Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 119 SERANGAN JANTUNG


__ADS_3

"Adaaammm ..." teriak Nissa kuat. Namun sangat jelas suaranya terdengar bergetar. Kaki Nissa rasanya mendadak lemas, tapi sekuat tenaga Nissa lari mencari pertolongan.


"Adaaammm ..."


Luna yang mendengar suara teriakan Nissa langsung keluar dari kamar.


"Kenapa Niss?"


"Adam mana?"


"Adam masih ke mas ... lah itu orangnya," tunjuk Luna kearah Adam yang baru saja pulang dari masjid bersama suami Amira dan suami Qia.


"Adam tolongin Om Yusuf."


Tanpa perlu bertanya kenapa, Adam langsung lari menuju kamar utama. Air mata sahabatnya itu sudah memberikan sebuah jawaban kalau saat ini Masnya sedang dalam ke adaan tidak baik-baik saja.


"Maaasss ..." teriak Adam saat baru saja memasuki kamar Yusuf. Melihat Yusuf tergeletak di lantai, tentu saja membuat Adam ketakutan.


Sekuat tenaga Adam melajukan mobil agar cepat sampai ke rumah sakit. Tubuhnya terasa bergetar, melihat Yusuf yang tidak merespon panggilannya.


Bagi Adam Yusuf bukan hanya sekedar sebagai Mas untuknya. Tapi juga sebagai seorang Ayah dimana ia bisa menyampaikan keluh kesah.


"Mas, jangan seperti ini Mas. Tolong bertahan, katanya Mas sudah nggak sabar menunggu Zen memberikan kekuatan ke Ruby. Tolong jangan sekarang," batin Adam sambil menerjang jalanan pagi ini. Dimana lampu-lampu jalanan masih bersinar.


"Ayy, tolong bertahan. Jangan seperti ini hem... " Nissa terus memohon, berharap Yusuf yang sedang tidur di pangkuannya, segera bangun.


***


Begitu mendapatkan kabar dari Luna, Zen langsung menuju rumah sakit.


Zen melangkah cepat sambil mendorong kursi roda yang di duduki Ruby. Pikiran Zen sudah kacau setelah mengetahui kabar sang Ayah.


"Nda, Tante."

__ADS_1


Mendengar panggilan anaknya, Nissa langsung bangun dari posisi duduknya dan menghambur ke pelukan Zen.


"Zen, Ayah kamu Zen. Nda belum siap kalau ..."


"Zen yakin Ayah pasti kuat. Zen yakin itu."


Setelah di lakukan pemeriksaan di UGD, Yusuf langsung di bawa ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan dengan alat yang di butuhkan sesuai dengan ke adaan Yusuf saat ini.


Tak lama kemudian, dokter yang melakukan tindakan medis keluar dari sana.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok?"


"Sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya Bu."


"Sayang, kamu di sini sama Tante Luna dulu ya."


Pikiran Ruby mulai kacau dengan perasaan bersalah. Menatap punggung suaminya yang merengkuh tubuh Nissa, dan juga Adam yang mengikuti langkah kaki dokter yang bertugas.


"Apa ini gara-gara By karena menceritakan semuanya ke Mas Zen?"


"Bagaimana keadaan Ayah saya Dok?"


"Apa sebelum hilang kesadaran, bapak Yusuf mengeluh tentang keadaan tubuhnya?"


"Tadi waktu akan sholat, suami saya mengatakan kalau kepalanya pusing, Dok."


"Tekanan darah pak Yusuf tinggi 185/110 mmHg. Apa beliau punya riwayat darah tinggi?"


Tentu saja Nissa terkejut, setiap satu minggu sekali Yusuf selalu mengecek tekanan darahnya. Dan Tekanan darah Yusuf stabil normal.


"Biasanya 120 atau 130 an Dok. Suami saya itu sangat menjaga pola hidup sehat Dok. Setiap pagi selalu menyempatkan diri untuk olahraga."


Dokter mengangguk. "Setelah kami melakukan pemeriksaan, Pak Yusuf terkena serangan jantung mendadak."

__ADS_1


"Kenapa bisa Dok? Mas saya itu sangat menjaga kesehatan tubuhnya."


"Itu di akibatkan karena tekanan darah yang tiba-tiba saja tinggi. Hingga membuat Pak Yusuf mengeluh pusing. Apa beliau memiliki masalah yang mengganggu pikirannya?"


Tiga orang di depan Dokter itu nampak diam. Jelas saja Yusuf memiliki beban pikiran, karena anak dan cucunya berkelahi. Keluarga yang adem ayem jadi berseteru sengit.


Menatap wajah tiga orang disana, membuat Dokter dapat menyimpulkan semuanya.


"Baik, tidak perlu di jawab karena semua orang punya masalah hidup masing-masing. Irama jantung pak Yusuf melebihi batas normal, mengakibatkan pak Yusuf kesulitan bernafas. Kami sudah memberikan obat jantung dan juga tambahan oksigen dan obat anti hipertensi, serta tindakan medis yang di butuhkan Pak Yusuf. Kita berdoa bersama agar beliau segera sadar."


Setelah hampir setengah jam berada di dalam ruang Dokter, Zen, Nissa, dan Adam langsung kembali dimana Luna dan Ruby duduk di depan ruang ICU.


"Apa Kak Re sudah di beri tahu?"


Adam menatap Luna yang menggelengkan kepala. "Belum Zen."


"Zen hubungi Kak Re dulu, Om."


Zen sedikit menjauh dari keluarganya untuk menghubungi Kakak dan Masnya.


"Halo Assalamualaikum, Zen."


"Waalaikumsalam, Mas."


Diseberang sana, pikiran Hendri seketika tidak enak saat mendengar suara Zen yang bergetar.


"Ada apa Zen?"


"Ayah, Mas."


Bersambung ...


Maaf menunggu update ku yang super lama🙏

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2