
Dua jam sudah berlalu, tentu saja malam semakin larut. Namun, hal itu tidak bisa membuat ke dua mata Ruby terlelap.
Ruby langsung membuka kedua matanya saat mendengar suara nafas Zen yang teratur.
Ruby yang sejak tadi tidur memunggungi Zen, gadis mungil itu langsung mengubah posisi tidurnya ke arah Zen.
Ruby menatap lekat wajah lelap Zen. lelaki yang posisi tidurnya miring ke arah Ruby.
"Setelah peluk aku seperti tadi, kenapa om bisa tidur nyenyak seperti ini? Om sadar nggak sih sudah bikin aku deg-degan."
Ruby mengamati wajah Zen dalam-dalam, walau pencahayaan lampu temaram. Ruby sedikit mendekatkan diri agar bisa melihat Zen lebih dekat.
Ragu-ragu gadis itu mengulurkan tangannya, ingin menyentuh wajah Zen. Namun, urung Ruby lakukan karena takut Zen terbangun.
"Padahal aku nikah sama Om masih dalam hitungan hari, tapi kenapa bisa dengan cepat Om dekat dengan Ayah dan Bunda, akrab dengan Safir dan Arfan," gumam Ruby sambil mengingat bagaiman interaksi Zen selama sudah menikahinya.
"Om benar-benar membuat semakin ramai rumah ini."
Tidak ingin kalut dengan pemikirannya sendiri, Ruby akhirnya memilih memejamkan matanya. Mengingat besok waktunya sekolah. Rasanya kapok saat merasakan tubuh yang kurang istirahat.
.
__ADS_1
.
.
Setelah menggunakan seragam lengkap, Ruby tentu saja bergegas menuju meja rias untuk menggunakan perawatan wajah dan lainnya. Setelah selesai, di rasa nampak cantik. Ruby langsung menuju lemari kecil, tempat khusus menyimpan jam tangan.
Mata Ruby nampak menelisik jam tangan mana yang ingin ia gunakan hari ini. Belum sampai Ruby mendapati jam yang ia inginkan, pandangan Ruby nampak fokus ke arah kotak kecil yang terdapat lambang harinya. Ruby langsung mengambil kotak kecil itu dan kembali duduk di kursi rias.
Ruby membuka kotak kecil yang berisi cincin lamaran dari seorang lelaki yang entah siapa pemiliknya.
"Apa aku sudah melupakan mu?" gumam Ruby menatap cincin lamaran yang nampak indah.
Ruby mengambil cincin mungil itu dari tempatnya, lalu membandingkan dengan cincin yang tersemat di jarinya. Entah apa yang di pikirkan gadis cantik itu, hingga ia hanyut dalam lamunannya sendiri.
"Baru sadar kalau Ruby cantik?" jawab Ruby cepat sambil melihat Zen, saat lamunannya bubar. Hidung Ruby bahkan hampir menyenggol bibir Zen, karena jarak yang sangat dekat. Tentu saja Ruby langsung menjauhkan wajahnya.
Zen tersenyum manis, membuat Ruby terasa di hipnotis. "Maksud aku cincin yang kamu pegang, cantik."
Ruby langsung melihat cincin yang masih ia pegang. "Benar, cincinnya memang cantik," ucap Ruby pelan.
Zen langsung mengambil benda mungil itu dari tangan Ruby dan bergegas menggunakan di jari manis Ruby. "Tuh kan beneran cantik, sangat pas di jari kamu By."
__ADS_1
Ruby benar-benar terpaku dengan senyum dan tatapan Zen saat ini. Entah kenapa, ada desiran aneh dan menyentuh hati Ruby secara tiba-tiba. Sulit untuk di jabarkan, namun yang pasti, hati Ruby terasa menghangat.
"Kenapa tidak kamu gunakan saja cincin ini?" tanya Zen. Ruby bahkan tidak sadar jika sejak tadi tangannya masih di genggam Zen. Jari Zen mengusap cincin yang belum di ketahui Ruby bahwa dia lah pemiliknya. Dialah yang memesan cincin itu secara khusus untuk melamar Ruby.
Ruby langsung menarik tangannya dari genggaman Zen dan dengan cepat melepas lalu meletakkan cincin itu pada tempatnya.
"Ruby sudah pakai cincin, kenapa harus menggunakan cincin lain?" tanya Ruby sambil memperlihatkan secara spontan cincin pernikahan mereka.
Zen benar-benar tidak menyangka. Istri kecilnya ini berarti tetap menghargai kehadirannya sebagai suami.
Sulit rasanya menahan perasaan yang memuncak setiap harinya. Menyesakkan perasaan Zen yang sebenarnya ingin sekali mendapatkan Ruby seutuhnya.
Kedua mata Ruby langsung melebar begitu Zen mendaratkan satu kecupan di pipinya.
"Ayo turun, sudah waktunya sarapan. Lalu aku antar ke sekolah."
"Om kenapa cium cium aku," pekik Ruby saat menyadari pipinya telah di sentuh dengan benda kenyal.
"Pagi ini aku yang cium pipi kamu, besok kamu yang wajib cium pipi aku By," ucap Zen santai sambil berlalu begitu saja. Padahal, kaki Zen rasanya lemas karena mencium pipi Ruby dalam keadaan sadar.
"Dasar Om Om. Pagi ini pipi aku yang di cium tanpa permisi, besok apalagi," gerutu Ruby sambil menyentuh dadanya yang terasa berdebar.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️