
"Mas."
"Hem."
"Mas sadar nggak sih, kalau sejak kemarin Vian kelihatan murung. Kaya bujangan habis di tolak mentah-mentah ungkapan cintanya," terang Reina menduga-duga.
"Tadi aku juga ngobrol sama anak itu. Tapi ngakunya cuma kangen sama suasana luar negeri."
"Kok aneh ya Mas. Kemarin waktu mau pulang ke Indonesia keliatan semangat 69 ken ..."
"45 sayang. Jangan bikin otak suami kamu ini ngeres."
"Keceplosan Mas. Lanjut, waktu kita mau pulang ke sini kan, dia yang paling semangat. Aku tadi juga sudah nanyain Vian, Mas. Tapi kok dia cuma bilang nggak apa-apa. Gitu tok Mas."
"Mungkin Vian belum ingin menceritakan semuanya Re. Lagi pula, dia sudah cukup dewasa. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri, nanti juga kalau buntu, pasti ngomong ke kita."
"Tapi anak itu punya masalah hidup apa Mas? Kerja juga enggak."
"Vian itu anak bujang kita, sayang. Siapa tahu saja masalah hidupnya karena di tolak seorang gadis," ucap Hendri santai.
"Ck. Gadis mana yang nolak anak kita, Mas? Vian ganteng gitu, kaya kamu."
"Mungkin bukan kalah ganteng sayang. Tapi kalah usaha," ucap Hendri begitu saja.
***
Huuufffttt ...
Dengan sengaja Yusuf meniup kedua mata Nissa yang nampak melamun.
"Ayy."
"Sedang memikirkan apa hem?" Yusuf mengambil buku yang Nissa pegang, lalu meletakkan diatas meja. Tentu Yusuf heran, Kedua tangan sang istri memegang buku. Tapi matanya terlihat melamun. Entah kemana pikiran sang istri melayang saat ini.
Nissa melihat Yusuf yang sedang menunggunya memberi jawaban. Nissa hanya bisa menghela nafas pelan. Mana mungkin Nissa mengatakan soal Vian. Apa lagi Nissa sudah janji kalau perasaan Vian ke Ruby, hanya akan menjadi rahasia mereka. Lagi pula, sejak kemarin Nissa sudah tidak melihat Vian mencuri-curi pandang ke arah Ruby. Hal itu membuat Nissa merasa sedikit lega.
"Aku bingung Ayy. Menu yang akan kita hidangkan untuk makan malam bersama besan apa sudah cocok ya."
"Ya Allah sayang. Hanya memikirkan makanan saja, kamu sampai bikin aku mikir aneh-aneh. Dengar, selera besan kita itu nggak jauh beda sama kita."
"Iya, kalian memang suka sama daun muda." cibir Nissa.
Mengingat usia Nissa dengan Yusuf berjarak 18 tahun. Sedangkan Zantisya dan Arjuno berjarak 10 tahun.
"Dan kalian sukanya sama duda duda gemes," goda Yusuf nggak mau kalah. Tangannya yang jahil, tentu saja mencolek dagu Nissa.
__ADS_1
***
"Kita pulang ke apartemen Mas?" tanya Ruby saat menyadari arah laju mobil yang di kemudikan Zen.
"He'em. Kita kangen-kangenan dulu di apartemen."
Seketika Ruby menoleh, dan menatap tajam suaminya. Mau kangen-kangenan seperti apa lagi, kalau setiap bertemu, Zen selalu nempel pada Ruby seperti cicak nempel di dinding.
"Jangan tajem-tajem menatap suami sendiri. Aku tahu kok kalau aku ini ganteng paripurna."
Ruby terkekeh, mengingat cerita tentang Zen saat masih kecil dari Nissa. Ruby jadi tidak bisa membayangkan bagaimana menggemaskannya Zen kecil yang tengil, super pede, dan pintar drama.
"Mas nggak kepengen gitu jadi artis, biar kepedean Mas itu tersalurkan."
"Nggak perlu jadi Artis juga, wartawan sudah mengejar-ngejar aku. Kalau aku rangkap jabatan jadi artis juga, bisa-bisa tidak ada aktor yang terkenal selain aku, yang."
"Ya Allah." Ruby hanya bisa nyebut. Kepedean Zen benar-benar melebihi batas maksimal.
***
Setelah Magrib, barulah Zen mengajak Ruby menuju rumah utama.
