Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 102 KALAH TELAK


__ADS_3

"Good bye jomblo," Zen mengejek 'Queen dan Divya sambil membawa Ruby melangkah.


"Tunggu ..."


Mendengar suara lantang Vian membuat langkah kaki Zen dan Ruby terhenti. Bahkan orang-orang disana menatap heran kearah Vian.


"Kenapa Vian?" tanya Zen.


Ingin rasanya Vian mempertanyakan keadaan saat ini agar semuanya semakin jelas. Namun, tanpa bertanya pun kedua mata Vian sudah mendapatkan sebuah jawaban dari rasa terkejutnya saat ini.


Vian sangat tahu, gadis incarannya yang kini menjadi istri Om nya itu bukanlah seorang perempuan yang bisa dengan mudah di sentuh lelaki seperti yang Zen lakukan pada Ruby saat ini.


Vian menghela nafasnya pasrah. Merasakan nafasnya yang begitu menyesakkan dada. Vian bahkan belum melakukan aksi dengan benar untuk mengambil hati Ruby. Namun semuanya sudah harus kandas, menerima kenyataan yang ada.


Kedua mata Vian mengedarkan pandangannya, menatap semua orang yang menunggu jawabannya.


"Om mau lewat tangga atau lift. Vian mau ke kamar."


"Ya Allah, Vian. Mau ikut masuk lift saja sampek lantang gitu berhentiin Om kamu," omel Reina.


"Ya sudah ayo sekalian," ajak Zen.


Zen kembali membawa Ruby menuju lift. Vian menatap datar punggung Zen dan Ruby, kakinya ikut melangkah untuk segera memasuki lift.


Nissa yang peka dengan ekspresi wajah Vian, istri Bapak Yusuf itu menatap heran.


"Kenapa wajah Vian terlihat sedang marah dan penuh dengan rasa kecewa," batin Nissa.


Entah kenapa perasaan Nissa jadi tidak enak sendiri. Nissa berusaha menyingkirkan perkiraan-perkiraan yang datang di dalam pikirannya saat ini.

__ADS_1


Zen langsung menekan tombol angka 2 dan 3. Lalu tombol agar pintu lift tertutup setelah Vian ikut masuk.


"Kamu nggak langsung lanjut S2 disana sekalian Vian?" Zen melepaskan rangkulannya pada Ruby. Zen pikir tidak enak bermesraan di depan keponakannya yang jomblo.


Vian seketika tersadar dari lamunannya sendiri. "Rencananya Vian mau lanjut S2 di Indonesia saja Om."


Zen masih ingin mengajak Vian berbincang, tapi sepertinya saat ini bukan yang tepat karena pintu lift sudah terbuka tepat di lantai dua.


"Kita lanjut nanti saja ngobrolnya ya, Om mau nyegerin badan dulu."


"Iya Om."


Zen langsung melangkah cepat karena Ruby sudah lebih dulu keluar lift.


"Mas geli Mas," keluh Ruby saat tubuhnya di gelitiki Zen.


"Masak sih geli," Zen kembali usil dan terus melakukan aksinya.


Brak


Zen menutup pintu dengan cukup keras karena masih ingin menggoda Ruby.


Pintu yang seperti di banting Zen, hal itu berhasil membuat kedua mata Vian berkedip.


Tanpa Zen dan Ruby tahu, aksi guyonan mereka berdua di saksikan oleh Vian. Karena sejak tadi, jari Vian menahan tombol pintu lift agar tetap terbuka. Sedangkan tangan Vian yang satunya mengepal erat karena merasa kalah telak.


"Aku yang lebih dulu bertemu dengan Maira. Tapi kenapa justru Om yang mendapatkannya dengan begitu mudah." gumam Vian.


Vian bahkan tidak bisa membayangkan, dengan apa yang Zen dan Ruby lakukan di dalam sana, apalagi mereka terlihat begitu mesra.

__ADS_1


Tidak ingin berlama-lama dengan perasaannya yang kacau. Vian membiarkan pintu lift tertutup. Agar segera sampai ke lantai tiga.


***


"Sayang, buka pintunya. Aku mau ikut mandi juga," teriak Zen sambil mengetuk pintu.


Di dalam kamar mandi, Ruby tersenyum sambil tetap fokus dengan sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya.


"Sayang, mandi bareng sih biar cepat selesai loh. Sebentar lagi maghrib ini," mohon Zen memelas.


Ruby jelas sekarang paham dengan modus-modus terselubung Zen. Ia tidak ingin tertipu lagi. Apalagi waktu sudah akan maghrib.


"Sebentar Mas. By lagi BAB, jangan bikin konsentrasi By hancur," teriak Ruby.


"Ok. Tapi kita mandi bareng," ucap Zen memperingati.


Zen berhenti menggedor pintu. Lelaki itu memilih untuk melepaskan seluruh pakaiannya, untuk mempersiapkan diri.


Tubuh yang hanya tertutup celana bokser itu, Zen rebahkan di atas ranjang sambil bermain ponsel. Sabar menunggu Ruby membukakan pintu.


klek


Setelah menunggu hampir 20 menit akhirnya Zen mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Zen langsung bangun, kedua matanya mendapati Ruby yang sudah berbalut bethrobe dan kepala yang di balut handuk.


"Kok sayang mandi duluan?" protes Zen sambil menghampiri Ruby.


Kedua tangan Ruby menyilang memberi tanda agar Zen tidak mendekat. Apalagi sampai menyentuhnya.


"Stop Mas. By udah wudhu ini."

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2