Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 110 KISAH CINTA ZEN


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Mendengar pintu kamarnya di ketuk, Vian meletakkan cincin yang akan ia berikan pada Ruby. Lelaki bujangan itu beranjak dari tempat tidur, dan bergegas membuka kan pintu.


"Oma," Vian sedikit terkejut. Pasalnya, setahu Vian saat ini Nissa dan yang lainnya sedang berada di taman.


"Oma boleh masuk?"


"Boleh Oma," Vian melebarkan pintu agar Nissa bisa masuk. "Apa semua orang sudah pulang?"


"Belum. Oma sengaja pulang lebih dulu."


Nissa melangkah sambil mengedarkan pandangannya. Tentu saja kedua mata perempuan itu langsung mendapati sebuah cincin yang masih aman di tempatnya.


Nissa tersenyum, tapi hatinya merasa sakit. "Ya Allah mudahkan lah hamba menjelaskan semuanya," batin Nissa.


"Vian suka kamar ini?" tanya Nissa sambil melangkah mendekati sofa dan mendaratkan tubuhnya disana.


"Suka Oma. Dari atas begini jadi bisa melihat keindahan lampu jalanan di malam hari.


Vian ikut duduk di dekat Nissa. Kedua matanya mengamati album foto yang baru saja Nissa letakkan di atas meja.


"Apa itu album foto Oma dan Opa?" tanya Vian penasaran. Apalagi sampul album foto itu terdapat tulisan My Love. Membuat Vian ingin membukanya. "Vian boleh lihat Oma?"


"Boleh nak."


Dengan gerakan cepat, Vian mengambil album foto itu dan langsung membukanya.


"Oh, ini foto Om Zen?" tanya Vian lemah dan terdengar kecewa. Kedua mata Vian melihat foto Nissa duduk di kursi bersama Zantisya, sedangkan Arjuno merangkul Zen kecil sambil tersenyum lebar dan duduk di bawah.

__ADS_1


"Jadi Om Zen sudah kenal orang tua Maira sejak kecil?" tanya Vian dalam hati. Wajah Vian terlihat sangat kecewa. Meras kalah dalam banyak hal jika itu di bandingkan dengan Zen.


Nissa menghela nafasnya. Berharap semua penjelasannya akan di terima dengan hati yang lapang oleh Vian.


"Di foto ini, pertama kali Oma dan Om bertemu dengan kedua orang tua Ruby. Saat itu Tante Tisya sedang hamil Ruby sama Safir. Tante Tisya menginginkan gula kapas yang sedang di makan Om nya Vian. Dengan terpaksa Om Zen kasih gula kapasnya ke Tante Tisya tapi dengan syarat Om Arjuno mau lomba lari keliling alun-alun," Nissa bercerita sambil melihat raut wajah Vian saat ini.


"Vian tahu, Om Zen bahkan meminta anak Om Arjuno dan Tante Tisya, kalau anak mereka perempuan. Padahal sudah jelas, Tante Tisya masih hamil muda," lanjut Nissa.


Vian membuka lembar foto album selanjutnya. "Kalau ini pertemuan kami yang ke dua," ucap Nissa menampilkan fotonya bersama Zen, Yusuf, Arjuno, dan Zantisya yang berada di Arko Restoran.


Nissa menceritakan kalau Zantisya menginginkan es krim yang sedang di makan Zen. Bahkan Zen juga mengatakan telah melamar janin perempuan yang ada di rahim Zantisya.


"Ini pertemuan kami yang Ke tiga, di saat Al sudah umur dua tahun."


"Al?"


Nissa mengangguk. "Ruby Al Humaira dan Safir Al Ghani. Tante Tisya menyebut si kembar dengan singkatan Al."


Vian bertambah kalah telak. Hanya sebuah sebutan kecil untuk si kembar saja Vian tidak tahu.


Vian terbelalak saat melihat foto Ruby bersama Zen yang sedang berciuman.


"Sudah sejak lama Om Zen mencintai Tante Ruby," Nissa mengusap lengan Vian dan menekan kata Tante, agar Vian sadar status Ruby di keluarga ini.


