
"Ayo kita cerai saja Om!"
Kata keramat yang tidak pernah terlintas di pikiran Zen, kini satu kata itu seolah mampu menghentikan kinerja jantung Zen. Nafas Zen rasanya berhenti dan berkumpul menyesakkan rongga dada. Kedua tangan Zen mengepel erat.
Zen menarik nafas dalam. Mencoba menentramkan dirinya sendiri. Zen sepenuhnya sadar, kemarahan Ruby saat ini akibat dari tindakannya sendiri.
"Boleh aku boleh tahu, apa alasan mu mengatakan hal itu?"
Ruby berpikir cepat. Mana mungkin Ruby mengatakan kalau dirinya kesal terhadap Zen, Karena selama di Jakarta, lelaki itu tidak sekalipun memberi kabar. Sedangkan Ruby menunggu Zen setiap hari. Mana mungkin Ruby jujur kalau dirinya marah karena melihat berita Zen sedang dinner bersama perempuan, yang Ruby kira namanya Sabila.
"Karena kejadian malam itu sama sekali tidak terjadi apapun di antara kita kan? Aku nggak hamil, jadi pernikahan ini tidak perlu di lanjutkan lagi."
Zen tersenyum mendengar penuturan perempuan yang setiap hari membuatnya menahan rasa rindu. "Jadi kalau kamu hamil, kamu akan meminta pertanggung jawaban ku?"
"Tentu saja. Tapi karen gak terjadi apapun malam itu dan aku nggak hamil, Om nggak perlu tanggung jawab seperti ini."
"Lalu bagaimana dengan setiap malam yang kita habiskan bersama sebelum aku pergi ke Jakarta By?"
Wajah Ruby seketika memerah panik saat mengingat bagaimana pelukan hangat Zen yang sangat ia rindukan, dan satu ciuman yang mereka lakukan pagi itu. Tapi Ruby berusaha menepis rasa itu.
"Yang terpenting, Aku masih gadis, Ruby masih perawan."
__ADS_1
Zen manggut-manggut. "Ah benar juga. Kamu masih perawan ya," Zen menatap dalam wajah Ruby sambil melangkah mendekati.
"O-om mau apa?" tanya Ruby sambil melangkah mundur. Ruby mulai terlihat panik karena raut wajah Zen terlihat berubah saat ini.
Langkah mundur Ruby terhenti saat ke dua kakinya tertahan oleh ranjang. "Om mau apa sebenarnya?" tanya Ruby terduduk di tepi ranjang, saat Zen sudah benar-benar dekat dengannya.
"Menurut kamu, aku mau apa?"
Ruby langsung memundurkan kepalanya saat Zen mendekatkan wajahnya ke arah Ruby. Semakin dekat sampai Ruby tertidur di atas ranjang, dan Zen langsung mengunci pergerakan istrinya itu.
"O-om jangan macam-macam sama Ruby!" todong Ruby panik.
"Tapi aku kan masih mau kuliah."
"Saat kuliah juga gak ada salahnya macam-macam. Apalagi sampai hamil, kan sudah punya pasangan sah."
Ruby mendorong dada Zen agar mereka berjarak, bukannya membuat celah, Zen semakin merapatkan tubuh mereka.
"Aku ini jago taekwondo loh Om," ucap Ruby memberi tahu.
"Sudah megang sabuk warna apa?" tanya Zen malah mengajak ngobrol.
__ADS_1
"Warna hijau," ucap Ruby bangga.
Zen terkekeh geli. "Sayangnya aku sudah sampai sabuk hitam, istri ku."
Tentu saja Ruby langsung sadar, tidak mudah baginya untuk mengalahkan Zen dengan mudah. "Sebenarnya, Om ini mau apa sih?" Ruby masih berusaha mendorong tubuh Zen dari atas tubuhnya. Hal seperti ini benar-benar membuat seluruh tubuh Ruby menegang.
"Mau merawanin istri ku ini biar cepat hamil. Agar bibir ini tidak sembarangan berucap," ucap Zen sambil mengusap bibir Ruby. Rasanya Zen ingin sekali menyesap benda menggiurkan itu, sekaligus mengulang kembali adegan manis pagi yang sudah berlalu lama.
Desiran raga Ruby semakin membuat tubuhnya seolah tersengat aliran listrik dengan tegangan tinggi. Perpaduan hembusan nafas keduanya membuat detak jantung Ruby semakin bertalu-talu.
"O-om jangan macam-macam ya sama By," ucapnya karena merasa terancam. "By teriak nih."
"Teriak saja. Aku izinkan kamu teriak sekencang-kencangnya," tangan Zen mengusap wajah Ruby, membuat gadis itu membuang muka agar Zen tidak menyentuhnya. "Apa kamu pikir, Ayah dan Bunda akan menolong mu. Apalagi saat ini, kamu di dalam kamar bersama ku."
"Awas ih Om," usir Ruby mendorong Zen sekuat tenaga.
"Nggak mau. Kan kita harus buat anak," tutur Zen menggoda Ruby.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1