
"Akhirnya turun derajat. Biasanya di panggil bapak sekarang Om. Siapa tahu bulan depan ganti Oppa," ucap Alan berharap jadi oppa-oppa Korea.
"Ngimpio sampek lebaran Mon*yet juga nggak akan di panggil Oppo, Al. Rupa mu nggak mendukung. Kita itu ganteng sesuai kriteria khas lelaki Indonesia."
"Betul Bos," Alan mengacungkan jempolnya, tanda setuju.
"Cuma, bagian kegantengan ku ini begitu melewati batas kriteria lelaki Indonesia. Makanya banyak yang ingin memiliki wajah seperti ini. Karena begitu sempurnanya ciptaan Tuhan yang begitu indah ini," ucap Zen mulai dengan sikap percaya dirinya.
Ruby sampai melongo di buatnya. Perempuan itu sampai membayangkan bagaimana sang suami saat masih kecil. Apa dulu Zen kecil juga suka memuji diri sendiri? Ruby jadi penasaran sekarang.
"Apa kalau aku punya anak, sikapnya akan seperti suami ku?" batin Ruby sambil mengusap perutnya. "Tapi kan, bibitnya dari Mas Zen. Kalau gak mirip Mas Zen atau aku pasti akan aneh," batin Ruby dengan khayalannya sendiri. "Tapi mana mungkin aku hamil, Mas Zen saja pakai pengaman terus. Berkhayal saja lah kau, Ruby Al Humaira," lanjut kata hati Ruby.
"Gini amat aku punya Bos. Dari pada aku jadi obat nyamuk, mending aku pergi sekarang juga."
"Bagus lah, kau sadar diri Al," Zen hanya terkekeh melihat wajah kesal Alan yang keluar dari ruang kerjanya. "Sudah dari tadi disini?" Zen melangkah mendekati sang istri yang duduk di kursi kerjanya.
Ruby mengangguk. "Sampai selesai tugas kuliah By, tapi Mas belum juga pulang. Perasaan sekarang sering sekali ke hotel. Memangnya ruang kerja Mas sudah pindah ke sana?" tanyanya dengan wajah curiga.
Zen tersenyum melihat wajah Ruby yang sarat akan interogasi. "Ada klien khusus yang menyewa ballroom hotel untuk acara penting beberapa hari lagi. Beliau meminta ku secara langsung untuk melihat persiapannya. Jadi aku harus memantau semuanya sayang," jelas Zen. lelaki itu mendaratkan boko*ngnya di tepi meja, tepat di depan Ruby. "Lagi pula, kenapa sayang tadi nggak telpon aku kalau kesini? Aku pasti langsung kembali ke kantor."
"Mas lagi kerja, masak iya Mas mau utamain By."
"Kamu itu prioritas ku, By." Ucap Zen sambil menarik hidung mungil Ruby.
Wajah Ruby tentu saja langsung memerah. "Jangan lebai Mas. By nggak bisa di modusin."
Karena sudah kedatangan sang istri, akhirnya Zen memutuskan untuk pulang lebih dulu. Pimpinan mah bebas. Yang penting pekerjaan yang harus diurus hari ini, sudah Zen selesaikan semuanya.
"Kok sepi," gumam Zen. Lelaki itu merangkul Ruby, melangkah beriringan menuju kamar mereka.
"Pada keluar mungkin, Mas."
"Renang yuk, yang," ajak Zen sambil berganti pakaian.
"Boleh nih, By ikut renang?"
__ADS_1
Zen terdiam. Membayangkan ia dan sang istri berenang. Lalu ada pegawai atau keluarga laki-laki melihat tubuh basah Ruby. Sekalipun menggunakan pakaian lengkap. Pasti pakaian yang basah akan mencetak jelas tubuh Ruby.
Zen bergidik. "Kamu temani aku renang, yang."
"Isss, padahal By sudah berharap loh ini."
"Setelah temani aku renang, nanti aku bakal temani kamu renang sayang."
Ucapan Zen berhasil membuat Ruby menatap Zen curiga. Tapi Ruby penasaran, akan di temani renang di mana.
"Renangnya di bathtub," tambah Zen sambil mengedipkan satu matanya.
"Isss, itu mah maunya Om saja. Sudah ayo turun."
*
"Mas mau di buatin jus?" tanya Ruby saat mereka melewati ruang makan.
"Boleh."
"Ok By."
Zen lebih dulu ke halaman samping, untuk berenang. Sedangkan Ruby, menuju dapur.
"Eh Mbak Ruby, mau cari apa Mbak? biar Bibi bantu."
"By mau buat jus Bi. Bibi lanjutkan pekerjaan Bibi saja, Ruby buat sendiri jusnya. Oh iya, orang rumah pada kemana ya Bi?"
"Semuanya pada nyore ke taman, Mbak."
*
Setelah membersihkan diri, Vian memilih keluar dari kamarnya dan segera turun. Lelaki itu menuju ruang makan untuk mengambil buah di dalam kulkas.
"Itu apa Bi?" tanya Vian saat melihat ART memasukkan sebotol jus ke dalam kulkas.
__ADS_1
"Jus semangka buatan Mbak Ruby, Mas. Buatnya kebanyakan tadi."
"Buat aku saja Bi," dengan wajah yang tiba-tiba cerah, Vian merebut botol minuman berukuran kecil dari tangan ART. "Rubynya kemana Bi?"
"Ke halaman samping Mas. Sama ... Loh lah kok langsung pergi begitu saja?" gumam ART saat Vian tidak mendengarkan ucapannya sampai selesai.
*
Setelah waktu ashar, Yusuf dan Nissa mengajak anak dan cucunya jalan-jalan di taman. Menikmati suasana sore hari.
"Ada yang mau pulang?" tanya Nissa.
"Ngapain pulang cepat-cepat Nda? suasananya enak banget, sejuk juga," ucap Reina.
"Nda kebelet. Kalian disini dulu saja, nanti Nda balik lagi."
Tanpa menunggu tanggapan anak dan cucunya, Nissa bergegas jalan agar cepat sampai rumah. Sudah sangat susah menahan buang air kecil.
Nissa bergegas menuju kamar untuk menuntaskan hajatnya yang sulit di tahan. Setelah selesai, Nissa berniat kembali ke taman. Namun, langkah kaki Nissa terhenti saat melihat Vian yang berdiri di balik hordeng, dan nampak mengintip sesuatu diluar sana.
"Hah," helaan nafas Vian terdengar emosi, sambil menarik hordeng dengan cukup kuat.
Nissa langsung bersembunyi saat Vian balik badan hendak kembali ke kamarnya.
Nissa keluar dari tempat persembunyiannya setelah Vian tidak terlihat lagi. Nissa bergegas menuju tempat dimana Vian tadi berdiri dan mengintip ke luar.
"Ya Allah, apa dugaan ku sekarang benar, kalau Ruby perempuan yang di sukai Vian?" batin Nissa, hatinya tiba-tiba merasa sedih.
Di luar sana, nampak Ruby yang duduk di tepi kolam renang, sedangkan wajah Zen nampak mendarat di kedua paha Ruby. Terlihat jelas kalau Zen dan Ruby sedang bersenda gurau.
"Aku harus segera menyelesaikan ini semua. Jangan sampai ada permasalahan antar saudara di keluarga ini."
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1