Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 114 JANJI JANGAN MARAH!


__ADS_3

Setelah Zen mendapat kabar dari Nina, kalau kaki Ruby terkilir, lelaki itu jelas saja langsung memilih untuk segera pulang.


Zen langsung keluar dari mobil dan bergegas memasuki rumah, ketika mobil sudah sampai di depan rumah.


"By," panggilnya saat sampai di ruang keluarga. "Bagaimana keadaan mu? Kaki mana yang terkilir? Apa sudah di obati?" tanya Zen beruntun setelah duduk jongkok di dekat Ruby.


"Sudah enakan kok Mas. Tadi habis di pijati sama si Mbok."


Zen menatap semua orang yang ada di sana. Entah kenapa Zen merasa aneh dengan ekspresi semua orang saat ini. Yang di pikirkan Zen adalah, mungkin saja mereka terlalu khawatir dengan keadaan Ruby.


"Ajak ke kamar saja Ruby, Zen. Biar Ruby bisa istirahat dengan nyaman," ucap Nissa.


Zen kembali mengamati wajah Nissa. "Nda kenapa?" tanyanya saat menyadari kedua mata Nissa memerah.


"Nggak apa-apa, Nda hanya kurang istirahat tadi. Sudah sana, bawa By ke kamar."


Meskipun Zen tidak percaya dengan jawaban Nissa. Namun, Zen tidak melanjutkan rasa ingin tahunya. Karena saat ini Zen harus membawa Ruby ke kamar.


"Kita pulang ke apartemen saja ya Mas," bisik Ruby saat Zen siap mengangkat tubuh sang istri.


Aneh, mungkin itu yang di pikirkan Zen saat ini. Hatinya penuh tanya kenapa Ruby mengajaknya pulang ke apartemen.


Zen memilih untuk tidak banyak bertanya. Ia berpamitan pada semua orang karena ia ingin mengajak Ruby pulang ke apartemen saja.


"Kamu tadi kepeleset di mana sayang?" tanya Zen sambil mengemudikan mobilnya.


"Di tangga, Mas."


"Tangga mana?"


"Tangga menuju lantai dasar."


Zen melirik wajah Ruby. Melihat ekspresi sang istri yang nampak ragu-ragu menyampaikan sesuatu.


Zen menekan tombol aerphone yang terpasang di telinganya, saat ada panggilan masuk.


"Laporan pak," ucap Nina cepat di seberang sana.


"Halo. Bagaimana keadaan situasi tadi, Pak?" tanya Zen berpura-pura, karena Zen tahu, Nina memintanya untuk sandiwara.


"Ibu Ruby tadi terpeleset di tangga dasar, karena di kejar Mas Vian, pak."


"Hah."


Seketika Zen mencengkram kuat kemudinya. Namun, Zen harus tetap fokus karena begitu banyak lalu lalang kendaraan.


"Hanya itu yang bisa saya laporkan Pak."

__ADS_1


***


"Mas coba ajak ngomong baik-baik si Vian itu Mas. Aku yang ngajak ngomong anak itu, malah bawaan ku emosi terus," ucap Reina yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Sebenarnya ada apa toh Re?" siapa yang tidak bingung, baru saja Hendri pulang dan mendapati sang istri yang uring-uringan.


"Aku juga nggak tahu Mas. Waktu aku pulang tadi ..." Reina menceritakan apa yang bisa ia lihat saja. "Aku tadi sudah tanya sama Nda, tapi Nda gak mau cerita apa-apa, Mas. Aku takut Vian tadi ngapa-ngapain Maira. Aku mau tanya Maira juga, gak tega waktu lihat wajahnya."


Mendengar cerita sang istri, membuat Hendri penasaran dan langsung menuju kamar Vian.


***


"Sejak aku pulang, kenapa istri ku ini kelihatan melamun terus?" tanya Yusuf setelah naik ke atas ranjang. "Loh lah kok nangis kenapa sayang?" Yusuf langsung membawa Nissa kedalam pelukannya.


Sejak tadi, Nissa terus kepikiran dengan ucapan Vian. Hatinya masih terasa sakit meski Nissa berusaha mengabaikan ucapan itu.


"Ayy, apa aku tidak adil dalam memberikan kasih sayang ku ke anak-anak?" tanya Nissa setelah tangisnya terkendali.


