
Setelah memasuki kamar mandi, Zen langsung memasukkan tubuh Ruby ke dalam bathtub yang sudah Zen isi dengan air hangat.
"Katanya berendam di air hangat begini, bisa mengurangi rasa nyeri sekaligus relaksasi."
"Baru kali ini berendam jam segini," ucap Ruby masih nampak protes. "Tapi emang enak banget sih Mas rasanya," Ruby memejamkan mata menikmati aroma terapi yang ada di sana. Begitu sangat menenangkan dan menyegarkan.
Dengan cepat Ruby membuka kedua matanya, saat merasakan ada seseorang yang ikut masuk ke dalam bathtub.
"Mas ngapian ikut masuk?" tatapan Ruby penuh selidik, menelisik lelaki yang sudah mengatur posisi di depannya.
"Ya ikut mandi lah By. Sambil pijat kaki kamu," ucap Zen sambil mengurut kaki Ruby.
Kedua mata Ruby semakin memicing tajam. "Mas mencurigakan."
"Nggak boleh main curiga sama suami sendiri By. Pejamkan mata mu dan nikmati pijatan tangan ku."
Ruby memilih menghilangkan rasa curiganya, kemudian memejamkan mata dan menikmati tangan Zen yang terus mengurut kakinya. Rasanya sangat menyenangkan dan menenangkan.
"Enak kan By?" tanya Zen setelah hampir 15 menit memijat.
"He'em. Enak banget Mas," jawab Ruby.
perempuan yang sejak tadi memejamkan mata, seketika sang pemilik membuka kedua kelopak matanya saat merasakan usapan tangan Zen yang semakin menjalar naik.
__ADS_1
Bukan sebuah usapan karena memijat, tapi usapan sensual yang senagaja membangkitkan hasrat.
"Mas mau apa?"
"Kan sudah aku bilang tadi, kamu harus membayar mahal inisiatif ku, sama pijatan yang baru saja aku berikan," tubuh Zen sudah bergerak mendekati Ruby.
"Membayar mahal bagaimana Mas? Tabungan ku sama uang Mas, jelas banyak punya Mas," Ruby berucap dengan wajah lugunya. Membayar sama dengan uang, mungkin itu yang ada di pikiran Ruby saat ini.
Zen mengangguk. "Karena kamu nggak punya uang banyak. Aku sebagai suami yang sangat baik, akan menawarkan cara yang lain tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun."
"Caranya?"
Zen menahan tawanya sendiri karena Ruby sama sekali tidak mencurigainya.
"Mengulang seperti yang semalam," bisik Zen.
Ucapan hanya sebuah kata saja. Mulut boleh berkata seolah enggan melakukan hal lain selain mandi. Tapi nyatanya, sepasang suami istri yang baru merasakan nikmatnya malam pengantin, kini keduanya kembali berulah seolah yang semalam belum cukup mereka rasakan.
Baik Zen maupun Ruby kembali membuat kegaduhan. Desah nafas mereka seolah sedang sahut menyahut. Mencoba untuk kembali merasakan bagaimana indahnya puncak tubuh setelah melepaskan apa yang tertahan di dalam raga. Membuat air yang ada di dalam bathtub bercipratan ke lantai karena ulah mereka berdua.
Entah berapa kali Zen membawa Ruby hanyut dalam buaiannya. Karena saat ini mereka berdua sudah berpindah tempat di ruangan shower. Tubuh mereka lemas sambil menikmati percikan air hangat yang jatuh menyirami tubuh mereka.
"Pagi yang sempurna," bisik Zen, lalu mendaratkan kecupan di kening Ruby. "Terimakasih."
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri, Zen lebih dulu keluar kamar mandi. Zen tersenyum geli saat mengingat bagaimana polosnya wajah Ruby yang mengikuti saja kemauannya. Tapi mulut mungil Ruby tidak berhenti mengatainya, meskipun mulutnya sudah mendesah terus-terusan.
Zen melangkah mendekati ranjang, memunguti pakaian mereka, yang berserakan di lantai, lalu memasukkan ke dalam keranjang baju kotor.
Zen memunguti batal, guling, dan membawa selimut, lalu Zen letakkan di sofa. Zen kembali mendekati ranjang, berniat merapihkan kembali seprai yang sudah tidak berbentuk akibat ulah mereka semalam.
Tidak terpikir oleh Zen untuk melihat jejak percintaan di malam pertama. Karena sesuai dengan pengetahuan yang Zen dapat, tidak semua perempuan yang melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya, akan mengeluarkan darah.
Namun, pagi ini dengan bangga Zen tersenyum karena telah di berikan kesempatan melihat jejak itu.
"Terimakasih telah mengirimnya pada ku, Ya Allah. Aku akan menjaganya dan memastikannya agar selalu aman bersama ku."
Zen langsung menarik seprai, lalu meletakkan di dalam keranjang baju kotor.
Tak lama kemudian, Ruby keluar dari kamar mandi sambil berjalan pelan-pelan. Zen yang sudah rapih dengan pakaian hanya tersenyum melihat Ruby yang membalut tubuhnya menggunakan bathrobe.
"Kenapa Dek?" tanya Zen iseng menggoda Ruby.
"Nggak tahu kenapa, By lupa." jawabnya asal.
Zen yang sudah menyiapkan baju ganti untuk Ruby, tentu langsung melangkah mendekat. "Apa mau aku ingatkan, biar nggak lupa." bisik Zen. "Awww ..." keluh Zen saat perutnya di cubit Ruby.
"Gayanya sok bangunin, ngajak mandi biar bisa solat. Taunya mencari kesempatan. Stop goda By ya Mas, tuh kita sudah kesiangan solat subuhnya," tunjuk Ruby pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 05.25 WIB.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️