
"Zayn Dzuhairi Sucipto bin Yusuf Dzuhairi Sucipto ..."
"Saya."
"Saya nikahkan dan saya kawinkan, ananda Zayn Dzuhairi Sucipto bin Yusuf Dzuhairi Sucipto dengan putri kandung saya, Ruby Al Humaira binti Arjuno Andrewiyoko dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 100 gram, tunai," ucap Arjuno. Tangannya menggenggam kuat tangan Zen.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Ruby Al Humaira binti Arjuno Andrewiyoko dengan mas kawin tersebut, tunai," ucap Zen lantang, lugas hanya dalam satu tarikan nafas.
"Bagiamana para saksi?"
Seketika kata Sah menggema di telinga Zen. Ada rasa kelegaan karena pada akhirnya, gadis incarannya kini telah resmi menjadi miliknya, menjadi istrinya.
Tapi ini baru langkah awal Zen mendapatkan Ruby. Karena langkah selanjutnya, Zen harus bisa mengambil hati dan cinta Ruby sepenuhnya. Agar Zen bisa memiliki Ruby seutuhnya.
Setelah doa selesai di panjatkan, Zen di antar menuju kamar Ruby. Selama menaiki anak tangga, detak jantung Zen sudah bertalu-talu. Lalu bagaimana nanti kalau dia menyentuh tangan Ruby. "Tolong jangan pingsan Zen. Jangan bikin malu diri kamu sendiri," batin Zen memperingati diri sendiri.
Zayn langsung masuk kamar Ruby, setelah Queen membuka kan pintu dari dalam. di sana ada Ruby yang di temani Zantisya dan juga Queen.
Ruby langsung beranjak saat melihat lelaki yang menggunakan sarung dan baju muslim serta peci dengan warna yang sangat serasi. Penampilan yang sederhana namun tidak memudarkan bagaimana tampan dan gagahnya Zen saat ini.
Zayn sendiri menghentikan langkah kakinya, Meski Ruby tidak menggunakan kebaya, hanya menggunakan pakaian kurung dengan polesan wajah yang natural. Namun, hal itu sudah bisa memancarkan kecantikan yang Ruby miliki.
Zen langsung mendekati Ruby. Sedangkan Ruby langsung mencium punggung tangan Zen secepat kilat.
Ke dua mata Ruby langsung melebar sempurna, saat Zen membungkukkan tubuhnya lalu mendaratkan kecupan di kening Ruby.
"Apa harus begini?" batin Ruby kesal.
__ADS_1
Ruby semakin terkejut saat Zen mendekatkan tubuh Zen pada Ruby. Jarak yang hanya beberapa centimeter itu, membuat Ruby bisa mencium aroma tubuh Zen yang maskulin dan menenangkan.
Hati Ruby terasa bergetar dan tersentuh saat Zen menyentuh kepalanya dan membisikkan doa.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
Artinya : "ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."
Ke dua mata Ruby langsung terpejam saat Zen mendaratkan ciuman beberapa detik di puncak kepala Ruby. Setalah itu Zen mundur satu langkah untuk memberi jarak lagi.
Zen langsung tersenyum saat Ruby menatapnya. Namun, siapa yang tahu kalau kaki Zen saat ini terasa lemas. Rasanya sudah ingin ambruk.
"Apa aku boleh numpang ke kamar mandi?"
Tentu saja pertanyaan Zen membuat Ruby menautkan ke dua alisnya, menatap heran lelaki yang ada di depannya.
"Dek tahan sebentar memangnya nggak bisa? Ini tinggal pasang cincin kawin loh dek," ucap Reina yang keheranan.
"Ya Allah, dia Om siapa sih," batin Queen dan Divya.
"Itu kamar mandinya di sana," ucap Ruby sambil menunjuk arah kamar mandi.
Tanpa memberikan tanggapan, Zen langsung meluncur ke kamar mandi. Begitu Zen menutup pintu, Zen langsung duduk jongkok karena kakinya sudah tidak bisa di ajak kompromi.
"Dasar kaki nggak ada akhlaq, kompromi dikit kek biar tetap stay cool gitu," gerutu Zen. "Tapi masih untung kaki yang berasa gemetar lemes, akan lebih memalukan lagi kalau aku pingsan."
Zen bergegas keluar dari kamar mandi setelah dirinya merasa tenang untuk menghadapi Ruby kembali.
__ADS_1
"Sudah dek?"
"Sudah kak."
"Baru kali ini ada pengantin baru, kebelet."
"Sudah-sudah, ayo di pasang ini cincinnya," ucap Nissa melerai kedua anaknya. Bisa panjang kali lebar kalau ke dua anak Nissa itu berdebat.
Zen kembali mendekati Ruby, dan langsung mengambil satu cincin yang akan melingkar di jari manis Ruby.
"Cantik," gumam Zen setelah berhasil memasang benda mungil yang sudah menghiasi jari Ruby. "Apa dia menyimpan cincin itu?" batin Zen saat melihat jari manis satunya yang sudah tidak nampak cincin lamaran Zen di sana.
Ruby terdiam menatap jarinya lekat. Merasakan hatinya yang tersentuh oleh benda mungil yang baru saja menghiasi tangannya. Cincin yang sangat pas di jarinya.
"Kenapa bisa rasanya sama seperti waktu itu," batin Ruby yang hanyut dengan pikirannya sendiri.
"Ruby ..."
Ruby tersadar dari lamunannya saat Zantisya memanggilnya. "Iya Bun."
"Cincinnya nak."
Ruby langsung mengambil cincin yang harus ia sematkan di jari lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Nissa langsung memeluk Ruby. "Mantu ku ..." ucap Nissa sambil mendaratkan banyak kecupan sayang di wajah cantik Ruby.
Sedangkan Zen menatap iri Ndanya yang terlihat bebas memeluk dan mencium Ruby dengan rasa gemas. "Aku di tikung Nda ku sendiri," batin Zen sedih.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️