"Kenapa sayang tanya seperti itu?"


"Apa aku lebih sayang ke Zen dari pada Rere?"


Yusuf mengusap air mata Nissa yang masih jatuh. "Orang yang melihat juga jelas sayang lebih pro ke Rere dari pada ke Zen. Tapi, selama ini anak itu tidak pernah komplain apapun. Artinya kasih sayang yang sudah kita berikan ke anak-anak kita sudah sesuai porsinya. Coba cerita sama aku, ada masalah apa kok sayang menangis seperti ini?"


Nissa menggelengkan kepalanya. "Aku hanya terlalu terbawa perasaan, saat menonton drama Ayy," dengan terpaksa Nissa memilih untuk tidak menceritakan semuanya.


***


"Mas, By bisa jalan sendiri."


"Kaki kamu masih sakit yang," ucap Zen tenang. Sejujurnya Zen sudah ingin mengajukan banyak pertanyaan. Namun, Zen menunggu kejujuran sang istri.


"Kalau banyak jalan pasti akan cepat sembuh, Mas."


"Bukan banyak jalan sayang. Tapi kamu bisa jalan sebentar-sebentar untuk latihan. Kalau kebanyakan jalan bukannya sembuh malah sakit."


"Benar juga, ya Mas."


"Aku ambil beberapa berkas yang tertinggal di mobil dulu. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" tanya Zen setelah merebahkan tubuh Ruby di atas ranjang.


"Jangan lama-lama ya Mas."


"Kenapa nggak boleh lama-lama? Mau kasih aku jatah ya?" goda Zen sambil mencolek dagu Ruby.


"Mas mau minta jatah di saat kaki By sakit kaya gini?" tanyanya memelas.


Zen terkekeh. "Aku ke mobil dulu ya.

__ADS_1


Zen langsung keluar dari dalam kamar. Bukan mobil yang ia tuju sebenarnya, tapi ruang televisi.


Sudah sejak tadi, Zen menunggu rekaman CCTV hari ini untuk di kirim ke ponselnya. Zen harus melihat sendiri apa yang terjadi antara Ruby dan Vian di jam-jam saat sang istri di antar pulang oleh Nina.


Emosi Zen seketika memuncak hingga ke ubun-ubun, saat melihat kejadian dari awal Vian ikut masuk ke dalam lift, sampai dimana terlihat percekcokan antara Nissa, Vian, dan Reina.


"Kamu sudah melewati batas mu Vian," geram Zen sambil mengepalkan tangannya erat.


Sekalipun Vian menyentuh Ruby tidak langsung kulit ke kulit, tetap saja Zen tidak terima dengan perlakuan Vian terhadap istrinya.


"Kenapa sejak tadi kamu tidak mengatakan apapun pada ku, By."


Ada rasa kecewa di hati Zen terhadap Ruby. Namun, Zen harus bersabar karena Zen yakin Ruby akan mengatakan semuanya yang terjadi hari ini.


Zen mencoba menetralkan kembali wajahnya agar terlihat seperti biasanya. Ia harus segera kembali ke dalam kamar, karena sudah cukup lama Zen meninggalkan Ruby di dalam kamar.


"Belum tidur?" tanya Zen setelah memasuki kamar. Ia merangkak naik keatas ranjang dan membawa Ruby ke dalam pelukannya.


"Gimana mau tidur kalau Mas belum kembali ke kamar?" tanya Ruby manja.


"Candu ya sama pelukan aku?"


"Isss, yang ada itu Mas yang nggak bisa tidur kalau belum peluk By," elaknya.


"True."


"Kenapa detak jantung Mas cepat sekali?" Ruby meraba dada Zen. Lalu mendaratkan telinganya tepat di mana letak detak jantung Zen berada.


"Gerakan tangan kamu yang bikin detak jantung ku bergemuruh," bohong Zen.


"Mas."


"Hem."


"By inging menceritakan sesuatu yang seharusnya sudah lama By ceritakan ke Mas. Tapi By takut ..."


"Ceritakan saja. Kenapa harus takut."


"Tapi Mas janji jangan marah sama By ya."


"Aku tidak akan marah sayang. Justru aku senang kalau istri ku tidak menyembunyikan sesuatu dari ku."


"Emmm ini soal Kak Vian," ucap Ruby ragu-ragu.


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2