
"Kamu lamar Nabila, biar aku antar, sama Ayah dan Nda juga. Biar kerjaan mu nggak bikin aku senewen," tutur Zen yang masih merasa kesal.
"Bos niat banget sih jodohin aku sama Nabila."
"Al, denger ya. Mantan mu itu sudah menikah, kamu sendiri yang lihat fotonya di ig kalau dia terlihat bahagia bersama suami dan anaknya."
Alan hanya bisa menghela nafas pasrah. Menyesakkan memang di tinggal sang kekasih yang sangat Alan cintai. Perempuan yang lebih memilih lelaki matang dengan pekerjaan yang menggiurkan.
"Pak Bos kenapa sih, suka banget jodohin aku sama Nabila?"
"Nggak usah sok nggak peka kamu ya Al. Bila sejak dulu suka sama kamu. Kamu aja yang selengekan dan pura-pura nggak peka."
"Aku jadi random kaya gini juga gara-gara Pak Bos yang receh," gerutu Alan. "Aku bukanya nggak peka. Hanya saja, aku takut jadikan Bila pelampiasan."
"Loh kan ora nyadar karo perasaane dewe," gumam Zen. "Pikir baik-baik Al, Kamu itu sudah pantas menikah. Biar kamu itu tahu rasanya bobo ada yang nemenin... "
"Hah nen*in?" pekik Alan kuat.
Zen mendelik, meskipun itu salah satunya tapi bukan itu maksudnya. "Astagfirullah Al, nemenin Al. Temani kamu tidur. Lama-lama kamu ku bawa ke dokter THT loh Al."
"Ooohhh nemenin. Kirain itu ..." Alan cengar-cengir tanpa rasa bersalah.
"Syukur-syukur cepet punya anak. Lengkap hidup mu nanti Al," lanjut Zen.
"Yang duluan menikah saja belum punya anak."
"Makannya nggak usah sembarangan nyelonong ke ruangan orang."
"Loh jadi tadi itu..." Alan melihat tatapan kesal dan tajam dari kedua mata Zen. Tangannya menyambar berkas dan langsung beranjak dan melangkah cepat. "Kabuuurrr ... Ada singa ngamuk."
.
__ADS_1
.
.
Esok harinya. Setelah pulang kuliah, Ruby memilih langsung pulang ke apartemen.
Setelah berganti pakaian yang lebih nyaman, Ruby merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponselnya. "Bosen banget sih nggak punya kerjaan."
Jari Ruby melihat koleksi foto yang ada di aplikasi galery. Melihat hasil jepretan saat menjadi model busana muslim dulu.
"Kangen banget pengen kerja. Mas Zen bolehin By jadi model begini lagi gak ya?" gumamnya.
"Apa aku kursus masak saja ya?" Ruby terus memikirkan untuk menambah aktivitasnya saat ini. "Ck. Lebih baik yang mana ya?"
Malas dengan kebingungannya sendiri, Ruby memilih keluar dari kamar dan menuju dapur.
Ruby mengeluarkan beberapa buah. Ada anggur, apel, pir, jeruk, buah naga, dan dua botol cim*ori. Tak lupa juga keju. Jika hanya membuat salad buah ala kadarnya, tentu saja Ruby bisa.
Setelah selesai membersihkan dapur dan alat yang telah Ruby gunakan. Tak lama kemudian bell apartemen berbunyi.
"Siapa ya?" Ruby melangkah cepat untuk melihat siapa yang datang. "Nda." Ruby langsung membuka pintu apartemen.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Nda ..." Ruby yang dasarnya anak manja, begitu Nissa masuk ke dalam apartemen, tentu saja Ruby langsung menghambur ke pelukan Nissa. "Baru saja By pikirin Nda. Eh tiba-tiba saja datang."
"Nda juga tadi pikirin Ruby terus jadi kangen sama By makanya Nda langsung kesini."
Ruby mengikuti langkah Nissa menuju dapur. "Kenapa Nda nggak telpon By dulu. Bagaimana coba kalau tadi By pulang kuliah bukanya pulang ke apartemen tapi malah ke kantor?"
"Feeling Nda, By memang sudah ada di apartemen. Makanya Nda datang kesini," Nissa tersenyum. Sambil melanjutkan aktifitasnya menata masakan yang ia bawa untuk Zen dan Ruby.
__ADS_1
Rasanya Nissa ingin sekali meminta kedua anaknya itu tinggal di rumah saja. Memanjakan perut kedua anaknya dengan berbagai masakan yang Nissa olah. Namun, Nissa paham dengan keadaan. Zen dan Ruby memang perlu banyak waktu untuk berduaan saat ini.
Ruby memperhatikan menu masakan yang di sajikan Nissa.
"Nda memang jago masak. Nda dulu belajar masak di mana?"
Nissa terkekeh geli mendengar pertanyaan Ruby. "Nda belajar masak dari almarhumah ibunya Nda, By."
"Berarti Almarhumah pintar memasak ya Nda?"
"Jelas pintar By, almarhumah Mbah Jumiasih. Usaha yang di kelola Amira saat ini kan, usaha yang di rintis orang tua Nda."
Ruby mengangguk paham. Perempuan itu terus mengamati gerak gerik Nissa yang terlihat cekatan.
"Emmm Nda. By bosen nggak ada kegiatan setelah selesai kuliah."
Mendengar Ruby mengeluarkan unek-uneknya, membuat Nissa tersenyum senang. Artinya Ruby benar-benar menganggapnya seperti orang tuanya sendiri.
Setelah mengeringkan tangannya, Nissa ikut duduk di kursi makan. "Kalau By bosan, By bisa melakukan aktivitas yang By suka. Selama itu positif, kami semua pasti mendukung. Terutama suami By."
"Emmm ... Apa seorang suami itu selalu menuntut istrinya untuk pintar memasak Nda?" Ruby menatap Nissa serius.
Jika di pikir ulang, Ruby dan kedua adiknya sangat menyukai masakan Zantisya. Apalagi Arjuno, yang selalu lahap menikmati makanan hasil masakan Zantisya. Padahal Arjuno memiliki koki profesional untuk menjaga cita rasa segala menu yang ada di restorannya.
Mengingat hal kecil lainnya, hati Ruby bahkan terasa menghangat saat beberapa kali ia membuatkan minuman untuk Zen. Ruby terasa melambung saat Zen memuji tindakannya itu.
Bersambung ...
Yang nunggu kedatangan Alvian Reindri Ann Wijaya, sebentar lagi akan aku angkut ke Jakarta 🤭🤭🤭
Maaf baru menyapa 🙏🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️