Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 71 MEMBAYAR MAHAL


__ADS_3

Album foto apa yang di maksud Ruby sebenarnya. Zen yang merasa tidak pernah membuat album foto tentu merasa bingung.


Zen begitu pintar dan sangat rapih menyimpan perasaannya sendiri. Jadi mana mungkin Zen meninggalkan bukti dalam bentuk dokumentasi cetak. Jelas sangat mustahil Zen lakukan.


Semua jejak hanya ada di ponsel Zen sendiri. Dari dulu hingga sekarang, Zen tetap menyimpan dengan aman semua foto tentang Ruby, hanya di ponsel saja. Sekalipun Zen sering gonta ganti hape.


Hanya satu bingkai foto yang di cetak Zen. Dan itu ada di kantor. Zen selalu menyimpan Bingkai foto itu di laci meja kerja, di saat ada orang lain di ruang kerjanya, atau jika Zen sedang berada di luar ruang kerjanya. Zen sangat rapih dalam semua hal apalagi berkaitan dengan perasaannya.


"Apa aku melakukan kecerobohan? Apa Nda yang melakukan ini semua?" batin Zen bertanya-tanya.


"Di foto itu aku masih umur 2 tahun loh Mas. Bisa-bisanya Mas cium bibir By yang masih suci."


"Ya suruh siapa, menggoda sejak dini. Ada kesempatan ya di sikat saja," bukannya mengatakan secara jujur, Zen lebih memilih berbohong untuk menggoda Ruby. Apalagi saat ini Zen masih terkejut perihal album foto.


"Dasar Mas ini," Ruby memukul dada Zen pelan.


"Aku penasaran By. Kenapa bisa malam itu kamu nyasar ke kamar aku?"


"Oh itu. Waktu itu ..." Ruby mulai menceritakan bagaimana awal mula meminum segelas jus hingga terdampar di kamar yang salah.


"Jangan-jangan ada yang kasih kamu obat tidur By?" tebak Zen.


"Eh iya juga. Berarti target malam itu sebenarnya teman By, Mas."


"Jadi aku harus berterimakasih dengan siapa dong?"


Ruby menatap Zen dengan rasa heran. "Kok berterimakasih?"


"Iyalah. Berkat kamu jadi korban salah target aku jadi bisa menikahi mu lebih awal. Kalau nggak, baru setelah kamu lulus kuliah atau malah lebih lama lagi baru Ayah Arjuno bolehin aku nikahin kamu."


"Hiiisss ... Mas menang banyak dong!"

__ADS_1


"Tapi enakkan?" tangan Zen sengaja merayap menggoda Ruby.


"Tapi sakit," rengek Ruby.


"Kalau lebih sering begituan pasti nggak akan sakit By."


"Sok tahu."


Setelah melakukan banyak perbincangan, baik Zen dan Ruby langsung terlelap terbuai mimpi dan tetap saling berpelukan.


Sepertinya, setelah melakukan pergulatan untuk pertama kalinya, hal itu akan membuat keduanya nyenyak dengan mimpi yang begitu indah.


Pelan-pelan Ruby membuka kedua matanya saat merasakan ada sesuatu yang menggenggam erat dadanya.


Belum lagi, benda kenyal yang begitu lembut menyesap punggung Ruby.


"M-mas mau apa?" tanya Ruby tergagap pelan saat menyadari perlakuan Zen saat ini.


"Bangunin By mah gampang Mas, tinggal di goyang aja lengan By. Kenapa seperti ini?"


"Nah bener pake goyangan. Ayo goyang lagi By."


Ruby merasa absurd dengan ucapan Zen saat ini. "Goyang apa sih Mas?"


"Ah kenapa dia sekarang polos begini pikirannya?" batin Zen. "Aku sudah siapkan air hangat untuk kita membersihkan diri."


"Memangnya sekarang jam berapa?"


"Setengah empat."


"Subuh masih satu jam lagi Mas. Aku tidur lagi ya."

__ADS_1


"Biasanya juga kamu solat dulu sebelum waktu subuh. Ayo," ajak Zen masih terus berusaha.


"Tapi By masih ngantuk Mas. By solat subuh saja nanti."


"Nanti tidur lagi, toh hari ini kamu libur kuliah By," Zen berusaha melanjutkan negosiasi.


Dengan rasa malas, karena tubuh yang terasa remuk dan juga rasa nyeri di bawah sana. Akhirnya Ruby menuruti ajakan Zen. Ajakan cepat-cepat membersihkan diri dan menjalankan ibadah. Catat.


"Gimana By mau bangun kalau tangan Mas masih nggak mau diam."


"Oh iya," Zen menjauhkan tangannya dari mainan barunya lalu membuka selimut yang menutupi tubuh Ruby.


"Mas ih, kenapa di bukan?" protes Ruby sambil meringkukkan tubuhnya.


"Nggak usah malu, aku malah lebih senang melihat mu seperti ini."


"Ngapian pake gendong-gendongan sih Mas. By bisa jalan sendiri," pekik Ruby saat tubuhnya tiba-tiba melayang ke udara.


"Ok!" Zen menurunkan Ruby dari gendongannya. "Ayo jalan."


"Awww ..." ringis Ruby saat melangkahkan satu kakinya.


"Masih mau jalan sendiri?"


"Inisiatif dong Mas." tuntut Ruby menahan malu karen sudah sok bisa jalan sendiri.


"Kamu harus membayar mahal inisiatif ku ini, By," ucap Zen. Lelaki itu langsung menggendong Ruby dan bergegas menuju kamar mandi.


Bersambung ...


Selamat malam dan selamat istirahat 🥰

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2