Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 88 SERVIS ++


__ADS_3

Dua insan yang sedang di mabuk kepayang oleh perasaan yang mereka miliki, kini keduanya hanyut terbawa arus di saat bibir mereka saling menyatu. Saling berpadu membalas setiap pergerakan yang mereka lakukan.


Sebuah pertemuan benda kenyal yang memabukkan. Apalagi kini, mereka berdua sudah semakin pintar dalam melakukan permainan.


Saling menyesap dengan ritme yang pelan hingga sampai tak sadar, jika pergulatan bibir mereka semakin kuat dan menggebu.


Zen mengubah posisi duduk Ruby, agar kedua kakinya berada di antara tubuh Zen. Ruby tentu mengikuti saja bagaimana posisi yang pas dan nyaman menurut Zen.


Zen melepaskan sejenak bibir Ruby untuk melepas gaun malam yang menakjubkan, lalu melemparnya asal-asalan.


Ruby mengusap bibir bawah Zen. "Kenapa bibir Mas bikin By iri. Lebih merah merona dari punya By."


Ke dua mata mereka syarat akan nafsu yang menggelora. Ruby mengekang leher Zen, membuat mereka kembali menyatukan benda kenyal yang semakin memerah.


Tangan Zen tidak ingin menganggur tanpa pekerjaan yang pasti. Akhirnya satu tangan Zen menyusup di antara dada mereka yang menempel. Tentu tujuannya saat ini adalah memainkan jalur nutrisi untuk anak mereka nanti.


Perbuatan Zen itu, tentu saja berhasil membuat Ruby mend*esah pasrah. Sambil tetap fokus melakukan pergulatan bibir yang masih betah melakukan pertukaran saliva.


Zen berpindah mengakses leher Ruby. Membuat Ruby meninggikan tubuhnya, dengan ke dua lutut yang menahan tubuh Ruby. Sedangkan tangan Zen menahan bo*kong Ruby agar lebih kuat meninggikan tubuhnya.


De*sah nafas Ruby semakin menggelora di saat bibir Zen semakin turun mengeksplor kulit Ruby hingga terhenti di manik mungil.


lenguhan Ruby semakin menjadi di saat mulut Zen semakin gencar bermain di dua lembah secara bergantian.

__ADS_1


Zen kembali menjadi bayi yang sepertinya sedang kehausan. Karena sesapan Zen yang semakin kuat, dan meninggalkan gigitan karena sangking gemesnya.


"Maaasss ..."


Tubuh Ruby semakin menegang rasanya. Merasakan inti tubuh yang berharap sentuhan seperti sebelumnya. Tapi semuanya harus di tahan.


"Aaahhh Byyy ... aku benar-benar on ini," entah sadar atau tidak. Entah sengaja atau tidak. Zen membawa tangan Ruby untuk menyentuh barang berharganya yang sudah siap masuk ke medan pertemuan. Benda pusaka yang berselimut kain sarung, karena Zen tidak mengganti atribut sholatnya. Namun, apalah daya Zen saat ini. "Mana puas kalau hanya seperti ini."


Ruby jelas terkejut. Karena baru kali ini ia menyentuh pedang samurai yang membuatnya kesulitan berjalan. Tangan Zen menuntun tangan Ruby agar semakin erat menggenggam. Setelah itu Zen melepaskan tangannya, meninggalkan tangan Ruby sendirian.


"Bagaimana coba Byyy ..." rengek Zen memelas.


Sumpah demi apapun, tangan Ruby sampai terasa kaku dan kesulitan untuk bergerak. Ruby mulai bingung harus melakukan apa. Merasakan sesuatu yang semakin bertambah kekar dalam cengkeraman tangan Ruby.


Padahal Ruby sudah menyusun rencana semaksimal mungkin untuk menyenangkan sang suami. Tapi kenapa rasanya sekarang ambyar begitu saja.


"Mana masih kurang dua hari lagi aku puasa," lanjutnya mengeluh. "Kenapa satu minggu rasanya seperti satu tahun," ucapnya semakin dramatis.


Ruby menggigit bibir bawahnya, merasa ragu untuk mengutarakan apa yang akan ia lakukan untuk membuat Zen senang.


"Mau By kasih kepu*asan nggak?" tanya Ruby menggoda Zen sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aaahhh Byyy," des*ah Zen. Ia sampai tidak menyangka jika kini tangan Ruby perlahan-lahan mulai bergerak aktif menggoda Zen.

__ADS_1


"Mau enggak?" bisik Ruby.


Hembusan suara Ruby yang menerpa telinga Zen, membuat adrenalin Zen semakin membara. Seluruh tubuhnya sudah semakin berharap sesuatu yang lebih.


"Mau By. Mau banget," ucapnya dengan suara yang sudah terdengar serak dan berat. Seolah semuanya menumpuk di rongga dada Zen, hingga membuatnya kesulitan bernafas.


Ruby menjauhkan wajahnya dari telinga Zen setelah mendaratkan kecupan di sana. Menatap Zen dengan senyum yang begitu menggoda.


Tangan Ruby bergerak melepas kaos yang di gunakan Zen. Lalu melepas lilitan sarung di pinggang Zen.


Hanya seperti ini saja, Zen sudah sangat tidak menyangka dengan kepolosan Ruby yang sepertinya sudah mulai musnah. Lalu apa yang akan di lakukan Ruby selanjutnya. Apakah Zen akan mendapatkan servis plus plus seperti yang ia pikirkan saat ini.


Ruby mengusap wajah Zen yang sejak tadi menatapnya begitu dalam. "Mau di sini atau di kasur?"


"Kita di kasur saja, biar lebih leluasa."


Ke dua tangan Ruby langsung melingkar erat di leher Zen, saat lelah itu berdiri. Membuat penutup tubuh Zen bagian bawah luruh begitu saja. Ruby melingkar ke dua kakinya di pinggang Zen saat lelaki itu melangkah menuju ranjang. Membuat Ruby bagai seekor anak koala yang sedang di gendong induknya.


Bersambung ...


Cut cut cut aku nggak tahu Ruby mau ngapain sebenarnya 😣😣😣 maaf kayanya gak bisa crazy up 😌 aku ngurus novel di sebelah juga 🥰🤗


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2