik itu.
Begitu banyak foto dan video saat Zen berada di alun-alun Malang, di Arko Restoran, dan juga pantai tentunya. Dokumentasi pertama yang masih aman berada di ponsel jadul itu.
Ruby benar-benar di buat tersanjung dengan perasaan yang Zen punya. Merasa begitu sangat di cintai oleh lelaki yang tepat. Meskipun cara mereka menikah karena kesalahan yang tidak sengaja terjadi.
__ADS_1
"Bagaimana cara By membalas perasaan Mas?"
.
.
.
Satu persatu orang yang berada di ruang meeting mulai keluar dari sana. Menyisakan Zen, Alan, dan Nabila.
Agenda meeting hari ini adalah membahas tentang rumah sakit yang baru beberapa bulan terakhir telah di buka. Beroperasi memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.
Zen menanamkan sahamnya sebanyak 50%, Alan 15% dan Nabila 35%. Rumah sakit itu di kelola di bawah tanggung jawab Nabila.
Tiga orang yang bersahabat cukup lama itu akhirnya bisa mewujudkan mimpi mereka, lebih tepatnya mimpi Nabila yang ingin mendirikan rumah sakit.
Nabila sangat bersyukur memiliki sahabat yang membantu dan mensupportnya hingga mimpinya terwujud. Apalagi Zen dan Alan mempercayainya dalam mengendalikan kinerja rumah sakit yang sudah semakin meningkat dalam hal pelayanan.
"Belum di charger."
"Kamu kenapa sih Zen?"
"Nggak apa-apa."
"Nggak apa-apa tapi muka di tekuk koyo gombal amoh Zen," ejek Nabila yang selalu blak-blakan mengatai Zen.
Zen menarik nafasnya pelan. "Kalian bakal tahu kalau kalian nikah. Heh ngomongin nikah, kalian kapan nikah jomblo terus sampek tua kapok."
"Ngejek terus mentang-mentang udah nikah," ucap Nabila.
__ADS_1
"Aku males ah nikah kalau nanti muka ganteng ku kusut kaya Pak Bos."
"Eh sumpah, jangan sok pede ngapa kalau ngomong," ucap Nabila sambil menepuk keras lengan Alan.
"Lah, gini-gini aku sangat pantas di ajak kondangan," ucap Alan.
"Lebih pantas lagi kalau kalian mejeng di atas pelaminan. Nih kalau kalian nikah aku kasih saham ku 5%."
"Tambah lah Zen," ucap Nabila spontan.
"Jadi kamu mau nikah sama aku?" tanya Alan menatap Nabila serius.
"Eh," wajah Nabila langsung terpaku memerah membalas tatapan Alan hingga salah tingkah.
"Hahaha ... tegang banget muka kamu Bil," ucap Alan membuat wajah Nabila memucat.
Nabila langsung berdiri. "Nggak lucu Al. Mana card ruang kerja kamu Zen, berkas ku ketinggalan di ruangan kamu."
Zen memberikan kunci ruang kerjanya. Dan Nabila langsung meninggalkan ruang meeting membuat Alan kicep.
"Dasar gob*Lok," umpat Zen kesal pada Alan karena tidak peka.
***
Ruby langsung melihat kearah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Kedua mata Ruby membulat saat melihat orang yang baru saja memasuki ruang kerja suaminya.
"Kamu ..."
Bersambung ...
__ADS_1
Selamat malam dan selamat istirahat 🥰
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️