
Tepat pukul 02.30 WIB, Zen baru sampai di kediaman Kakaknya. Tentu saja kedatangan Zen hanya di sambut bagian keamanan, karena semua orang sudah pasti lelap dalam mimpi.
Zen langsung memasuki rumah, menuju lift agar dirinya segera sampai di lantai tiga, di mana kamarnya dan kamar Vian berada di sana.
Zen bergegas memasuki kamarnya. "Akhirnya sampai juga," gumam Zen bernafas lega. Zen melempar tasnya di atas sofa. "Tau-tauan aja nih Bibi, kalau aku datang tengah malam," ucap Zen menelisik kamarnya dengan lampu yang temaram. Sangat mendukung untuk Zen yang memang mengantuk parah dan tubuh yang terasa begitu lelah.
Zen menarik nafas, menghirup aroma ruangan yang sangat Zen suka. "Tidur enak ini mah," Zen bergegas ke kamar mandi. Melepas seluruh pakaiannya dan langsung membersihkan diri.
Zen keluar dari kamar mandi, bergegas mengambil celana pendek di dalam lemari. Setelah melempar handuk ke dalam tempat pakaian kotor, Zen langsung mendekati ranjang. Memasukkan tubuhnya di dalam selimut, dan sekali memejamkan ke dua matanya, Zen langsung lelap begitu saja.
.
.
.
Divya dan Queen bergegas menuju lantai atas setelah mengetahui bahwa Zen sudah datang saat tengah malam.
Adik dan Kakak itu, berniat ingin mengejutkan Zen sekaligus membangunkan Zen agar segera solat subuh.
Klek ...
Lampu kamar yang di tempati Zen sudah di ganti dengan lampu utama. Bahkan kamera Divya sudah on siap mendokumentasikan momen Queen mengejutkan Zen.
Set ...
__ADS_1
Queen membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Zen. Baru saja Queen ingin berteriak memanggil Zen, agar Zen terkejut. Namun, ternyata yang terkejut adalah Queen dan Divya.
"Maira ...." Gumam Queen dan Divya
Tangan Divya sampai bergetar menggenggam ponselnya sendiri. Melihat Ruby dan Zen yang lelap di bawah selimut. Bahkan gadis yang membuat semua orang kalang kabut itu nampak nyaman di dalam kekangan Zen. Jika di lihat dari posisi tidur Zen, sepertinya Zen menganggap Ruby adalah bantal guling. Wajah Ruby menyusup di leher Zen, sedangkan tangan dan kaki Zen mengekang tubuh Ruby.
"Mairaaa ... Ommm ..." Pekik Queen sangat kuat, sampai Ruby benar-benar terbangun.
Ke dua mata Ruby langsung mengerjap karena mendengar suara Queen memanggilnya. Ke dua mata Ruby langsung terbelalak lebar saat menyadari ada beban berat yang menimpa tubuhnya. Dan di depannya ada tubuh seseorang yang mengekangnya. Ruby sedikit memundurkan wajahnya untuk melihat siapa pemilik tubuh yang membuatnya kesulitan bergerak.
Ke dua mata Ruby semakin melebar saat melihat wajah lelaki di depannya. "Aaaaaa ..." Teriak Ruby kuat sambil mendorong tubuh lelaki yang mendekapnya tak kalah kuat.
Brug ...
Ruby dengan cepat menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, dan langsung turun dari atas ranjang. Zen sendiri langsung berdiri saat nyawanya mulai terkumpul menyadarkan raga.
"Siapa yang dorong aku?" tanya Zen sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Keduanya berusaha terbuka, karena rasa kantuknya belum hilang.
Sedangkan Ruby, satu tangannya menjepit selimut untuk menutupi kepalanya. Sedangkan tangan satunya, meraba tubuhnya yang masih menggunakan pakaian lengkap. Ruby melihat ke arah lelaki yang tadi memeluknya saat tidur. Hanya sebentar, Ruby langsung memalingkan wajahnya karena Zen hanya menggunakan celana pendek saja.
Sedangkan Divya langsung mengakhiri rekaman videonya dan langsung lari keluar kamar untuk memanggil ke dua orang tuanya.
"Queen, kenapa ada laki-laki yang masuk ke kamar kamu?" tanya Ruby. Suara Ruby sudah bergetar. Tentu saja Ruby ingin menangis, ia tidak pernah berhubungan inten dengan sembarang lelaki. Tapi apa yang terjadi barusan. Tubuhnya di dekap lelaki yang tidak ia kenal.
"Ya Allah Maira. Semalaman kita cari kamu, ternyata kamu tidur di kamar Om aku. Astagfirullah." Queen sampai kebingungan sendiri kenapa bisa Ruby nyasar ke kamar Om nya.
__ADS_1
"Jadi semalam Om tidur sama ini bocil?" tunjuk Zen pada Ruby yang sudah jelas membelakanginya. "Kenapa dia bisa masuk ke kamar Om?" tanya Zen menyadari bahwa ini salah. Zen melihat tubuhnya sendiri, ia langsung menuju lemari untuk mengambil kaos.
Ruby melihat seluruh ruangan yang ternyata bukan kamar Queen. "Ini kamar siapa?"
"Ini kamar Om aku Mai. Ya Allah..."
Zen terpaku sejenak karena suara Ruby yang baru saja ia sadari. Kemudian Zen mengenyahkan perkiraannya karena situasi genting saat ini.
"Kenapa aku bisa ada di sini?"
"Justru aku yang tanya, kenapa kamu nyasar ke sini Mai?"
Ruby mengingat saat ia menuju kamar Queen. "Bagaimana ini?" gumamnya. Ruby terjatuh ke lantai setelah mengingat aroma ruang kamar. Ini bukan kamar Queen. Jelas semalam Ruby salah masuk kamar, tapi dengan bodohnya Ruby tidur begitu saja tanpa pikir panjang.
Queen langsung menghampiri Ruby. Mencoba menenangkan sahabatnya yang jelas syok dengan situasi saat ini.
Hendri dan Reina bergegas naik ke lantai tiga setelah Divya memberitahu segalanya.
"Alhamdulillah akhirnya Maira ketemu," ucap Reina dan Hendri bersamaan. Keduanya langsung menatap adik laki-laki mereka yang baru datang dari Jakarta. "Astagfirullah ..." Pekik keduanya saat teringat kembali penjelasan Divya bahwa adik mereka tidur bersama Ruby.
Bersambung ...
Bagaimana? Part ini kan yang di harapkanš¤£
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan š„° kasih like dan komennya š tab favorit juga ya ā¤ļø
__ADS_1