
Setiap libur kerja, Zen dan Alan selalu liburan tipis-tipis kemanapun mereka mau. Dua lelaki bujang yang sudah pas untuk menikah itu selalu nampak enjoy kemanapun mereka pergi dalam keadaan jomblo. Aslinya mah keduanya ngenes banget. Di saat orang lain bisa menggandeng mesra pasangan masing-masing orang yang sedang berlibur, mereka berdua harus tahan mental agar tetap stay cool.
Alan fokus mengendarai mobilnya, karena jalanan nampak macet. Jalanan ramai karena sedang adanya festival, sebuah acar yang sedang di rayakan dengan suka cita.
"Ayo kita menepi Al, sepertinya seru kalau kita ikut perayaan." Ucap Zen pada anak angkat orang tuanya.
Alan yang menjadi salah satu anak yang tinggal di panti asuhan. Di mana Nissa setiap minggu selalu datang ke sana karena Yusuf sebagai donatur terbesar di sana. Berkat kepintaran yang Alan miliki, akhirnya Yusuf dan Nissa mengadopsi Alan tepat saat Alan lulus sekolah SMP.
Meski tidak satu tempat sekolah dengan Zen, tapi Yusuf memberikan pendidikan terbaik pada Alan. Yusuf berharap, saat Alan sudah besar nanti, Alan akan menjadi orang kepercayaan Zen.
"Siap bos."
Zen dan Alan langsung keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Mereka ikut bersama kerumunan orang yang sedang nampak bahagia.
"Ada festival kembang api juga itu bos," ucap Alan sambil menunjuk ke arah sekumpulan muda mudi yang nampak bersama pasangannya sedang bermain kembang api.
Zen tersenyum melihat muda mudi yang nampak bahagia di sana. "Bermain kembang api memang sangat menyenangkan dan seru jika kita lakukan bersama orang yang kita cintai, Al."
"Aku mencintai mu, bos."
"Bukankah kita sangat menyedihkan?" tanya Zen sedang meratapi nasib mereka berdua.
"Aku akan menjadi orang yang akan terus berusaha membahagiakan mu, bos. Jadi jangan sedih lagi."
"Sumpah, nyesel sampek ke uluh hati, aku ngomong gini ke kamu. Ayo pulang. Makin ngelantur celurut satu ini," ajak Zen. Ia tidak ingin mendengar ucapan Alan yang semakin ngawur. Bahaya kalau ada orang yang mendengar obrolan mereka dan berakhir salah paham.
__ADS_1
"Bos. I love you," ucap Alan sambil mengikuti langkah lebar Zen.
"Ji*jik woiii ..."
.
.
.
Setelah makan malam, seperti biasanya Arjuno dan Zantisya beserta ke tiga anak mereka akan berkumpul di ruang keluarga. Jika biasanya mereka akan menonton acara televisi. Berbeda dengan malam ini, Arjuno sengaja tidak menyalakan televisi untuk membicarakan sesuatu.
"Ayah dan bunda ingin membicarakan sesuatu pada kalian bertiga, terutama pada kak Ruby," ucap Arjuno membuka obrolan.
Ruby yang baru saja menyambar mainan kubik rubik dan menunduk fokus ingin mengumpulkan semua warna, ia langsung mengangkat wajahnya menatap ayah dan bundanya.
"Kami tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini sama By. Namun, ayah dan bunda sudah memutuskan untuk segera menyampaikan ini semua. Safir dan Arfan, kalian adik kak By. Jadi kalian harus menjadi saksi keputusan kak By nantinya."
Ruby menatap serius Arjuno yang langsung mengambil sebuah kotak kecil yang terdapat lambang hati dari saku baju muslim yang di kenakan Arjuno.
"I-ini apa maksudnya Yah?" tanya Ruby setelah Arjuno menyodorkan sebuah kotak kecil tepat di hadapannya, dan di dalamnya terdapat sebuah cincin yang nampak begitu indah.
"Satu tahun yang lalu, ada seorang lelaki datang menemui ayah dan bunda. Dia secara pribadi melamar By. Meminta By secara langsung dengan kami."
"Tapi ayah, By masih kecil, masih sekolah. By bahkan belum kepikiran tentang hal seperti itu."
__ADS_1
"Bunda dan ayah tahu nak, kami menyampaikan hal ini ke By sekarang, karena kami ingin segera memberikan jawaban untuk lelaki itu. Kami tidak mau dia menunggu tanpa sebuah kepastian dari By," kini giliran Zantisya yang memberikan penjelasan.
"Tapi Ruby masih sekolah Bun."
"By hanya perlu memberikan jawaban, mau menerimanya atau tidak," ucap Zantisya.
"Dia sudah mengatakan akan datang lagi jika By sudah siap, itu pun kalau By menerimanya. Lelaki itu tidak menuntut menikahi By cepat-cepat nak. Niat kami mengatakan hal ini sekarang, agar kami tahu apa jawaban By. Kami tidak akan memaksa By, apa lagi kalau By menyukai orang lain," tutur Arjuno. Padahal Arjuno sangat yakin anaknya tidak memiliki kedekatan dengan sembarang lelaki di luar sana. Arjuno yang begitu posesif terhadap anak-anaknya, tentu saja sangat ekstra dalam mengawasi pergaulan ke tiga anaknya, terutama Ruby.
"Lelaki yang By suka hanya ayah dan adik-adik By."
"Sorry Kak By, Arfan nggak suka kakak."
"Kakak juga terpaksa ngomong gitu." Ucap Ruby tak mu kalah.
Perdebatan kecil antara Ruby dan Arfan tentu saja membuat Arjuno dan Zantisya menahan kekehan mereka.
"Kalau begitu, kakak pikirkan baik-baik. Ayah dan Bunda menunggu jawaban Kakak. Apapun itu, kami dukung keputusan By."
Ruby terdiam, menatap lekat perhiasan kecil yang sudah pasti mahal harganya. Bukan perkara harga, tapi entah kenapa tiba-tiba saja Ruby sangat tertarik dengan benda kecil yang nampak indah di pandang mata.
"Ayah, bunda. Siapa lelaki itu?"
Bersambung ...
Hayo loh Zen di tikung siapa🤣🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️