
"Indah kan malam ini?" bisik Zen sambil mendaratkan dagunya di pundak Ruby. Sedangkan kedua tangan Zen langsung melingkar di tubuh Ruby.
Ke dua tangan Ruby semakin erat mencengkram pagar balkon. Jantung Ruby mulai kencang detakannya. Seluruh tubuh Ruby semakin bergetar saat tubuhnya seolah sedang mendapatkan sengatan.
"I-iya."
Ruby mulai memejamkan matanya erat. Merasakan Zen yang mulai menciumi pundak hingga ke leher. Sekalipun masih terhalang baju dan juga jilbab. Tentu saja Ruby bisa merasakan bagaimana lembutnya sentuhan bibir Zen saat ini.
Lalu bagaimana rasanya jika bibir Zen mendaratkan langsung ke permukaan kulit Ruby. Sungguh gadis itu tidak bisa membayangkan lebih jauh.
"O-om."
"Aku cinta kamu, Ruby Al Humaira."
Sebaris kata yang di bisikkan Zen, tentu saja mampu menggetarkan hati Ruby. Ungkapan yang akhirnya Zen lontarkan.
"Om lagi ngelindur ya?"
Zen langsung membalik tubuh Ruby, agar mereka bisa saling berhadapan. "Lihat aku By," Zen menjepit dagu Ruby, agar wajahnya menatap wajah Zen. "Aku benar-benar sadar By. Aku cinta kamu."
Ruby menatap dalam ke dua mata lelaki yang baru saja mengungkapkan perasaannya. Nampak sangat jujur Zen mengungkapkan isi hatinya.
"Ini terlalu cepat Om. Kita belum saling mengenal dengan baik. Lagi pula, bukankah Om sudah punya pacar?"
"Kamu hanya cemburu By. Perempuan yang kamu maksud itu hanya sebatas teman aku. Malam itu, aku bertemu dengannya bukan hanya berdua, aku bersama Alan."
"Siapa yang bilang aku cemburu? Om jangan kepedean ya!" ucap Ruby sambil mendorong tubuh Zen agar mereka berjarak.
"Lah ini kamu marah nggak jelas. Kamu itu hanya cemburu By."
Wajah Ruby sudah semakin merah dan nampak panik. "Aku nggak cemburu Om."
Zen langsung menarik tangan Ruby lalu memeluknya erat, saat Ruby akan beranjak.
__ADS_1
"Lepasin aku Om. Jangan suka asal-asalan sentuh aku kenapa. Aku nggak kuat ngerasain detak jantung aku yang semakin cepat. Aku takut kena penyakit jantung."
Zen menahan kekehannya, mendengarkan celotehan Ruby. "Apa aku juga akan terkena penyakit jantung?" tangan Zen menahan kepala Ruby, agar telinga Ruby mendengarkan detak jantung Zen yang selalu bertalu-talu saat berdekatan dengan Ruby.
.
.
.
"Aku semalam mimpi gendong cucu loh sayang," ucap Yusuf sambil mengusap kepala Nissa yang sedang tiduran di pahanya.
"Mungkin kita akan dapat rezeki Ayy," Nissa masih sangat fokus dengan ponselnya.
"Lagi chat sama sih? kok aku di cuekin," protes Yusuf.
"Uluh-uluh, Om suami aku cemburu nih. Aku lagi chat sama mantu kita yang imut mungil itu loh Ayy."
"Jangan ngarep berlebihan Ayy."
"Kita harus bertindak sayang. Kasian sekali anak laki-laki aku itu. Nganggur."
"Malam ini, kita menginap di apartemen mereka yuk Ayy."
"Ngapain sayang? Kita malah akan mengganggu waktu mereka berduaan."
Nissa langsung membisikkan sebuah rencana kilat, agar Zen dan Ruby bisa segera bersatu layaknya pasangan suami dan istri. Dan tentu saja, Yusuf setuju dengan ide cemerlang sang istri. Berharap setelah ini, Yusuf akan mendapatkan cucu kembar laki-laki.
.
.
.
__ADS_1
Zen dan Ruby tentu sangat terkejut melihat kedatangan Nissa dan Yusuf, di saat mereka akan keluar makan malam.
Apa lagi saat mengatakan kalau orang tua mereka itu akan menginap di sini. Tentu saja Zen dan Ruby semakin panik. Karena di apartemen ini hanya ada dua kamar tidur saja.
Akhirnya, Ruby bersama Nissa menuju ruang makan untuk menata makanan yang sengaja Nissa bawa dari rumah. Sedangkan Zen, beralasan harus memeriksa pekerjaan sebentar.
Jelas saja Yusuf dan Nissa tahu kalau Zen sedang membereskan kamar yang di tempati Ruby selama tiga hari ini. Berharap mereka tidak ketahuan kalau selama di apartemen, keduanya tidur di kamar yang berbeda.
"Tumben Nda buat sate kambing?" tanya Zen saat menyadari yang ia makan itu adalah daging kambing.
"Lagi pengen aja. Enak kan?"
"Enak banget Nda."
"Masakan Nda memang yang terbaik," Ruby mengapresiasi Nissa dengan kedua jempolnya.
"By juga harus cicipi sate kambingnya. Di jamin ketagihan."
"Baik Nda."
Setelah makan malam, dua pasang suami istri itu jalan-jalan di mall yang lokasinya tidak jauh dari apartemen.
Ada banyak perlengkapan dapur yang Nissa beli untuk melengkapi peralatan di dapur Zen dan Ruby.
Setelah selesai berkeliling, mereka semua langsung kembali ke apartemen. Nissa dan Ruby menuju dapur untuk membereskan barang belanjaan.
Setelah selesai, Nissa langsung membuat 2 jus alpukat. Nissa tersenyum sumringah saat memasukkan sesuatu ke dalam gelas jus tersebut.
"Maafkan Nda ya By, dengan terpaksa Nda melakukan ini," batin Nissa dengan hati bahagia.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1