
"Awas ih Om," usir Ruby mendorong Zen sekuat tenaga. Namun, tenaga Ruby tidak membuat Zen bergerak sedikit pun.
"Nggak mau. Kan kita harus buat anak," tutur Zen menggoda Ruby.
Ruby menatap Zen serius. "Jadi Om mau paksa Ruby untuk melakukan hal seperti itu. Bukanlah itu sama saja seperti pemer*ko*saan?"
Bagai di tusuk oleh pisau yang sangat tajam, perkataan Ruby barusan seolah mengoyak diri Zen yang mungkin akan melakukan sesuatu dengan cara memaksa.
"Dengarkan aku istri ku, Ruby Al Humaira. Dari ujung rambut sampai ujung kaki mu, semua itu adalah tanggung jawab ku. Kamu halal untuk ku, By. Aku tidak akan melakukan hal itu jika kamu belum menginginkannya, sekalipun aku sangat ingin bahkan saat ini. Aku akan sabar menunggu kamu sampai kamu menyerahkan diri kamu sendiri dengan suka rela."
Ruby langsung memejamkan ke dua matanya saat Zen menyatukan ujung hidung mereka berdua. Ke dua mata Ruby semakin rapat saat hidung Zen bergerak turun menyusuri bibir dan dagu Ruby.
Ke dua tangan Ruby ikut mencengkram erat seprai dan tubuhnya semakin bergetar saat hidung Zen semakin turun, menyusuri pelan dari dada hingga ke perut.
Sedangkan Zen, lelaki itu terus menghirup dalam aroma wangi yang tercium hanya saat berdekatan seperti ini.
Ruby langsung membuka kedua matanya saat merasakan tubuh Zen sudah tidak ada di dekatnya. Ruby bergegas bangkit dari posisi tidurnya saat melihat Zen mengambil iPad dan ponselnya.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan diri aku, Om," tutur Ruby cepat.
Tangan Zen yang akan menurunkan handle pintu, tentu langsung berhenti dan balik badan melihat Ruby.
__ADS_1
"Ok!"
"Mana mungkin aku menyerahkan diri pada lelaki yang tidak menyukai perempuan."
"Itu kan penilaian kamu sendiri By. Aku terima jika memang menurut mu, aku begitu."
"Oh iya aku ingat, Om kan punya pacar yang Om ajak dinner romantis itu. Siapa itu namanya? Sabila apa Kabila. Kalau memang Om punya pacar di sana, kenapa mau nikahi aku. Kenapa nggak lepasin aku saja sekarang juga."
Zen jadi berpikir, siapa nama Sabila atau Kabila, karena Zen merasa tidak memiliki teman dengan nama itu apa lagi pacar. Seumur hidup, Zen belum pernah pacaran. Apa lagi sampai dinner romantis.
Zen langsung melangkah, kembali mendekati Ruby setelah paham, siapa yang di maksud Ruby.
Saat Ruby hendak menjauhi Zen, lelaki itu langsung menarik tubuh Ruby dan mengekang kuat sampai Ruby kesulitan memberi jarak.
"Apa saat ini istri ku sedang cemburu?"
"Si-siapa yang cemburu? Jangan kepedean ya Om. Aku mana mungkin cemburu sama orang yang cuma mainin aku?"
"Siapa yang mainin kamu sih By?"
"Ya Om lah, siapa lagi kalau bukan Om! Kan cuma Om, lelaki yang seenaknya jahilin aku, usik aku, peluk aku, cium aku tanpa permisi. Pergi nggak bilang langsung sama aku. Katanya aku ini istri. Tapi apa yang Om lakukan? Selama di sana Om nggak pernah kasih kabar ke aku. Om pasti nggak tahu kan, kalau setiap hari aku nunggu kabar dari Om," tanpa di sadari, gadis itu telah meluapkan semua yang mengganjal di dalam hatinya. Mengungkapkan kekesalan dengan sangat gamblang.
__ADS_1
"Aku benci sama Om," teriak Ruby sambil mendorong Zen kuat.
Zen langsung memeluk erat tubuh Ruby, sekalipun perempuan itu memukulinya, memberontak meminta di lepaskan.
"Aku minta maaf By. Aku akan jelaskan semuanya, kenapa aku milih tidak menghubungi kamu. Aku ..."
"Tolong lepaskan aku Om," pinta Ruby dengan suara yang mendengung tidak jelas.
"Nggak mau, sampai kapan pun aku nggak akan lepaskan kamu," Zen semakin mempererat pelukannya.
Ruby yang sudah merasa pengap, karena butuh menghirup udara bebas, Gadis itu dengan kuat menginjak kaki Zen.
"Awww ..." Ringis Zen kesakitan.
"Hah ... hah ... " Ruby langsung bernafas dengan bebas dan lega. "Sudah aku bilang lepasin aku Om, aku pengap butuh bernafas dengan lega," omel Ruby sambil menatap Zen kesal.
"Ya maaf," ucap Zen pelan, menyadari kebodohannya.
Bersambung ...
Good night All ❤️
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️