Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 81 TAKSI ONLINE


__ADS_3

Ruby langsung melihat kearah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Kedua mata Ruby membulat saat melihat orang yang baru saja memasuki ruang kerja suaminya.


"Kamu ..." gumam Ruby pelan.


Sangat tidak di sangka-sangka Ruby melihat perempuan yang menjadi bahan pembicaraan di media, perihal dinner romantis yang dilakukannya bersama Zen.


"Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke ruang kerja ini?" batin Ruby curiga.


Ruby menatap penuh telisik pada perempuan yang memiliki postur tubuh tinggi, ramping, berkulit putih dan rambut yang menjuntai panjang.


"Jadi ini Ruby istrinya Zen? Akhirnya bisa bertemu dengannya. Pantas saja Zen bucin abis sama Ruby, orang Ruby nya cantik, mungil, dan menggemaskan seperti ini," batin Nabila. Tangannya bergerak cepat mengambil ponselnya. Dengan lincahnya jari Nabila bergerak bebas di layar ponsel untuk menelpon seseorang. "Kerjain dikit ah ..." Nabila mulai iseng, dan melangkah mendekati Ruby setelah panggilan suaranya di terima.


"Siapa kamu?" tanya Ruby dan Nabila bersamaan.


"Kamu yang siapa Mbak, kenapa bisa masuk ke ruangan ini?" tanya Ruby menatap tajam perempuan yang nampak begitu santai.


"Tentu saja aku bisa masuk secara bebas kesini," Nabila dengan sengaja menunjukkan card ruang kerja Zen. "Apa kamu tidak tahu siapa aku?" tanyanya sambil menyibak rambutnya yang panjang.


"Makannya aku tanya kamu siapa, karena aku nggak tahu siapa kamu," Ruby semakin kesal dengan perempuan di depannya itu.


"Aku Nabila, teman dekat Zen. Kamu siapa? Berani sekali kamu duduk di kursi itu."


"Si*al!" umpat Zen yang sejak tadi mendengar obrolan Ruby dan Nabila, setelah menerima panggilan suara dari Nabila.

__ADS_1


"Kenapa Bos?" tanya Alan yang ikut beranjak dari sana, mengikuti langkah lari Zen.


"Nabila koplak. Tak cabut saham ku, klau sampai istri ku salah paham," Zen lari menaiki dua kali tangga darurat untuk cepat sampai di ruangannya.


Ruby semakin kesal mendengar ucapan perempuan yang bernama Nabila. "Mbak tanya sendiri sama lelaki yang memiliki ruangan ini, siapa aku."


Ruby meletakkan kembali ponsel jadul Zen ke dalam laci. Lalu beranjak dari kursi kerja Zen, untuk bergegas keluar dari ruang kerja suaminya.


"Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan mu, Ruby Al Humaira."


Ruby langsung menghentikan langkah kakinya saat Nabila menyebut nama lengkapnya.


Klek


Ruby dan Nabila melihat ke arah pintu. Menampilkan Zen yang baru saja masuk di susul Alan yang mengikuti Zen.


Nabila mengulas senyum. "Maaf ya By, Aku hanya bercanda saja."


Ruby menatap tidak suka uluran tangan Nabila yang mengajarkannya berjabat tangan.


"Mbak tahu, becandaan mbak sama sekali nggak lucu," Ruby menatap tajam wajah Nabila. "Bagaimana kalau aku salah paham dan bikin aku marah sama suami aku?"


Nabila menarik tangannya yang mengambang di udara. Menyadari sikapnya yang kekanakan karena dengan sengaja mengerjai Ruby.

__ADS_1


"Aku sadar aku salah By," Nabila tersenyum canggung membalas tatapan mata Ruby. "Aku minta maaf sekali lagi. Di pertemuan sebelumnya, semoga kamu sudah memaafkan aku dan kita menjalin hubungan dengan baik."


Nabila meletakkan card diatas meja, lalu mengambil berkas yang tertinggal di sana. "Ruby, Zen. Aku permisi. Nabila menatap Alan tak terbaca lalu bergegas pergi dari sana.


Zen memberikan kode pada Alan untuk mengejar Nabila. Zen tahu Nabila menyukai Alan, hanya saja Alan yang tidak peka dengan tatapan berbeda dari Nabila.


"Aku senang kamu kesini sayang."


"Stop Mas," tangan Zen hanya mengambang di udara saat akan memeluk Ruby. "Apa Mas sudah biasa membiarkan perempuan lain, sembarang masuk ke tempat ini?"


"Enggak sayang. Yang pegang card ruangan ini hanya aku dan Alan. Nabila ku pinjami card karena tadi dia sedang salah paham dengan Alan. Sedangkan passwordnya yang tahu hanya aku," Zen terdiam memikirkan sesuatu. "Kamu kok bisa tahu password pintu ruangan ini.


"Tahu lah. Mudah banget ketebak," Ruby menahan sebuah senyuman agar wajahnya tetap terlihat sedang marah. "Maaasss ..." Ruby terkejut saat merasakan tubuhnya melayang di udara. Dan kini tubuhnya sudah mendarah di pangkuan Zen.


"Aku seneng banget kamu kesini sayang," Zen memeluk erat Ruby.


"Masa?"


"Seharian ini aku kepikiran kamu terus." Ruby mengulas sebuah senyuman dan membalas pelukan Zen. "Kamu tadi kesini di ajak Nina atau ide kamu sendiri?"


"Jelas ide By sendiri lah Mas. Kan By kesini naik taksi online."


"Apa? Taksi online?" ulang Zen tidak percaya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2