
Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Tadi, Zen sudah menghubungi Ruby kalau dirinya pulang malam.
Sudah hampir satu jam Ruby menatap satu set gaun malam yang ia letakkan di atas ranjang. Ruby duduk meringkuk memeluk kedua kakinya. Wajahnya masih jelas nampak keraguan untuk menggunakan pakaian kurang bahan tersebut.
"Yang benar saja aku pakai baju jaring-jaring seperti ini? Kalau nanti aku masuk angin bagaimana? Bukan-bukan, Kalau Mas Zen menertawakan aku bagaimana?" Ruby masih kalut dengan pikirannya sendiri.
"Toh tujuannya untuk begituan, Kenapa menyenangkan suami saja harus seperti ini?" Ruby masih terus menimba-nimba lagi.
"Halah. Manut saja sama yang lebih berpengalaman."
Ruby mengintip keluar kamar, tepat saat Zen sudah pulang dan melihat ke arah kamarnya. Membuat detak jantung Ruby semakin bekerja cepat.
"Ngapain ngintip-ngintip? timbilen kapok," cibir Zen.
"Hiisss yang ada ngapain Mas, lihat ke kamar aku, bukannya langsung ke kamar Mas sendiri?"
"Pengen aja."
"Mas sudah makan?"
"Sudah. Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Aku ke kamar dulu By, gerah rasanya."
Zen bergegas menuju lantai atas. Dan betapa terkejutnya Zen saat melihat tatanan kamarnya yang nampak serba putih. Terdapat hiasan bunga tulip putih dan mawar putih.
Zen menatap seluruh ruang kamarnya, Seperti kamar pengantin yang ingin ia persembahkan pada Ruby, jika semua rencana awalnya berjalan sesuai semestinya.
"Apa Nda menata kamar ku menjadi seperti ini?" gumam Zen. Karena memang hanya Nissa yang tahu kamar impian bersama pasangan hidupnya, di malam pengantin.
__ADS_1
"Atau malah Ruby?" gumam Zen semakin berharap lebih.
Tidak ingin kalut dengan perkiraannya sendiri, Zen lebih memilih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Zen menuju ke lantai atas, Ruby bergegas mengganti pakaiannya dengan seragam dinas. Merapihkan rambut panjangnya, dan menyemprotkan minyak wangi di beberapa bagian tubuh.
Ruby menatap sekali lagi pantulan tubuhnya yang serba terbuka di mana-mana. Ruby menarik nafas dalam, mencoba menguatkan niatnya, mencoba menentramkan detak jantungnya. Setelah yakin dengan keputusannya, Ruby bergegas keluar kamar. Melangkah pelan menuju kamar Zen.
Begitu selesai membersihkan diri, Zen keluar kamar mandi dengan tubuhnya yang sudah segar.
Tubuh kekar lelaki itu hanya terlilit handuk yang melingkar di pinggangnya. Serta handuk kecil yang Zen gunakan untuk mengusap rambutnya.
Langkah kaki Zen seketika terhenti saat melihat gadis cantik berambut panjang berdiri dan bersandar pada pintu.
Zen sampai tidak berkedip mana kala kedua netranya salah lihat, melihat penampilan gadis yang biasanya tertutup dan sekarang berpenampilan transparan. Memamerkan lekuk tubuh dengan sangat jelas.
"Kamu ngapian di sini By?" entah pertanyaan apa yang di lontarkan Zen. Karena sangking gugupnya melihat Ruby mengenakan lingerie se*ksi berwarna putih bercampur warna merah muda.
"Aku kesini itu emmm ..." Ruby gugup mau menjawab apa adanya. Sampai gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri. Dan hal itu membuat Zen semakin tertantang. "Apa boleh malam ini By tidur disini?"
"Boleh. Kamu boleh tidur disini kapanpun kamu mau. Bukankah memang sebaiknya kamu tidur bersama suami kamu?" Ruby hanya menganggukkan kepalanya, sambil memainkan jari jemarinya karena gugup.
"Kamu sudah solat By?"
"Sudah."
Zen bergegas menuju lemari dan langsung menyambar sarung dan juga kaos. Zen langsung berdiri di atas sajadah, siap akan menjalankan solat Isa.
Zen menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan tubuh Ruby yang sudah melambai-lambai, minta di sentuh.
"Astaghfirullah hal adzim ... astaghfirullah hal adzim ... astaghfirullah hal adzim ... " Zen mencoba mengusir bayangan Ruby agar ia bisa fokus menjalankan ibadah.
__ADS_1
"Allahu akbar ... Ya Allah tenangkan hati ku."
Ruby jelas menatap heran, karena Zen tidak juga melakukan ibadah.
"Kenapa Mas nggak cepat mulai solat?"
Pertanyaan Ruby justru meruntuhkan hati Zen yang sudah terombang ambing.
"Diam dan jangan komentar By," ucap Zen pelan.
Zen langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang begitu selesai solat. Tanpa melihat Ruby yang sejak tadi masih berdiri di dekat pintu.
"Ini gimana konsepnya sih? Kata kak Tiara kalau pakai baju seperti ini suami pasti langsung narik istri ke ranjang. Kok ini aku di biarkan," protes Ruby di dalam hati.
Dengan keberanian level maksimal, Ruby bergegas mendekati ranjang dan langsung merangkak naik ke atas ranjang.
Detak jantung Zen semakin bertalu-talu saat Ruby dengan sengaja merebahkan tubuhnya di dekat Zen. Sampai kulit tangan mereka bersentuhan. Membuat tubuh keduanya seolah mendapatkan sengatan.
Sudah lima menit, tapi tidak ada pergerakan di antara keduanya. Hanya detak jantung mereka yang seolah bersahutan.
"Ya sudahlah kalau Mas nggak mau, aku balik kamar saja," Ruby sudah kesal karena merasa di anggurkan.
Belum sempat Ruby beranjak, Zen langsung bergerak cepat menahan Ruby. Langsung menyesap penuh rasa minat bibir Ruby yang selalu menganggu penglihatan mata Zen.
Meskipun Ruby terkejut dengan tindakan cepat Zen. Tapi dengan senang hati Ruby membalas sesapan yang Zen lakukan.
"Apa sekarang aku boleh melakukannya?" tanya Zen setelah melepas bibir Ruby yang sudah nampak menebal. Kedua mata Zen sudah di penuhi dengan kabut has*rat.
Ruby mengangguk. "Dari ujung rambut sampai ujung kaki Ruby, mulia malam ini Ruby berserah diri agar Mas menjadikan Ruby istri Mas sesungguhnya."
Bersambung ...
__ADS_1
Sampai jumpa besok ya🤭 semoga mimpi indah 🥰
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️