
Ruby sudah pasti akan memikirkan tiga permintaan dengan sangat baik setelah nanti ia menang telak, mengalahkan Zen.
Ruby melirik lelaki yang baru selesai mencuci wajahnya. "Siap-siap saja sebentar lagi juga itu wajah aku penuh dengan bedak lagi," batin Ruby percaya diri.
"Sudah siap?"
"Aku sudah siap menang Om. Jangan menyesal ya nanti dan harus tepati janji, Om wajib turuti permintaan ku."
Zen mengangguk, melempar senyum penuh arti pada gadis polos yang cukup bar-bar. "Kamu juga harus turuti permintaan ku tanpa komplain sedikitpun."
"Ok!"
"Habis kau By, setelah ini," batin Zen dengan senyum seringainya.
Zen dan Ruby sudah mulai fokus main game. Ruby tentu saja menggunakan kepiawaiannya untuk mengalahkan Zen. Di permainan pertama Zen sengaja membiarkan Ruby mengalahkannya.
"Yeee .... menang," sorak Ruby kegirangan.
Zen tentu menatap senang, melihat istri kecilnya nampak bahagia. "Berbahagialah terlebih dulu sayang ku," batin Zen.
"Tuh kan, By bilang juga apa? Om pasti kalah."
"Masih ada empat putaran lagi By."
Ruby langsung memenuhi ke dua telapak tangannya, siap membuat cemong wajah Zen yang ganteng.
"Sini Om."
__ADS_1
Zen langsung menundukkan wajahnya agar lebih dekat dengan Ruby. Kedua tangan gadis berjilbab itu langsung mengusap pipi Zen.
"Ini hukuman yang pertama," ucap Ruby. Ke dua tangan Ruby berhenti saat sampai dagunya Zen.
Ke dua tangan Ruby yang menekan pipi Zen, hal itu membuat bibir Zen terkumpul. Membuat ke dua mata Ruby jadi berpusat pada bibir yang nampak memerah.
"Kenapa bibirnya lebih merah dari punya aku?" gumam Ruby. Tanpa sadar, Ruby menelan salivanya secara kasar. Dan membasahi bibirnya menggunakan lidahnya berulang kali.
Netra Ruby kemudian menatap ke dua mata Zen, yang ternyata menatapnya. Spontan ke dua tangan Ruby menutup kedua mata Zen.
"Ngapain liatin Ruby kaya gitu?" sebisa mungkin Ruby mengatur deru jantungnya yang tiba-tiba memompa dengan sangat cepat. Ruby mencoba mengusir ketertarikannya pada bibir Zen. "Lelaki mana yang sial telah merasakan bibir semenggoda itu? Astagfirullah Ruby kenapa otak kamu jadi nakal seperti ini?" batin Ruby berteriak.
"Kamu cantik."
"Apa Om baru sadar kalau By itu cantik?"
"Dari dulu?"
Zen tersenyum menatap wajah Ruby yang penuh tanya. "Kita lanjut gamenya. Aku sangat penasaran dengan tiga permintaan mu,"
"Siapkan mental ya Om."
Satu jam sudah berlalu, Kedua wajah sepasang suami istri yang sejak tadi bergelut dengan game itu, kini wajah mereka sudah nampak di penuhi bedak.
Keceriaan yang tadi ada di wajah Ruby, kini sudah sirna begitu saja. Bagaimana mungkin di game yang terakhir, Zen mengalahkannya dengan sangat mudah. Membuat poin Zen tiga, sedangkan Ruby mendapatkan poin dua.
"Kita nge-game sekali lagi Om," tantang Ruby yang belum terima atas kekalahannya.
__ADS_1
"Boleh. Tapi kalau sampai aku yang menang, aku meminta sesuatu di luar tiga permintaan Yang akan aku ajukan. Bagaimana?"
Ruby diam berfikir, gadis itu menatap wajah Zen yang penuh dengan bedak. "Tapi kalau aku menang, Om batalkan tiga permintaan yang akan Om ajukan."
"Deal."
Ruby menatap tangan Zen yang mengajaknya berjabat tangan. Menatap wajah Zen yang terlihat sangat yakin bahwa dia lah yang pasti akan menang.
Ruby menghembuskan nafasnya pelan. "Apa saja tiga permintaan Om?"
Zen langsung menarik tangannya yang mengambang di udara. "Jadi kamu menyerah?"
"A-aku hanya kasih kesempatan Om buat mewujudkan 3 permintaan yang Om inginkan."
"Setelah mendengar permintaan ku, kamu harus menuruti tanpa komplain."
"Ok."
"Permintaan pertama ku, mulai malam ini kamu harus suka rela berbagi ranjang dengan ku,"
"Hah!"
Seketika kedua mata Ruby melebar mendengar permintaan Zen yang pertama, lalu bagaimana dengan dua permintaan selanjutnya.
"Ma-maksudnya berbagi ranjang apa Om?' tanya Ruby terbata. Pikiran sudah melayang kemana-mana, mengingat adegan yang hampir saja terjadi.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya