
Zen benar-benar mendengarkan dengan baik, saat Ruby menceritakan semua tentang Vian tanpa ada yang Ruby tutupi lagi.
Entah salah atau benar, Ruby bahkan menceritakan bagaimana kerasnya ucapan Vian pada Nissa. Yang ada di pikiran Ruby saat ini, membuka semua apa yang ia tutupi selama ini tanpa menyembunyikan satu hal apapun.
"Maafin By ya Mas. Baru sekarang By cerita. By pikir Kak Vian nggak akan senekat ini. By cuma nggak mau Mas dan Kak Vian terdapat kecanggungan. Tapi ternyata By salah, dan m,alah membuat masalah semakin runyam seperti sekarang."
"Sudah nggak apa-apa, semua sudah terlanjur seperti ini, jadi kita hadapi dan selesaikan semuanya. Jangan pernah sembunyikan hal apapun sama aku lagi ya?" pinta Zen sambil mengusap air mata Ruby. perempuan itu mengangguk.
"Ayo tidur, sudah malam ini," ajak Zen.
Dua jam sudah berlalu, Zen dan Ruby saling diam dengan pikirannya masing-masing.
Terlebih Zen. Gemuruh jantungnya begitu terasa. Aliran darah Zen seperti terasa panas saat mengingat berulang-ulang perlakuan Vian tadi pada Ruby dan ucapan kasar pada Nissa. Tentu saja Zen tidak terima dua perempuan penting didalam hidupnya disakiti seperti ini.
"Nggak bisa tidur ya?"
"Rasanya kok nggak ngantuk ya Mas."
"Tapi aku mengantuk sayang."
"Kalau begitu Mas tidur saja."
Zen tahu kalau Ruby sudah menahan rasa kantuknya. Zen tahu, Ruby memilih tetap terjaga agar Zen tidak pergi dari apartemen ini. Zen juga jadi sadar, kenapa tadi Ruby mengajaknya pulang ke apartemen.
Ruby baru memejamkan mata saat dirasa pelukan tangan Zen sudah mengendur pada tubuhnya.
Sedangkan Zen, langsung membuka matanya saat merasakan deru nafas Ruby yang teratur. Zen menata posisi tidur Ruby agar lebih nyaman. Tangannya mengusap puncak kepala Ruby lalu mendaratkan kecupan disana.
"Aku perlu menyelesaikan sesuatu. Tidurlah yang nyenyak dan jangan bangun sebelum aku pulang ke sini," bisik Zen.
Zen langsung turun dari atas ranjang. Ia tidak perduli dengan penampilannya yang menggunakan piyama. Zen bergegas menyambar kunci mobilnya dan langsung keluar dari apartemen.
karena sudah tengah malam. Perjalanan Zen pulang ke rumah tidak lebih dari 30 menit. Zen langsung keluar dari mobil dan melangkah cepat memasuki rumah.
Tujuan Zen saat ini adalah ke kamar Vian. Belum sempat Zen melangkah lebih jauh. Kedua matanya melihat Vian yang sedang berdiri di tepi kolam renang.
"Apa perempuan yang kamu suka tidak mau menerima cincin itu?"
Suara Zen seketika menggema di telinga Vian. Lelaki bujangan itu balik badan dan melihat Zen dengan wajah penuh amarah.
"Bukan tidak mau, mungkin dia takut kalau akan ada orang yang merasa tersaingi," ucap Vian. Ia sadar, jika saat ini Zen sudah mengetahui semuanya. Vian menutup tempat cincin, lalu memasukkan ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Zen terkekeh. Suara itu bahkan terdengar menakutkan di telinga Vian. Tapi, Vian ingin mencobanya sekali lagi.
"Kamu tahu dia punya suami, tapi kenapa kamu masih saja mengharapkannya?"
"Aku berharap lelaki itu memberikan secara suka rela perempuan yang aku mau."
Sungguh tidak Zen sangka. Keponakan yang sangat Zen sayang mengatakan demikian.
"Bukankah biasanya Om selalu menuruti semua mau ku?"
Tanpa pikir panjang, Zen melangkah cepat mendekati Vian.
Bug
Satu bogeman mendarat di wajah Vian.
"Kamu pikir Ruby itu barang yang biasanya kami minta seperti barang koleksi ku? Ruby istri ku Vian. Istri ku," teriak Zen sambil menghempaskan tubuh Vian.
