Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 47 MENGAKHIRI TIGA PERMINTAAN


__ADS_3

"By ..."


Ruby yang menatap kesal ke arah Zen, hendak pergi meninggalkan ruang tamu. Berfikir karena tidak ingin mengganggu keseruan lelaki dewasa di sana. Namun, langkah Ruby terhenti saat Zen memanggilnya.


"Kenapa Om?" tanya Ruby setelah balik badan menatap dua orang di sana.


"Hahaha ... Pak bos di panggil Om sama istri sendiri," ejek Alan.


"Diam kamu," Zen meninju lengan tangan Alan. "Biasanya juga salim," ucap Zen mengingatkan Ruby.


"Takut ganggu tadi," sindir Ruby dengan raut wajah kesal. Tapi kakinya melangkah mendekati Zen, seperti biasanya Ruby mencium punggung tangan Zen sebelum berangkat sekolah ataupun saat pulang sekolah.


Tanpa permisi Alan menyodorkan tangannya berniat mengajak berkenalan. "Alan, sekertaris Om Zen,"


Plak


Dengan cepat Zen memukul tangan Alan. Mana mungkin Zen mengizinkan Alan menyentuh Ruby secara langsung walau itu untuk bersalaman.


"Kenalan tinggal kenalan, nggak usah pake salam-salaman."


"Ruby Pak."


"Hahaha ..." tawa Zen seketika menggelegar saat Alan di panggil Pak oleh Ruby. Membuat Alan berwajah kecut mendengarnya.


"Nyonya Zen yang terhormat, Apa saya terlihat setua itu sampai di panggil Pak?" protes Alan.


Sedangkan Ruby, hanya menahan senyum karena telah membuat Alan kesal.


"Sudah cepat ke kamar sana By, sesi perkenalan sudah selesai," ucap Zen karena tidak ingin Alan terpesona dengan kecantikan sang istri.


"Ok. Ruby juga nggak mau mengganggu waktu kalian berdua, have fun ya," sindir Ruby karena merasa Zen terganggu dengan kedatangannya.


Alan hanya bisa tercengang melihat kepergian Ruby dari ruang tamu. "Jangan bilang Ruby mengira kalau Pak Bos itu g*ay?" tebak Alan. "Hahaha ..." Alan seketika menertawakan Zen sampai terpingkal-pingkal, hingga perutnya terasa linu, saat Zen membenarkan tebakannya.

__ADS_1


.


.


.


Beberapa hari kemudian, Hubungan Zen dan Ruby semakin dekat karena perdebatan kecil yang selalu mereka lakukan.


Cercaan Ruby yang malah membuat Zen senang mendengarnya. Bahkan, Zen sampai ingin sekali menggigit bibir Ruby karena rasa gemasnya dengan kecerewetan yang Ruby miliki.


Ruby juga sudah mulai terbiasa dengan tiga permintaan yang di ajukan Zen. Walau masih terdapat komplainan Ruby di sela-sela pelukan dan ciuman pipi yang mereka lakukan.


Pukul 02.15 Wib, ke dua mata Ruby mengerjap pelan karena mulai terjaga. Ruby melirik Zen yang masih nampak lelap. Gadis itu bergegas turun dari ranjang setelah melihat jam yang ada di ponselnya.


Ruby bergegas mengambil alat solat setelah selesai dari kamar mandi.


"Tunggu aku," bisik Zen sambil menggenggam pundak Ruby, saat gadis itu baru saja akan mengangkat kedua tangan. "Kita solat berjamaah."


Zen bergegas menuju kamar mandi. Tak lama, lelaki itu sudah kembali. Mereka berdua bergegas mengatur posisi untuk menjalankan solat malam, berjamaah.


Setelah selesai melakukan solat sunah dan memanjatkan doa, Zen balik badan mengubah posisi duduknya. Ruby langsung mencium punggung tangan Zen.


Siapa yang menduga, jika setelah Ruby mengangkat wajahnya, Zen langsung mencondongkan tubuhnya mencium puncak kepala Ruby.


Spontan ke dua mata Ruby terpejam menikmati momen yang begitu mendebarkan.


"Apakah lelaki seperti ini benar-benar lelaki yang abnormal?" batin Ruby. Mengingat Zen selalu ke masjid bersama Ayah dan ke dua adiknya. Dan sekarang, untuk pertama kalinya mereka berdua bersujud pada sang pencipta secara berjamaah.


"Tapi solat adalah kewajiban semua orang Islam. Ini masalah orientasi se**ksu*al yang menyimpang," batin Ruby masih belum berpikir positif.


Zen tersenyum melihat Ruby yang masih memejamkan mata. Dengan sengaja Zen mencium hidung Ruby dan seketika itu, kedua mata Ruby langsung terbuka lebar.


"Om ngapain sih cium hidung aku?"

__ADS_1


"Aku pikir kamu tadi tertidur," jawab Zen santai sambil meletakkan peci nya di atas meja lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Berarti, Om tidak dapat ciuman pipi dari aku karena Om sudah cium hidung aku," tuntut Ruby sambil mengambil jilbabnya. Menggunakan jilbab bersamaan dengan melepas alat sholatnya.


"Aku tetap meminta untuk yang terakhir kali, mengakhiri tiga permintaan ku."


.


.


.


"Om mau kemana?" tanya Ruby menatap aneh Zen. Ruby kembali ke kamar untuk mengambil bukunya yang tertinggal.


"Antar kalian sekolah," jawab Zen santai.


Ruby memicingkan matanya penuh telisik. "Biasanya Om antar kita sekolah nggak serapih ini?"


"Aku punya istri yang harus aku nafkahi, jadi aku harus bekerja. Oh iya aku sudah transfer uang ke rekening yang kamu bawa, itu untuk beberapa bulan ke depan. Kalau kurang, bilang saja."


Ruby semakin menatap aneh. "Ngapain Om transfer uang ke aku. Aku punya uang sendiri, uang ku banyak kok dari hasil kerja ku sendiri," tutur Ruby.


Zen yang sejak tadi masih berdiri di depan cermin melihat pantulan tubuhnya yang sudah nampak rapih dan ganteng, lelaki itu langsung berjalan mendekati Ruby. "Uang kamu simpan untuk tabungan kamu By. Gunakan uang yang sudah aku kirim untuk semua kebutuhan kamu," Zen mengusap pipi Ruby. "Kamu istri ku, jadi sudah kewajiban ku memenuhi kebutuhan kamu. Ayo turun, kita sarapan lalu aku antar sekolah," Zen langsung keluar kamar lebih dulu.


Tangan Ruby menyentuh pipinya yang telah di sentuh Zen barusan. Membuat Ruby jadi terhanyut dengan pikirannya sendiri.


"Dasar Om Om. Bisa-bisanya bikin aku deg-degan," gerutu Ruby. Gadis itu bergegas mengambil buku lalu segera turun.


Bersambung ...


Perlu ku ingatkan sekali lagi ya 😀 ini bukan novel religi jadi jangan kecewa kalau jari ku mulai khilaf 🙏😣


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2