"Kami semua sangat khawatir saat Om kamu itu tidak juga segera menikah. Sama sekali tidak pernah membawa seorang gadis pulang ke rumah untuk di kenalkan pada kami. Belum lagi kabar di media masa yang menyebut negatif tentang Om kamu. Maka saat Oma tahu kalau Om Zen memiliki rasa pada gadis yang 15 tahun lalu di temuinya, Opa dan Oma memutuskan pergi ke Malang untuk melamar Ruby. Vian Tahu apa yang terjadi?"


Vian hanya menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya ingin meremas album foto di depannya ini, saat melihat foto pernikahan Zen dan Ruby. Foto yang memperlihatkan Zen sedang mencium kening Ruby. Namun, mana mungkin Vian melakukan hal itu di depan Nissa.


"Ternyata Omnya Vian sudah melamar Ruby sejak satu tahun yang lalu. Itu Artinya Om Zen melamar Ruby saat kelas dua SMA."


Jelas saja Vian semakin kalah langkah dari berbagai hal, jika berbanding dengan Zen. Entah kenapa, terasa sulit menikung Zen dalam hal apapun.


"Kenapa Oma menceritakan ini semua ke Vian?"

__ADS_1


"Agar Vian tahu, perjuangan Om mendapatkan Ruby itu bukanlah hal yang mudah. Mencintai perempuan tanpa melihat rupa itu bukanlah hal yang gampang, nak. Oma saja tidak yakin bisa mencintai orang tanpa melihat rupa terlebih dulu. Tapi Om kamu itu, mencintai Ruby dengan cara seperti itu. Cintanya tetap sama walau yang di lihat adalah gambaran gadis kecil berusia dua tahun."


Nissa menghela nafasnya pelan. "Om dan Tante Ruby baru beberapa bulan ini, hubungan mereka terlihat sangat hangat."


Vian menutup Album foto, lalu meletakkan kembali di atas meja. Rasanya sangat menyesakkan saat melihat bukti Zen memiliki kenangan bersama Ruby saat masih kecil. Hal yang tidak mungkin Vian miliki.


"Sejak kapan Vian menyukai Ruby?"


Vian seketika menoleh menatap Nissa. "Bagaimana Oma bisa tahu?" tanyanya tidak percaya.


"Oma yang menjaga kalian bertiga di saat Mama kalian bekerja. Jelas Oma bisa tahu gerak gerik sekecil apapun dari diri kalian bertiga. Oma bisa menilai dan merasakan perasaan kalian."


Vian bungkam tidak mungkin ia menceritakan semua perasaannya pada Nissa.


"Nggak apa-apa kalau Vian nggak mau cerita tentang perasaan Vian ke Ruby. Cinta memang tidak salah nak, bukan mau kita juga jatuh cinta dengan siapa. Oma tidak bisa melarang perasaan Vian saat ini."


Nissa menggenggam satu tangan Vian. "Ruby sudah menikah dengan Omnya Vian. Ruby sudah menjadi Tante Vian sekarang. Oma harap, Vian bisa mengikhlaskan perasaan Vian."


Mendengar hal itu, membuat Vian langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Nissa.


"Oma meminta Vian untuk melupakan cinta pertama Vian?"


Nissa menggelengkan kepalanya. "Oma tidak meminta Vian untuk melupakan Ruby. Oma hanya meminta Vian untuk mengikhlaskan Ruby bersama Om. Karena sekarang Ruby sudah menjadi istri Om Zen. Takdir dan jodohnya bersama Om Zen, nak. Mereka saling mencintai. Oma yakin, Vian tahu tentang hal itu."


Vian menatap Nissa tak terbaca. Merasa percuma Mengungkapkan perasaannya pada Nissa, karena Nissa tidak akan pernah memahami hatinya.


"Oma tidak ingin ada pertengkaran antar saudara. Antara Vian dan Om. Belajarlah untuk ikhlas dan memendam sedalam-dalamnya perasaan Vian. Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua dengan Tuhan. Terutama, jangan sampai Om tahu tentang ini. Vian bisa kan nak?" Nissa mengusap puncak kepala Vian. Menyalurkan rasa kasih sayangnya yang ia miliki untuk semua cucunya.


"Vian akan mencobanya," ucapnya pelan.


Nissa tersenyum samar, seketika hatinya terasa sedikit lebih lega. "Mungkin awalnya akan sulit, tapi Oma yakin Vian pasti bisa. Oma percaya, Vian tahu mana yang benar dan mana yang tidak."


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2