"Aku yang kenal Maira lebih dulu kenapa Om datang seenaknya dan mengambil Maira dari ku?"
"Aku sudah melamar Ruby saat masih di dalam kandungan. Saat kamu masih belum paham mana yang benar dan yang salah Vian. Aku tidak merasa merebut Ruby dari siapa pun, Karena Ruby sendiri yang menerima aku menjadi suaminya."
"Kenapa. Kenapa Om selalu melangkah lebih cepat dari aku? Om memiliki segalanya, tahta dan ketenaran. Aku hanya mau Maira. Jadi tolong berikan Maira pada ku, Om. Aku sangat mencintainya."
Bug
Bug
Di tengah malam yang sunyi sepi, Zen dan Vian berkelahi. Saling adu kekuatan, walau pada kenyataannya, Zen lah yang banyak melayangkan pukulan. Bukan hanya adu pukul tapi juga adu ucapan yang begitu banyak di lontarkan Vian.
Reina yang baru saja turun untuk membuat minuman hangat, seketika terkejut saat mendengar suara perkelahian di halaman samping.
"Astagfirullah Zeeennn, Viaaannn," teriak Reina terkejut.
"Maaasss .... Mas Heeennn ..." teriak Reina kencang.
Pintu kamar yang tidak di tutup rapat, membuat Hendri mendengar teriakan sang istri.
"Kenapa sayang?"
"Zen sama Vian kelahi."
__ADS_1
Bukan hanya Hendri yang mendengar suara teriakan Reina. Tapi seisi rumah terbangun karena suara Reina benar-benar menggema.
"Ada apa kak?" tanya Yusuf dan Nissa bersamaan.
Prang
"Astagfirullah," pekik semua orang bersamaan.
Kaca jendela seketika berhamburan saat Vian mengangkat kursi kayu, untuk memukul Zen. Beruntung Zen menghindar cepat. Lalu merebut paksa kursi kayu dan Zen lempar ke sembarang arah, yang ternyata masuk kolam renang.
Zen kembali mencengkram Vian. "Kamu pikir istri ku apa, kau minta seenaknya seolah istri ku mainan Hah?" Zen menghempaskan tubuh Vian yang sudah bonyok.
"Kalau kamu meminta perusahaan, akan dengan suka rela aku berikan, kalau kamu bisa mengelola jauh lebih baik dari aku." ungkap Zen emosi.
Semua orang yang masih di dalam rumah langsung menuju ke halaman samping samping. Beruntung mereka menggunakan alas kaki rumahan, jadi tidak khawatir kaki mereka terkena pecahan kaca.
"Zeeennn, Viaaannn," teriak Yusuf berharap anak dan cucunya itu berhenti berkelahi.
Tapi sepertinya Zen abai dengan semua orang yang sudah ada disana.
"Kamu fitnah aku memakan sendiri uang perusahaan? Buka mata mu yang lebar Vian, uang mu hidup dan biayanya pendidikan itu dari DS Group."
"Ya Allah, Berhenti," bentak Nissa.
Zen langsung menoleh saat mendengar suara Nissa. Zen menghempas tubuh Vian di depan Hendri dan Reina.
"Kalau Kakak sama Mas nggak terima anak kesayangan kalian hancur seperti ini, Zen siap di bawa ke kantor polisi."
Zen menghela nafasnya kasar. Saat melihat Reina dan Hendri membantu Vian berdiri.
Hendri sendiri semakin banyak tanda tanya di dalam pikirannya. Karena tadi, saat Hendri mengajak Vian berbicara, Vian memilih membisu.
"Apapun masalahnya, kita selesaikan baik-baik Zen. Jangan main hakim sendiri." ucap Yusuf.
"Apa Ayah akan tetap bicara baik-baik saja kalau ada orang yang ingin meminta Nda Dari ayah? Lalu apa Ayah akan tetap bicara baik-baik saat Oma Wati di sentak Zen dengan ucapan kasar? Belum lagi fitnah yang di layangkan cucu kesayangan ayah ini pada Zen." Tunjuk Zen pada Vian.
"Kalau dia memfitnah Zen saja. Zen nggak masalah. Dia minta perusahaan keluarga kita menjadi di bawah kendalinya, Zen berikan. Tapi Zen nggak akan diam karna ini menyangkut istri Zen dan Nda."
"Zen," ucap Nissa pelan sambil menghampiri anaknya. Nissa tidak ingin Zen mengungkapkan semuanya didepan Yusuf. Tapi ...
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️