Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 51 AYO KITA CERAI


__ADS_3

Ruby hanya menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan di atas ranjang. Walau besok adalah acar wisuda kelulusan, dan seharusnya Ruby segera tidur. Namun nyatanya gadis itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.


Tapi jika di ingat lagi, Ruby memang selalu tidur larut malam dan bangun di jam jam tak terduga semenjak Zen pulang ke Jakarta. Sama sekali tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya.


Semenjak Zen pulang ke Jakarta, sekalipun lelaki itu tidak menghubungi Ruby. Padahal setiap hari Ruby tidak pernah jauh dari ponselnya. Berharap Zen akan menghubunginya. Memberikan kabar, bagaimana keadaannya saat ini.


Ruby meninggikan tangannya yang tersemat cincin pernikahan. Kedua netra gadis itu menatap tajam benda mungil yang belum pernah sekalipun ia lepas dari jarinya.


"Aku benci sama Om," teriak Ruby sambil mencoba melepas cincin pernikahannya. Belum sampai cincin itu keluar dari jari manis Ruby. Gadis itu kembali menyematkan cincinnya pada tempat yang seharusnya. Urung melepaskan cincin seperti niatnya barusan. "Aku nggak akan mau iku Om ke Jakarta, titik."


Ruby bahkan semakin berfikir yakin, bahwa penilaiannya tentang Zen tidaklah salah sejak awal. Tapi bisa-bisanya dirinya masih tetap menunggu kabar dari Zen.


Karena tak lama Zen kembali ke Jakarta, banyak gosip yang beredar tentang orientasi *****ualnya yang abnormal, Setelah foto Zen bersama beberapa teman lelakinya yang terlihat inten.


"Ruby Ruby. Ngapian juga kamu harapkan lelaki yang jelas hanya main-main dengan mu," gumam gadis itu.


ke dua bola mata Ruby terus bergerak ke sana kemari. "Tapi waktu itu juga Om Zen kan viral karena sedang dinner dengan siapa itu namanya, Sabila apa sih ya?" Ruby jadi menerka-nerka. "Ah bodohnya Ruby menunggu lelaki yang punya kepribadian ganda," teriak Ruby kesal.


"Aku harus ambil keputusan ku sendiri. Toh aku belum di apa-apain, kecuali ..." Ruby jadi mengingat bagaimana hangatnya dekapan Zen. Bagaimana lembutnya ciu*man bibir mereka waktu itu. Ruby langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikirannya yang selalu ke arah Zen. "Aku masih perawan, aku juga masih muda, aku harus ambil tindakan aku sendiri," ucap Ruby sangat yakin.


.


.


.


Acara wisuda kelulusan.

__ADS_1


Ruby sudah nampak cantik dengan balutan gaun hasil rancangan Reina. Sengaja Reina membuatkan rancangan khusus untuk Queen, Ruby, dan juga setelan untuk Safir.


Tiga anak remaja itu masuk ke dalam daftar sepuluh siswa yang mendapatkan nilai terbaik. Tentu saja ketiga anak remaja itu sangat bersyukur. Karena usaha mereka tidak sia-sia.


Setelah seluruh susunan acara wisuda kelulusan selesai, kini saatnya semua siswa mengabadikan momen spesial mereka bersama keluarga.


"Ayah sama Bunda mana ya Fir, sebentar lagi kan giliran kita."


"Sabar Kak, ramai orang ini" ucapnya sambil celingukan. "Lah itu Ayah," tunjuk safir ke arah ke dua orang tuanya.


Ruby yang sejak tadi masih celingukan, akhirnya gadis itu mengikuti arah tunjuk Safir.


Kedua kelopak mata Ruby terus mengerjap cepat saat melihat orang yang terus membuatnya kepikiran. Seseorang yang melangkah bersama Arjuno, Zantisya, dan Arfan. Ruby jelas tidak menyangka jika sosok Zen saat ini ikut melangkah ke arah mereka. Bahkan setelan yang di gunakan Zen sangat serasi dengan gaun miliknya.


Ada rasa senang, sedih, kecewa, dan marah yang sudah bercampur menjadi satu. Tapi Ruby berusaha menyembunyikan semua perasaan itu. Mencoba menetralkan raut wajahnya agar tetap tenang.


Ruby langsung tersadar. Gadis cantik itu langsung mencium punggung tangan Zen. lalu memberikan senyum ramah. "Terimakasih sudah mau datang dan meluangkan waktu di acara pentingnya By, Mas."


Bukannya tersanjung, Zen malah merinding saat mendapatkan tatapan dan panggilan Mas dari Ruby.


"Aku pasti datang di acara terpenting istri ku."


Zen sepenuhnya menyadari saat melihat tatapan Ruby saat ini. Begitu jelas pancaran mata kemarahan Ruby yang sudah terpendam siap akan meluap ke permukaan.


Ruby terkekeh. "Istri."


"Ayo kak sudah bagian kita yang foto."

__ADS_1


.


.


.


"Ehm."


Zen yang sejak tadi duduk di kursi tak jauh dari kolam renang, karena sedang mengurus beberapa pekerjaan. Lelaki itu seketika menoleh saat Ruby berdeham.


Zen tersenyum melihat Ruby. "Ada apa By?"


"Aku mau ngomong sesuatu."


Zen langsung mematikan Ipad-nya, lalu meletakkan di atas meja. "Akan aku dengarkan dengan senang hati."


"Sumpah wajahnya ngeselin banget," batin Ruby, lalu melangkah meninggalkan Zen.


Zen langsung mengambil iPad dan ponselnya, lalu mengikuti langkah Ruby yang ternyata memasuki kamar.


"Ada apa By?" tanya Zen tenang walau perasaannya sedang tidak aman.


"Ayo kita cerai saja Om!"


Bersambung ...


Lagi pulang kampung, jadi maaf ya baru up 🙏

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2