Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 107 PASANGAN BUCIN


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul di ruang makan, untuk menikmati sarapan pagi mereka. Di atas meja terdapat roti tawar, roti bakar, sereal, bubur ketan dan kacang hijau, dan juga nasi goreng. Menu sarapan yang bisa dinikmati sesuai selera. Yang belum datang ke ruang makan hanya tinggal Zen, Ruby, dan Vian.


Kali ini Zen dan Ruby turun melewati tangga. Zen yang sudah rapih dengan pakaian kerjanya, berjalan di depan Ruby sambil membawakan beberapa buku milik Ruby.


Sedangkan Ruby berada di belakang Zen. Bergelut manja mengekang leher Zen. Membuat Zen jalan hati-hati sambil berpegangan pada pagar tangga.


"Di gendong nggak mau tapi nempel kaya prangko," ucap Zen.


"Ih, siapa juga yang nempel-nempel," Ruby melangkah lebih dulu menuju ruang makan.


Zen dan Ruby bahkan tidak tahu, kalau adegan manjanya Ruby terpantau kedua mata Vian. Lelaki yang terus-menerus terbakar oleh rasa cemburu karena perasaannya sendiri.


"Loh baru turun juga kamu Vian?" tanya Zen setelah meletakkan buku milik Ruby dan tas kerjanya di atas meja, yang terletak tidak jauh dari tangga.


"Iya Om."


"Ya sudah, ayo sarapan dulu," ajak Zen karena Vian kembali mematung.


"I-iya Om," Vian mengikuti langkah kaki Zen menuju ruang makan.


"Mas mau sarapan apa?" tanya Ruby.


Zen menatap seluruh menu yang tersaji. "Bubur saja yang."


Ruby dengan cekatan mengambilkan menu sarapan untuk sang suami.


"Kok tadi subuh nggak ke masjid Zen?" tanya Yusuf.

__ADS_1


Wajar Yusuf menanyakan hal itu, karena biasanya Zen selalu bangun cepat dan mereka akan pergi ke masjid terdekat.


Lagi pula, toh semalam Zen tidur sendiri. Kalau tidur dengan Ruby sudah pasti Yusuf tidak akan bertanya.


"Kesiangan Ayah. Zen bangun saat sudah iqomah," jawab Zen santai. Sedangkan Yusuf hanya mengangguk saja.


"Kamu pindah kamar jam berapa Mai? Aku kebangun jam tigaan kok kamu udah nggak ada," ucap Queen dengan wajah polosnya.


Ruby yang baru saja memberikan semangkuk bubur pada Zen dan kembali duduk, ia hanya bisa mendelik melihat Queen.


"Makan nasi goreng mu Queen," perintah Zen.


Sebenarnya Zen tidak ambil pusing tentang perkiraan orang-orang yang pasti sedang menilai ke arah sana. Toh Zen melakukan itu dengan istrinya sendiri. Hanya saja, Zen tidak tega melihat wajah memerah dan menahan malu yang terlihat di wajah Ruby.


"Pasti Om yang suruh Mai pindah ke kamar kan?" todong Queen yang belum peka.


"Sudah ayo, kita sarapan dulu," ucap Nissa menghentikan semuanya. Nissa juga tidak tega melihat wajah Ruby yang semakin memerah.


Semua orang sudah mulai fokus dengan menu sarapan yang sudah mereka ambil, sesuai dengan selera masing-masing.


Entah berapa kali, Vian melirik ke arah Ruby dan Zen. Melihat bagaimana isengnya Ruby mengganggu Zen sarapan.


Ruby yang makan roti tawar, bukanya memberi selai pada roti. Justru Ruby mencelupkan rotinya pada kuah bubur yang ada di mangkuk Zen.


"Kak Vian mau keluar?" tanya Queen saat memperhatikan penampilan Vian.


"Iya. Aku mau lihat lokasi dan suasana kampus x."

__ADS_1


"Loh itu kan tempat Maira kuliah."


"Benarkah?"


"Hari ini Queen mau ikut Maira ke kampus. Bagaimana kalau kita pergi sama Kak Vian saja Mai? Biar Om langsung berangkat kerja," usul Queen.


"Eh." Ruby menatap Queen lalu melihat Vian sekilas. "Kenapa tatapannya seperti itu?" batin Ruby.


"Sayang mau pergi sekalian sama Vian?" sebenarnya Zen tidak ingin menanyakan hal ini. Karena Zen lebih suka kalau dirinya lah yang mengantar Ruby kuliah.


"By mau di antar Mas saja. Toh kampus sama kantor nggak jauh."


Mendengar jawaban sang istri membuat Zen tersenyum senang. Zen sangat bersyukur Ruby bisa merasakan kata hatinya.


"Hanya sekedar ke kampus saja kamu bahkan tidak mau Mai. Padahal ada Queen juga," batin Vian yang sangat berharap. Seketika raut wajah Vian berubah.


"Dasar pasangan bucin," cibir Queen. "Queen ikut Kakak ya?"


"Loh, kamu nggak ikut sama Om saja?" tawar Zen.


"Ogah Om. Yang ada Queen jadi penonton kebucinan Om sama Tante."


"Apa aku salah menilai? Kenapa wajah Vian terlihat kecewa mendengar jawaban Ruby?" batin Nissa yang mulai curiga. "Semoga dugaan ku salah," harap Nissa. Namun, Nissa harus memastikannya lagi.


Bersambung ...


Siap nggak nih menyaksikan huru hara di dalam keluarga yang adem ayem 🤭🤭🤭

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2