"Kok rumah ramai sekali ya Mas?" tanya Ruby saat memasuki rumah.
"Kabuuurrr ..." Teriak Arfan karena sedang di kejar Queen.
"Mas Zeeennn..." Teriak Arfan, semakin ngebut langkah larinya menuju Zen.
"Ayah sama Bunda kesini Mas?" tanya Ruby. Tiba-tiba saja wajahnya terlihat bahagia karena rasa rindu yang akan tersampaikan.
"Iya. Ayah sama bunda di sini."
Brug
Arfan dengan cepat lompat ke punggung Zen. "Udah Kak, Arfan udah nggak mau kejar-kejaran lagi."
"Halah ngomong saja kalah."
"Apanya yang kalah. Jelas kak Queen sejak tadi nggak bisa kejar Arfan."
Malas melihat perdebatan antara adik dan sahabatnya. Ruby lebih memilih menuju ke ruang keluarga.
"Bunda, Ayah."
Ruby memeluk Zantisya dan Arjuno bergantian, lalu duduk di antara kedua orang tuanya. "Ayah sama Bunda kesini. Ada acara apa?" tanya Ruby. Kedua orang tuanya itu setiap kali datang ke Jakarta, pasti karena ada undangan sebuah acara.
__ADS_1
"Ada undangan acara resepsi pernikahan."
Ruby mengangguk. "Loh tapi kok Safir sama Arfan ikut Yah?" tanyanya merasa aneh. Belum lagi, di sana juga terdapat keluarga Adam dan juga Amira. Membuat Ruby menatap keheranan.
"Sengaja Ayah ajak, biar mereka punya waktu untuk jalan-jalan."
Ruby semakin menatap aneh kearah Arjuno. Ayah Ruby yang selalu mengutamakan pendidikan, dan sekarang mengatakan hal liburan di saat belum waktunya libur. Tapi Ruby tidak ingin ambil pusing, yang terpenting adalah ia bisa bertemu kedua orang tuanya.
"Sudah sana, Salim sama yang lainnya," ucap Zantisya.
"Hai ayah mertua, i miss you," ucap Zen ingin memeluk Arjuno.
Tangan Arjuno langsung menahan kening Zen, agar Zen tidak jadi memeluknya. Membuat semua orang terkekeh melihat tingkah Zen dan Arjuno.
"Heh, bocah tengil. Dateng bukannya salam malah hai hai."
"Salam tadi sudah kok, yang belum itu salim Yah."
"Bisa-bisanya, bersikap seperti anak kecil dan tidak sopan dengan mertuanya sendiri," batin Vian saat melihat cara interaksi Zen pada Arjuno. "Apa aku harus seperti itu juga," lanjut kata hati Vian.
Arjuno langsung mengajak bersalaman. Setelah itu, Zen menghambur ke pelukan Arjuno. "Kangen banget sama rival larinya Zen," ucap Zen pelan.
"Kamu ini Zen, sudah nikah kelakuan mu masih saja kaya bocah."
"Biar di kata bocah tapi Zen pintar buat bocah loh Ayah."
Arjuno mendelik. Bisa-bisanya menantunya ini mengatakan hal demikian. Arjuno hanya tertawa pelan sambil menepuk punggung Zen cukup keras.
Zen hanya bisa meringis, menyadari ucapannya terlalu melantur dan kini berakhir sebuah pukulan.
Malam ini, rumah Yusuf dan Nissa di ramaikan dengan berkumpulnya semua keluarga. Setelah saling bertegur sapa dan berbincang. Semua orang langsung menikmati hidangan makan malam.
Banyak menu yang tersedia di atas meja. Ada ayam bakar, ikan bakar, berbagai lalapan, beberapa jenis sambal, tumis sayuran, sea food, dan masih banyak lagi.
mereka terus menikmati semua menu sambil saling berbincang.
"Safir tolong sambal itu nak, Ayah ingin coba," tunjuk Arjuno pada mangkuk kecil di dekat Vian.
Dengan gerakan cepat, Vian mengulurkan mangkuk sambal pada Arjuno.
"Terimakasih nak."
Vian tersenyum ramah. "Sama-sama, Om."
Bersambung ...
__ADS_1
Beberapa bab lagi puncak penyelesaian 😣 mumet aku nulis yang bikin darting 🤣
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️