Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 75 APA PERLU MENGATAKANNYA?


__ADS_3

Waktu sudah hampir sore, Ruby bergegas menuju kamar untuk merebahkan tubuhnya, setelah Nissa meningkatkan apartemen.


"Padahal dari tadi hanya mandorin Nda masak, tapi kenapa rasanya badan pegel semua."


Ruby memejamkan mata. Tiba-tiba saja kedua matanya terasa begitu mengantuk. "Mandi dulu ah, setelah itu tidur bentar."


Ruby beranjak dari ranjang, kemudian menuju kamar mandi. Ruby berdiri di depan kaca mengamati wajahnya yang sudah mengantuk.


Seketika mata Ruby melebar, menghilangkan rasa kantuk yang mendera. "Aaa ..." teriakan Ruby seketika menggema di dalam kamar mandi saat kedua mata Ruby mengamati lehernya yang terekspos.


"Ya Allah memalukan sekali," Ruby menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Mengingat sejak tadi pagi , Ruby terus menggelung rambutnya tanpa menggunakan jilbab.


"Pantas saja Nda tadi tercengang. Pasti Nda melihat semuanya," ungkap Ruby frustasi karena sudah dapat di pastikan, Nissa melihat jejak yang telah di buat Zen.


Ruby merengek sampai mengeluarkan air mata karena terlalu malu dengan dirinya sendiri yang terlalu ceroboh.


"Bagaimana aku bisa bertemu Nda lagi kalau seperti ini," Ruby menghentak-hentakkan kedua kakinya karena terlalu kesal pada diri sendiri.


"Ruby bodoh," umpat Ruby pada dirinya sendiri.


Tidak ingin kalut dengan perasaan yang begitu memalukan, Ruby bergegas untuk membersihkan diri kemudian segera tidur. Berharap hal memalukan hari ini dapat Ruby lupakan begitu bangun dari tidurnya.


Zen sampai ke apartemen tepat pukul 19.30 WIB. Lelaki yang seharian berada di kantor, penat dengan urusan yang begitu banyak. Zen langsung tersenyum begitu melihat Ruby yang menyambutnya pulang kerja.


"Kangen ya?" tanya Zen sambil memeluk Ruby.


"Yang kangen itu sebenarnya siapa?" balas tanya Ruby, sambil membalas pelukan Zen.


Perbedaan tinggi tubuh yang sangat jomplang, membuat Zen memilih untuk menggendong Ruby, lalu mendaratkan tubuhnya di sofa. mencari posisi yang pas untuk saling berpelukan dengan rasa nyaman.


"Kamu pendek sekali sih by," ejek Zen sambil mempererat pelukannya.


"Jangan ngejek ya Mas, gini-gini Ruby masih dalam masa pertumbuhan. Jadi masih ada kemungkinan besar kalau Ruby akan bertambah tinggi."

__ADS_1


"Mau aku bantu nambahin masa pertumbuhan kamu nggak?"


Ruby menautkan dua alisnya karena merasa tidak paham dengan ucapan Zen. "Seperti apa?"


"Seperti yang tadi pagi."


"Hiiisss, mandi sana Mas."


Bukannya beranjak, Zen malah semakin membelitkan kedua tangannya pada tubuh Ruby. "Badan kamu wangi sekali By," ucap Zen pelan sambil mencium leher Ruby yang banyak jejak karyanya.


Perlakuan Zen semakin membuat Ruby tahan napas. "Namanya juga sudah mandi sudah pakai parfum tentu saja By wangi,"


"Mandi lagi yuk?"


"Jangan modusin By terus ya Mas, cepat mandi sana, sudah lapar ini."


Setelah selesai membersihkan diri, dan berganti baju. Zen dan Ruby bergegas turun untuk segera makan malam.


"Nda tadi ke sini jadi, Nda yang masak ini semua. By cuma memandori Nda," ungkap Ruby jujur tanpa malu-malu.


Mendengar Ruby menyebut Nissa, membuat Zen harus membayar mahal apa yang telah dilakukan Nisa untuknya. Hingga sekarang Zen bisa menjadi suami yang benar-benar sempurna.


"Maafkan anak mu ini Nda yang telah melupakanmu karena keenakan."


Setelah selesai makan malam, Zen dan Ruby duduk di ruang televisi. Tangan Zen terus mengusap puncak kepala Ruby yang tidur di pangkuannya.


"Mau ngapain Mas?" tanya Ruby sambil mencengkram pergelangan tangan Zen yang akan menyusup masuk ke dalam bajunya.


Bukannya menjawab, Zen malah cengengesan tanpa dosa dan melanjutkan aksinya.


"Ada yang nelpon itu lo Mas."


Zen menarik tangannya lalu menyambar ponsel di atas meja. "Vian," gumamnya.

__ADS_1


Jari Zen menggeser icon berwarna hijau, menerima panggilan video call dari Alvian yang ada di luar negeri. "Hai."


"Hai Om."


"Tumben telfon Om?"


"Hih memangnya nggak boleh telfon Om sendiri. Emmm ... Apa aku ganggu Om sama istri Om?"


Vian jelas tahu kalau Zen sudah menikah, tapi yang belum tahu siapa perempuan yang di nikahin Zen. Karena tidak ada yang mengirim foto pernikahan Zen dan Ruby pada Vian.


Tangan Zen mengusap wajah Ruby dan menatapnya sejenak. "Nggak ganggu kok. Jadi kapan kamu wisuda?"


"Pertengahan bulan depan Om. Kalau senggang Om datang ya sama Mama, Papa."


"Om nggak janji ya? Tapi akan Om usahakan."


"Aku tunggu loh Om. Tapi kalau pun nggak bisa datang, aku nggak masalah. Om kan memang sibuk di sana," tutur Vian pengertian.


"Setelah itu, kapan kamu pulang ke Indonesia?"


"Secepatnya Om. Aku juga sudah sangat ingin pulang ke Indonesia," Vian tersenyum malu-malu. "Aku juga ingin segera menemui seseorang."


"Sudah punya pacar nih ceritanya?"


"Doa kan dia menerima aku nanti ya Om?"


"Om pasti doakan yang terbaik buat kamu."


"Yang di maksud Kak Vian bukan aku kan?" tanya hati Ruby karena fokus mendengarkan obrolan Zen dan Vian. "Apa aku perlu mengatakannya?" lanjut batin Ruby.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2